[Kabar] Kesepakatan Gaza Momentum Normalisasi Hubungan dengan Zion*s, Aktivis: Intrik Pengkhianatan

[Kabar] Kesepakatan Gaza Momentum Normalisasi Hubungan dengan Zion*s, Aktivis: Intrik Pengkhianatan

Muslimah News, INTERNASIONAL — Mengutip Reuters (16-1-2025), Donald Trump mengatakan bahwa ia akan menggunakan kesepakatan gencatan senjata Gaza sebagai momentum memperluas Kesepakatan Abraham, yaitu perjanjian yang didukung AS untuk menormalisasi hubungan Zion*s dengan beberapa negara Arab.

Aktivis dakwah Haitham Ibn Thbait menegaskan, pernyataan Trump tersebut menunjukkan adanya intrik atas pengkhianatan yang terus berlanjut dari para penguasa muslim. “Ini terjadi karena mereka berpartisipasi untuk mempertahankan pendudukan Zion*s di Palestina,” ucapnya kepada Kantor Berita ideologis internasional, Selasa (21-1-2025) 

Pada perjanjian gencatan senjata bertahap tersebut, lanjutnya, tujuan utamanya untuk memulangkan para sandera dan memperkuat status quo geopolitik. “Namun, Trump menuntut pengembalian semua sandera dan berjanji untuk bekerja sama dengan entitas Zion*s dan sekutunya untuk memastikan Gaza diserahkan total kepada pendudukan Zion*s,” ungkapnya.

Kegagalan

Terlepas dari intrik mereka, ulasnya, gencatan senjata ini adalah bukti kekalahan dan kegagalan rencana entitas Zion*s di Gaza. “Mereka gagal mengusir orang-orang dari Gaza, mereka gagal mengalahkan perlawanan di Gaza, mereka gagal mendapatkan kendali teritorial yang signifikan atas Gaza, dan mereka gagal memecah belah umat di Gaza. Mereka dikalahkan oleh orang-orang yang tidak berdaya yang hanya dipersenjatai oleh keyakinan mereka kepada Allah Taala,” paparnya.

Genosida di Gaza, urainya, telah menyingkapkan nafsu berdarah dan kebangkrutan moral AS dan kekuatan global.

“Dengan pendanaan dan dukungan militer Barat, terjadinya genosida adalah sesuatu yang mungkin terjadi. Pertumpahan darah dibiarkan terus berlanjut tanpa terkendali hingga terjadi pergeseran politik di AS,” ucapnya.

Menurutnya, gencatan senjata ini juga telah menunjukkan kerapuhan Zion*s, mengungkap keterlibatan rezim muslim yang berdekatan dalam kejahatan yang sedang berlangsung terhadap Gaza. “Juga menggarisbawahi kenyataan yang tidak terbantahkan bahwa AS seharusnya dapat melakukan intervensi lebih awal untuk mencegah genosida ini,” cetusnya.

Semua pihak yang terlibat, sambungnya, berbagi tanggung jawab atas pertumpahan darah dan penderitaan yang terjadi setelahnya. “Pada akhirnya, AS muncul sebagai pelaku utama dengan entitas Zion*s dan rezim muslim yang patuh dan bertindak sebagai instrumen dalam rencana agresifnya,” ungkap Haitham.

Melepaskan Diri

Oleh sebab itu, ia mengingatkan, jangan sampai darah dan pengorbanan untuk Gaza, justru dieksploitasi bagi kepentingan pihak lain.

“Kita harus melepaskan diri dari siklus eksploitasi tersebut. Kemudian mengarahkan pengorbanan kita untuk Islam, pembebasan kita, serta untuk memperoleh keridaan Allah Taala,” tuturnya.

Hanya saja, jelasnya, kemenangan di bidang politik ini menuntut dimulainya kembali cara hidup Islam dengan diakhirinya pendudukan atas tanah kaum muslim.

“Bagi kaum muslim satu-satunya jalan yang benar untuk mengakhiri kekejaman tersebut dan mengamankan masa depan kaum muslim terletak pada upaya merebut kembali kemerdekaan melalui penegakan kembali Khilafah, satu-satunya sistem yang mampu memberikan persatuan, kekuatan, dan kemauan untuk mempertahankan tanah dan rakyat kita,” tutupnya mengutip sabda Rasulullah saw., ”Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai yang (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya.” [MNews/RA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *