[Kabar] Aktivis: Kalau Sistem Pemerintahan Suriah Buruk, Ganti Pemimpin Saja Tidak Cukup

[Kabar] Aktivis: Kalau Sistem Pemerintahan Suriah Buruk, Ganti Pemimpin Saja Tidak Cukup

Muslimah News, INTERNASIONAL — Dalam wawancara dengan The Economist, Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa berkata, “Jika para ahli menyetujui syariat, tugas saya adalah menerapkannya. Jika mereka tidak menyetujuinya, maka tugas saya adalah menerapkan keputusan mereka.”

Tidak Cukup

Menyikapi hal tersebut, aktivis muslim Turki Yılmaz Çelik mengibaratkan dengan ungkapan yang masyhur dalam bahasa Arab, “Kalau kuahnya asin, ganti sendok saja tidak akan berhasil”, yang artinya, kalau sistem pemerintahan Suriah buruk, yakni masih menggunakan sistem kufur, bukan sistem Islam, maka ganti pemimpin saja tidak cukup dalam membawa perubahan yang hakiki.

“Solusi dangkal atau sementara tanpa menyentuh akar permasalahan, tidak akan efektif dan tidak ada artinya. Jika faktor utama penyebab rasa asin pada sup tidak dihilangkan, mengganti sendok tidak akan ada gunanya. Ungkapan ini menekankan kesia-siaan mengambil jalan pintas dibandingkan menyelesaikan masalah secara langsung,” jelasnya kepada Kantor Berita ideologis internasional, Kamis (13-2-2025).

Hal tersebut, katanya, menjelaskan bahwa mengabaikan masalah yang tampak nyata dan membuang-buang waktu dengan tindakan pragmatis hanya akan membuang-buang waktu dan mengalihkan perhatian dari akar masalah dan solusi utama. “Intervensi apa pun tanpa perubahan yang permanen dan fundamental hanya akan menciptakan ilusi. Selain itu, akan menghalangi penyelesaian masalah yang sebenarnya,” paparnya.

Sejak jatuhnya Khilafah, lanjutnya, partai-partai politik telah didirikan berkali-kali di negeri-negeri muslim, pemerintahan dan pemimpin telah berubah, tetapi masalah struktural yang mendasar tetap ada dan menjadi kronis. “Mengganti pemimpin ibarat mengganti sendok, tetapi selama supnya tetap sistem sekuler kapitalisme demokrasi, permasalahan akan terus berlanjut. Perubahan nyata tidak akan mungkin terjadi hanya dengan mengubah pemimpin, tetapi juga dengan melakukan transformasi fundamental menuju penerapan sistem (Islam yang menyeluruh),” jelasnya.

Ia menerangkan, daripada mendukung sistem non-Islam (kufur) yang gagal memecahkan masalah, tidak bisa menerapkan hukum Islam, dan menghabiskan seluruh kekuatan mereka untuk memenangkan kaum kafir kolonial, maka umat Islam sekarang harus mengambil tindakan untuk mengubah sistem tersebut. “Hal ini dimungkinkan dengan melakukan perjuangan politik dan intelektual untuk menegakkan Khilafah, yang merupakan satu-satunya sistem pemerintahan Islam. Agar mereka bisa meminum sup, yakni sistem Islam, maka umat Islam harus menegakkan khilafah. Dengan demikian, mereka tidak perlu lagi mengganti sendok,” tegasnya.

Berjuang

Yilmaz menjelaskan, selama bertahun-tahun, umat Islam di Suriah telah berjuang dengan pengorbanan besar untuk menggulingkan rezim sekuler Bashar al-Assad. “Mereka menyerahkan nyawa, harta benda, dan anak-anak mereka. Namun, apa yang berubah? Hanya sendoknya yang berubah. Rezim ini tetap ada, dan elemen-elemen penting di dalamnya tetap ada. Syariat Islam tidak diterapkan dan sepertinya tidak mungkin untuk diterapkan,” bebernya.

Ia menyampaikan, dalam sebuah wawancara dengan The Economist, Ahmed al-Sharaa berkata, “Jika para ahli menyetujui syariat, maka tugas saya adalah menerapkannya. Jika mereka tidak menyetujuinya, maka tugas saya adalah melaksanakan keputusan mereka.” Hal itu, lanjut Yilmaz, telah mengungkap kebenarannya.

Sekali lagi, ungkapnya, dalam wawancara eksklusif dengan televisi Suriah, Al-Sharaa membuat pernyataan luar biasa tentang proses politik yang akan diikuti negaranya di masa depan. “Al-Sharaa menyatakan bahwa sistem republik dijadikan dasar model pemerintahan yang stabil, Al-Sharaa mengeklaim bahwa kekuasaan legislatif, eksekutif, dan yudikatif akan bekerja secara harmonis. Namun pada kenyataannya, mengingat hanya nama-nama pemerintahan yang berubah dan sistem dasar yang dipertahankan, jelas pernyataan-pernyataan tersebut tidak lebih dari sekadar meresahkan masyarakat,” jelasnya.

Menurutnya, rezim tiran Assad yang diganti dengan Ahmed al-Sharaa tidak mengubah rasa sup yang tadinya asin. “Demikian pula, umat Islam di negeri-negeri muslim telah mendukung beberapa pemimpin selama bertahun-tahun dengan harapan bahwa mereka akan menerapkan syariat dalam bingkai kekuasaannya. Seperti Erdoğan (Presiden Turki) adalah contoh nyata yang membuat mereka selalu kecewa,” pungkasnya. [MNews/IK]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *