Muslimah News, TELAAH KITAB — Periode ini memuat tahap dakwah siriyyah (dakwah secara rahasia), dakwah secara terang-terangan, dan tahap dakwah keluar Makkah al-Mukarramah. Periode ini memiliki beberapa karakter spesifik.
Pertama, Rasul saw. tetap merahasiakan kelompok dakwahnya. Ini dilakukan bersamaan dengan penjagaan atas individu-individu, lalu dakwah secara terang-terangan.
Kedua, secara rahasia menyiapkan individu-individu yang mampu mengemban tugas-tugas dakwah. Mereka adalah kalangan orang-orang yang memiliki keteguhan lurus, ketegaran, dan keberanian. Pembinaan kepada mereka dengan tsaqafah Islam murakazzah (intensif). Pembinaan ini menjadikan mereka sanggup menghadapi berbagai kepayahan, serta mampu berdiri tegak di hadapan penentangan, dan teguh dalam kebenaran.
Ketiga, keteguhan dalam keimanan. Mereka berpegang teguh dengan dakwah, menanggung seluruh jenis siksaan dan penentangan, serta tidak membalas ancaman, tipuan, dan tidak menerima tawar menawar.
Keempat, berinteraksi dengan masyarakat. Mereka membantah kekufuran orang-orang kafir dan orang-orang musyrik, menjelaskan kesalahan keyakinan mereka, mencela adat kebiasaan mereka, membodohkan mimpi-mimpi mereka, dan teguh dalam perjuangan politis.
Kelima, pembinaan umum (tatsqif al-jama’i)
Keenam, Rasul saw. dan para sahabat beliau yang mulia tidak melakukan aktivitas fisik/kekerasan apa pun. Mereka bersabar atas berbagai hal yang tidak menyenangkan dan menanggung siksaan dengan segala jenisnya. Tidak ada yang lebih menunjukkan hal itu, kecuali sabda beliau kepada keluarga Yasir, sedangkan mereka sedang ditimpa siksaan yang sangat pedih, “Bersabarlah, wahai keluarga Yasir. Sesungguhnya aku tidak memiliki sesuatu pun dari Allah (untuk menolong kalian) dan bahwa janji untuk kalian adalah surga.”
Rasul saw. juga tidak menghilangkan siksaan dari diri beliau sendiri. Beliau pun tidak memerintahkan seorang pun dari kaum muslim untuk melakukan aktivitas fisik, untuk menolak atau menghilangkan siksaan itu.
Beliau tidak membolehkan, baik bagi diri beliau sendiri maupun bagi para sahabat, melakukan suatu aktivitas fisik untuk menolak siksaan dari mereka, meringankan kekejaman, serta menjauhkan diri dari keburukan, kerendahan, dan penghinaan. Beliau tidak meminta seorang pun untuk balas memukul orang yang memukulnya atau balas mencaci orang yang mencacinya.
Beliau tidak mengizinkan penggunaan kekuatan. Beliau tidak membentuk suatu kelompok bersenjata (milisi) apa pun untuk melakukan aktivitas pembalasan terhadap perusakan atau sabotase, serta pencekalan atau penangkapan, atau yang lainnya. Sikap beliau ini sangat jelas dalam sirah beliau dan tidak memerlukan pengkajian atau pembahasan mendalam untuk memperkuatnya.
Beliau tidak memerintahkan pembunuhan seseorang pun atau aktivitas fisik lainnya. Beliau menanggung siksaan dan bersabar atasnya. Beliau memerintahkan para sahabat beliau untuk bersabar dan tetap teguh, serta agar menyerahkan semuanya itu kepada Allah Taala. Beliau menolak orang yang meminta kepada beliau untuk melakukan aktivitas fisik seraya bersabda, “Kita belum diperintahkan (melakukan) yang demikian.”
Ayat-ayat Al-Qur’an pun mengisahkan kepada beliau perjalanan para nabi dan rasul terdahulu. Mereka tidak membalas pendustaan, penyiksaan, penghinaan, penolakan, dan pembunuhan. Hal itu untuk meneguhkan hati Nabi-Nya.
Al-Qur’an menyeru beliau untuk bersabar, tetap teguh, dan memberi berita gembira, bahwa ada pahala yang besar bagi orang-orang yang sabar dalam kebenaran, senantiasa berpegang teguh dengan dakwah, serta mengimani Allah dan Rasul-Nya. Mereka adalah orang-orang yang telah mengikat janji dengan Allah atas yang demikian.
Semua itu tidak menyisakan ruang bagi seorang pun untuk mengatakan bahwa wajib atau penting menggunakan kekuatan atau kekerasan dalam aktivitas untuk mengubah masyarakat dan mewujudkan Islam di tengah-tengah realitas kehidupan. Demikian pula dalam aktivitas untuk melanjutkan kehidupan Islam dengan mendirikan Daulah Islamiah yang mengambil Islam, baik akidah maupun sistem pemerintahannya, menerapkan Islam secara keseluruhan di tengah masyarakat, dan mengemban risalah Islam sebagai hidayah kepada seluruh dunia. [MNews/RY-YG]
Sumber: Muhammad Said Abu Za’rur, Seputar Gerakan Islam.

One thought on “[Telaah Kitab] Periode Makkah (Bagian 21/22)”