Muslimah News, INTERNASIONAL — Baroness Shaista Gohi, Kepala Jaringan Wanita Muslim Inggris, menyatakan pada Rabu (22-1-2025) bahwa satu dari lima muslimah melaporkan mengalami kejahatan kebencian selama setahun terakhir. Ia menyarankan agar hukum memperlakukan kejahatan kebencian berbasis ras dan agama secara sama.
Gohi mengatakan bahwa retorika politik negatif, terutama dari beberapa politisi di pemerintahan sebelumnya, serta ruang media sosial daring dan komentator publik, mengakibatkan meningkatnya islamofobia gender.
“Saya ingin hal itu didefinisikan sebagai kekerasan berbasis gender karena jika Anda melihat statistiknya lagi, sebagian besar pelaku cenderung laki-laki, laki-laki kulit putih,” katanya di Komite Perempuan dan Kesetaraan yang bertujuan untuk memahami tantangan khusus yang dihadapi perempuan muslim di Inggris.
Disebutkan bahwa perempuan dan anak perempuan muslim lebih mudah menjadi sasaran karena jilbab atau pakaian tradisional. Ia menambahkan, meningkatnya kejahatan kebencian yang menargetkan muslimah Inggris tidak hanya di jalanan, tetapi juga daring.
Rekayasa
Aktivis muslimah Inggris Imrana Mohammad menilai, serangan terhadap muslimah terjadi akibat opini publik direkayasa untuk anti-Islam.
”Promosi rasisme jelas terlihat di masyarakat liberal Barat di mana propaganda media untuk mempromosikan perang di negeri muslim harus didukung,” jelasnya.
Ia menambahkan, label yang diberikan kepada Islam bahwa Islam adalah budaya terbelakang, biadab, dan dukungan negara-negara yang melarang jilbab, semuanya berkontribusi terhadap kontradiksi atas apa yang dikatakan dan apa yang ditindaklanjuti.
”Jika muslimah diperhatikan, kebijakan integrasi dan program pemantauan yang memata-matai dan mengkriminalisasi ide-ide Islam tidak akan ada,” tandasnya.
Ia melihat adanya paradoks bahwa kebebasan berekspresi untuk menghina hal-hal suci berdampingan dengan hak mengenakan jilbab. ”Kita tidak boleh tertipu oleh ekspresi dukungan palsu ini. Kita hanya dapat melihat solusi untuk masalah kita adalah solusi yang disampaikan secara komprehensif oleh Khilafah yang membuat ejekan terhadap muslim menjadi mustahil,” yakinnya.
Dengan solusi itu, lanjutnya, tidak akan ada anggapan bahwa serangan terhadap muslimah itu merupakan hal biasa tanpa konsekuensi besar. ”Namun sekarang, bahkan para pemimpin muslim sendiri berpartisipasi dalam pembunuhan dan pelanggaran terhadap wanita dan anak-anak muslim dalam skala besar,” ucapnya prihatin.
Dalam pandangan Imrana, saat ini keamanan muslimah bersifat opsional. ”Keamanan digunakan sebagai papan iklan untuk mengiklankan produk-produk demokrasi dan kebebasan yang hanya meningkatkan penderitaan wanita di seluruh dunia,” ulasnya.
Oleh karena itu, ia mengajak agar hanya mengambil Al-Qur’an dan Sunah sebagai ukuran benar salah. Ia mengutip firman Allah surat Az-Zumar ayat 3, ”Ingatlah! Hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata), ’Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.’ Sungguh, Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta dan orang yang sangat ingkar.” [MNews/IA]
