Muslimah News, INTERNASIONAL — Saat pertemuannya dengan Raja Abdullah II dari Yordania di Washington, Selasa (11-2-2025), Presiden Donald Trump tidak melunakkan usulannya untuk merelokasi warga Palestina di Gaza, termasuk membangun kembali wilayah tersebut menjadi real estate. Padahal, Raja Abdullah II menyatakan bahwa dunia Arab menentangnya.
Trump serius untuk meneruskan rencana yang diungkapkannya bahwa warga Palestina harus dipindahkan dari wilayah yang hancur tersebut ke petak-petak tanah di negara ketiga, termasuk Yordania, meskipun ada keberatan dari para pemimpin negara tersebut.
“Kita akan memilikinya, kita akan mempertahankannya, dan kita akan memastikan bahwa akan ada perdamaian dan tidak akan ada masalah, dan tidak akan ada yang mempertanyakannya, dan kita akan menjalankannya dengan sangat baik,” kata Trump.
Mendapat Penghinaan
Aktivis dakwah Haitham Ibn Thbait menilai kedatangan penguasa muslim, Raja Abdullah II, ke Washington membahas persoalan Gaza hanya untuk mendapatkan penghinaan publik di tangan Trump.
“Dengan kesombongannya yang khas, Trump memaksakan kehendaknya kepada Raja Yordania. Ini sekali lagi membuktikan bahwa para pemimpin regional tidak lebih dari sekadar instrumen kepentingan Barat, takut akan konsekuensinya jika mereka berani menentangnya,” urainya kepada Kantor Berita ideologis internasional, Sabtu (15-2-2025).
Ia mengkritisi sikap Raja Abdullah tidak memberikan perlawanan terhadap tuntutan Trump. “Sebaliknya, ia ragu-ragu, menyerahkan tanggung jawab kepada Arab Saudi dan Mesir dan sekali lagi membuktikan bahwa para pemimpin—yang disebut-sebut itu—tidak memiliki kehormatan, akal sehat, dan keberanian,” ucapnya.
Hal ini, sambungnya, telah digambarkan Allah Swt. dalam QS Al-Maidah: 52, “Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata, ‘Kami takut akan mendapat bencana’. Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya) atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.”
Dalam pandanganya, perang di Gaza telah mengguncang kekuasaan para penguasa muslim. “Ini mengguncang tahta rapuh para penguasa korup tersebut. Keterusterangan Trump telah membuat mereka tidak punya tempat untuk bersembunyi dan tidak ada alasan untuk menutupi aib mereka,” nilainya.
Imperialis
Selain itu, Haitham menuturkan bahwa pernyataan Trump menunjukkan pola pikir imperialis yang kejam dan mengerikan.
“Trump memandang tanah-tanah muslim sebagai komoditas yang dapat dirampas sesuka hati. Pengabaian Trump terhadap Gaza—tanah yang telah mengalami pemboman, blokade, dan genosida tanpa henti di tangan entitas Zion*s, yang sepenuhnya didukung oleh Amerika—merupakan pengakuan yang mengerikan atas ambisi kolonialnya,” ujarnya.
Kemudian, ia mengutip perkataan Trump, “Kita melakukan banyak hal untuk mereka, dan mereka akan melakukannya.”
Kata-kata Trump ini, ulas Haitham, menggarisbawahi ketundukan Yordania dan Mesir, mereduksi mereka menjadi pion belaka dalam pelayanan strategi AS dan Zion*s.
“Dengan memaksa negara-negara ini untuk patuh, Trump memperkuat mentalitas kolonial yang mengakar kuat yang terus mendefinisikan hubungan Amerika dengan dunia muslim,” cetusnya.
Menolak
Untuk itu, ia mengingatkan, sekaranglah saatnya untuk menolak penghinaan ini. “Umat Islam yang mulia harus bangkit, menolak “boneka-boneka” kolonial ini, lalu bergerak menuju pendirian kembali Khilafah. Khilafah adalah satu-satunya sistem yang benar-benar mampu melindungi tanah muslim dari pendudukan, penaklukan, dan penghinaan,” tegasnya. [MNews/RA]
