Muslimah News, NASIONAL—Menteri Kesehatan Budi G. Sadikin menekankan pentingnya peran ibu dan guru dalam membangun budaya hidup sehat di masyarakat. Dalam peringatan Hari Ibu ke-96, Menkes menggarisbawahi bahwa menjaga kesehatan masyarakat harus menjadi prioritas utama, dimulai dari dua sosok teladan yang berpengaruh besar terhadap gaya hidup keluarga dan lingkungan.
Menkes menyoroti bagaimana ibu dan guru berperan sebagai contoh utama dalam keluarga dan masyarakat. Ia mengatakan, jika para ibu dan guru tidak sehat atau tidak menjalani budaya hidup sehat, besar kemungkinan lingkungan sekitarnya juga tidak sehat. Oleh karena itu, mereka perlu mendapat perhatian khusus dari Kementerian Kesehatan.
Destruksi
Apabila ditelisik, ujar pengamat kebijakan publik Dr. Rini Syafri, ketakberdayaan ibu dan guru menjadi teladan hidup sehat karena negara sendiri mendestruksi kemampuan tersebut. “Ibu dan guru dijadikan sebagai teladan hidup sehat. Seharusnya negara berfungsi dengan benar, bukan malah mendestruksi kemampuannya,” ucapnya kepada MNews, Senin (30-12-2024).
Menurutnya, hal itu tampak, ketika kebijakan pemerintah tidak hanya di luar sektor kesehatan, tetapi di sektor kesehatan juga bersifat destruktif. “Kebijakan tersebut memaksa setiap insan, tidak terkecuali ibu dan guru beraktivitas di seputar nilai materi dan menjadikan kebahagiaan berupa perolehan sebanyak-banyaknya kenikmatan materi. Inilah konsekuensi logis keberadaan negara sistem politik demokrasi yang menjadi bagian integral peradaban sekuler kapitalisme,” bebernya.
Di saat bersamaan, ungkapnya, semua aktivitas politik pemerintah memaksa ibu dan guru menjadi mesin penggerak industrialisasi. “Ini di satu sisi, di sisi lain hajat hidup insan mulai dari pangan, air bersih, kesehatan, pendidikan, dan keamanan dijadikan objek bisnis dan industrialisasi,” paparnya.
Dampaknya, menurutnya, ibu dan guru tidak mampu memenuhi berbagai hajat hidup mereka, baik fisik maupun nonfisik. “Pada gilirannya, peradaban kapitalisme hanyalah pabrik bagi faktor pemicu kerusakan kesehatan, khususnya ibu dan guru,” tegasnya.
Ia menilai, langkah konkret negara hari ini hanya sebatas upaya preventif berupa screening (proses pemeriksaan atau penyaringan untuk mengidentifikasi masalah atau kondisi tertentu) kesehatan dan berbagai program lain. “Namun, program-program itu berlangsung dalam bingkai industrialisasi kesehatan. Termasuk dalam hal ini, pemberian layanan kesehatan melalui skema BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) kesehatan, jelas bentuk kepedulian palsu,” paparnya.
Catatan
Rini mengungkapkan beberapa catatan penting terkait kondisi kesehatan ibu dan guru sebagaimana kesehatan publik pada umumnya, sungguh memprihatinkan. “Jadi, alih-alih menjadi teladan hidup sehat, merawat kesehatan dirinya ia tidak mampu,” tegasnya.
Pertama, ungkapnya, buruknya kemampuan ibu dalam merawat kesehatan dirinya dalam hubungannya sebagai Ibu ditunjukan oleh sangat tingginya angka ibu hamil penderita anemia. “Dari 4,9 juta ibu hamil, 27% di antaranya pengidap anemia di samping Kurang Energi Kronis (KEK),” katanya.
Kedua, lanjutnya, ditunjukkan tingginya prevalensi bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), yaitu sekitar 6,2%. “Sementara itu, BBLR salah satu penyebab utama stunting yang angkanya masih jutaan,” ujarnya.
Ketiga, paparnya, ketakmampuan ibu merawat kesehatan dirinya, konsekuensinya adalah buruknya kemampuan ibu memberikan ASI sebagai salah satu teladan budaya hidup sehat. Berdasarkan data Biro Pusat Statistik 2023, ungkapnya, hanya 73,97% anak yang diberi ASI eksklusif. “Angkanya tentu lebih kecil lagi untuk pemberian ASI selama dua tahun. Pola makan sebagai bagian penting dari budaya hidup sehat juga menunjukan persoalan serius,” jelasnya.
Keempat, katanya, Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 mencatat terjadi penurunan tumbuh kembang anak sebagai akibat buruknya pola makan bayi dan anak. “Hal ini berdampak pada peningkatan prevalensi stunting dari 29% (0—6 bulan), ke 39% (6—11 bulan), dan menjadi 42% (usia 24—35 bulan). Bagaimana menjadi teladan, kalau kondisi mereka seperti ini?” tukasnya.
Peran Penting
Menurut Rini, tidak diragukan lagi, ibu berperan penting dalam mewujudkan budaya hidup sehat, karena ibu adalah guru pertama bagi anak. “Sehubungan dengan itu, ibulah yang pertama kali berinteraksi dengan. Sejak dalam kandungan hingga dilahirkan. Demikian juga, secara fitrah berbagai aktivitas di dalam rumah sangat ditentukan oleh fungsi ibu. Hingga terbentuk pola aktivitas, pola emosi, dan makan keluarga,” bebernya.
Demikian juga guru, jelasnya, peran guru membentuk perilaku kehidupan yang sehat di lingkungan sekolah amatlah besar. “Oleh karenanya, menjadi relevan menjadikan ibu dan guru sebagai teladan hidup sehat. Namun, peran penting mereka tidak bisa berjalan sendirian, harus didukung dengan kebijakan negara di berbagai sektor lain. Di sinilah urgensi kehadiram negara Islam mewujudkannya,” urainya.
Islam
Rini menerangkan, Islam menjadikan kebijakan politik negara, baik di luar sektor kesehatan maupun di sektor kesehatan, secara keseluruhan menjaga dan mengoptimalkan potensi ini. “Inilah sisi menarik dari bangunan sistem Islam, seiring hadirnya nilai-nilai yang dibutuhkan setiap insan agar kesehatannya terawat sepanjang hayat, khususnya ibu,” ucapnya.
Menurutnya, penerapan Islam secara kafah berupa sistem kehidupan Islam dalam bingkai negara Khilafah akan mengembalikan ibu dan guru pada fungsi aslinya. “Di samping itu juga, mengakhiri industrialisasi hajat hidup insan melalui penerapan sistem kehidupan Islam, khususnya sistem ekonomi dan sistem poltik Islam,” paparnya.
Ia menyampaikan, dengan sistem politik Islam, keberadaan nilai materi, kemanusiaan, moral, dan spritual akan menjadi serasi. “Tidak hanya itu, kebijakan politik pemerintah juga meniscayakan setiap individu masyarakat memiliki dorongan kuat beraktivitas terikat dengan hukum syarak karena motivasi meraih rida Allah Swt. sebagai puncak kebahagiaan yang berupaya diraih secara bersungguh-sungguh oleh setiap muslim,” ulasnya.
Di sisi lain, ungkapnya, penerapan Islam secara kafah melalui berbagai pogram strategis yang bertujuan mewujudkan masyarakat Islam meniscayakan publik mampu memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya secara benar, khususnya ibu dan guru. “Ini semua adalah kunci rahasia mengaktifkan fungsi ibu dan guru sebagai teladan hidup sehat dan terwujudnya budaya hidup sehat di tengah masyarakat,” tandasnya. [MNews/IK]
