Muslimah News, NASIONAL— Aktivis muslimah Iffah Ainur Rochmah menegaskan bahwa sepanjang 2024 kondisi perempuan, keluarga, dan anak makin jauh dari syariat Islam. Hal itu ia sampaikan di acara “Refleksi Akhir Tahun dan Masa Depan Umat Islam” pada Selasa (31-12-2024) di kanal UIY Official Channel.
“Kalau kita bicara tentang pergaulan, mereka makin liberal, banyak mereka yang berkerudung bicara soal gaya hidup liberal childfree. Kalau kita bicara bagaimana keterikatan dengan nilai-nilai Islam dalam kehidupan berkeluarga, juga makin menipis, makin rendah,” ucapnya prihatin.
Bukan Natural
Gaya hidup liberal ini, menurut Iffah, bukan fenomena natural karena perkembangan teknologi semata, melainkan bersifat sistemis.
“Rezim yang berkuasa makin mengarahkan negeri ini ke arah liberal sehingga makin besar pengaruhnya pada keluarga dan identitas diri muslimah yang makin jauh dari syariat,” ulasnya.
Ia mencontohkan peristiwa pada Agustus 2024, muslimah yang berkerudung dipersoalkan saat pengibaran bendera. ” Ini menegaskan bahwa rezim hari ini begitu alergi terhadap simbol-simbol Islam,” tandasnya.
Iffah juga menyoroti masalah kemiskinan dengan menyebut data BPS bahwa masih ada 25 juta lebih penduduk miskin. ”Kalau kita bicara persentase, 25 juta ini tentu sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak. Perempuan dan anak-anaklah yang paling merasakan beban berat dampak kemiskinan,” tegasnya.
Ia menerangkan, dampak tersebut adalah perempuan terseret dalam dunia kerja yang eksploitatif. “Pemerintah hari ini tidak support melindungi perempuan di tempat kerja, bahkan mendorong perempuan untuk kerja di tempat yang sangat jauh ribuan kilometer dari keluarganya untuk menjadi pekerja migran,” urainya.
Ini, lanjutnya, adalah fakta-fakta buruk yang dari waktu ke waktu makin menyengsarakan perempuan. ”Kondisi buruk yang diciptakan oleh sistem hari ini sesungguhnya bertentangan dengan gambaran perempuan di dalam Islam ketika Islam dipraktikkan,” bandingnya.
Visi Negara
Iffah membeberkan, perlakuan terhadap perempuan berawal dari visi negara dalam melihat perempuan. Perempuan hari ini, ucapnya, senantiasa dilekatkan pada jumlahnya yang sangat besar yang semestinya bisa berkontribusi secara ekonomi terhadap pembangunan bangsa sehingga apa pun yang dilakukan dalam kebijakan-kebijakan terkait perempuan maupun generasi senantiasa dinamakan pemberdayaan atau perlindungan.
Ia mencontohkan, dalam Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) seolah memberi perhatian kepada perempuan yang dibahasakan dengan empowerment atau pemberdayaan.
”Tetapi, kita bisa saksikan bahwa apa yang dimaksud dengan pemberdayaan dan perlindungan itu hanya bermakna pemberdayaan ekonomi. Perlindungan pun perlindungan yang diarahkan untuk mengoptimalkan peran ekonomi perempuan,” kritiknya.
Menurutnya, ini sangat bertentangan dengan apa yang digambarkan oleh Islam. ”Dalam kacamata Islam, perempuan bagi sebuah bangsa, bagi sebuah negara, adalah kehormatan yang senantiasa harus mendapatkan perlindungan karena Allah Taala memang menetapkan demikian,” jelasnya.
Dalam bahasa kitab, Iffah menyebut, al ashlu fil mar’ah innahaa ummun wa robbatul bait. Wa hiya ’irdhun an yushana (hukum asal seorang perempuan adalah ibu dan pengatur rumah tangga. Dan perempuan merupakan kehormatan yang wajib terjaga).
”Nah, saya kira 2024 ini kalau kita bicara sebagai muslim dalam kacamata Islam apa yang semestinya didapatkan oleh perempuan makin jauh dari bisa diakses dengan sistem yang berlangsung hari ini,” bebernya.
Belum lagi, lanjutnya, kalau bicara perempuan dan anak-anak di Palestina yang patut mendapat perhatian luar biasa. ”Tujuh puluh persen korban genosida yang berlangsung sejak 2023 adalah perempuan dan anak-anak. Para aktivis perempuan tidak cukup lantang memberikan pembelaan terhadap perempuan dan anak-anak Palestina,” sesalnya.
Terakhir, Iffah berharap, kondisi perempuan dan anak-anak saat ini seharusnya menjadi warning bagi muslimah bahwa tidak bisa berharap pada sistem yang ada saat ini. [MNews/IA]
