[Kabar] Aktivis: Pertukaran Pelajar Menjadikan Pesantren Terkontaminasi Pemikiran Sekuler

[Kabar] Aktivis: Pertukaran Pelajar Menjadikan Pesantren Terkontaminasi Pemikiran Sekuler

Muslimah News, NASIONAL — Kementerian Agama menandatangani kerja sama dengan Amerika Serikat (AS) untuk perluasan Program Fulbright Departemen Luar Negeri AS, yaitu program beasiswa dari Pemerintah AS ke lembaga dan individu binaan Kementerian Agama (MORA).

Kerja sama ini juga sebagai upaya memperkuat program pertukaran pelajar dan budaya antara AS dan Indonesia. MoU ini membuka kesempatan bagi para siswa, santri, mahasiswa, dan akademisi di lembaga pendidikan menengah atau tinggi binaan Kemenag untuk mendapat beasiswa studi atau penelitian, baik bergelar maupun non-gelar, di AS.

Terkontaminasi

Merespons hal tersebut, aktivis muslimah Qisthi Yetty Handayani menilai, ini akan menjadikan dunia pesantren terkontaminasi dengan pemikiran sekuler.

”Sepintas kebijakan pemerintah ini akan membantu meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya pesantren, karena melihat AS sebagai negara maju. Namun, ketika kita mendetili, maka yang terjadi bukan peningkatan kualitas pendidikan dan lulusannya, tetapi sebaliknya akan menjadikan dunia pesantren terkontaminasi dengan pemikiran sekuler dan liberal yang diemban oleh Amerika,” tuturnya kepada MNews, Ahad (19-1-2025).

Qisthi mengingatkan, AS adalah negara pengusung sekularisme nomor satu di dunia yang sangat anti-Islam. ”Bahkan, sangat kentara permusuhannya pada upaya penerapan Islam kafah. War on Terrorism menjadi bukti nyata kebencian AS terhadap Islam. AS juga telah membuat rancangan untuk mencetak muslim moderat yang menerima pemikiran sekuler melalui proyek moderasi beragama yang diaruskan di negeri-negeri muslim, termasuk Indonesia,” bebernya.

Oleh karenanya ia heran, bagaimana mungkin pesantren yang sehari-harinya mengajarkan syariat Islam kepada santri akan ditingkatkan kualitasnya oleh negara yang anti syariat Islam? Yang ada justru pesantren akan dimoderatkan hingga melahirkan ulama moderat yang mengadopsi pemikiran Barat yang sekuler dalam memandang kehidupan.

Ia meyakini, menggandeng AS untuk meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya di pesantren, tidak akan pernah terwujud. ”Sebaliknya akan menurunkan kualitas pesantren dari mencetak ulama warasatul anbiya yang siap memperjuangkan tegaknya Islam kafah menjadi ulama moderat yang melanggengkan sekularisme di negeri ini. Naudzubillah min dzalik,” pungkasnya. [MNews/IA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *