[Telaah Kitab] Periode Makkah (Bagian 22/22)

[Telaah Kitab] Periode Makkah (Bagian 22/22)

Sambungan dari Bagian 21/22

Muslimah News, TELAAH KITAB — Saya berpendapat bahwa ayat-ayat, perbuatan-perbuatan dan perkataan-perkataan Rasul saw. sepanjang perjalanan dakwah beliau tidak menyisakan ruang bagi seseorang atau penyeru untuk mengatakan kebolehan menggunakan kekerasan dan kekuatan. Demikian pula untuk menyatakan kebolehan melakukan aktivitas fisik pada periode aktivitas membangkitkan dan mengubah masyarakat, serta mewujudkan masyarakat Islam yang khas. Perkara ini sudah sangat jelas.

Ketujuh, pengintensifan upaya mencari dukungan dan pertolongan (thalab al-man’ah wa an-nushrah) dari penduduknya dan meminta perlindungan kepada mereka. Ini dilakukan untuk mengambil perjanjian dan baiat atas mereka untuk menolong agama ini (Islam), serta untuk memerangi orang-orang berkulit merah atau berkulit hitam.

Mereka adalah orang-orang yang berdiri menghadang dakwah untuk menghalangi tegaknya Daulah Islamiah. Mereka adalah orang-orang yang berdiri untuk menghalangi kemenangan agama ini, serta menghalangi secara keras kemenangan, kebenaran, dan ketinggian kalimat Allah di muka bumi. Hal itu Rasul saw. lakukan sampai beliau menemukan apa yang beliau cari, yakni pertolongan penduduk Yatsrib dari kaum Khazraj dan Aus.

Mereka adalah orang-orang yang membaiat beliau untuk menolong, mendukung, dan siap melindungi beliau. Mereka juga mengerahkan segala hal, baik mahal maupun murah, berupa jiwa dan harta di jalan itu. Baiat itu dinamakan Baiat Aqabah I dan Baiat Aqabah II yang dikenal sebagai Baiat Perang.

Kemudian Allah Swt. mengizinkan Rasul-Nya untuk berhijrah. Beliau saw. dan sahabat beliau (Abu Bakar) pergi ke Yatsrib berhijrah meninggalkan harta, perhiasan, wanita (istri), dan anak-anak di belakangnya, yakni di Makkah. Mereka semua menemukan kemuliaan, keagungan, dukungan, kekuatan, dan pertolongan di Yatsrib. Selanjutnya Rasul saw. mendirikan Daulah Islamiah yang pertama di Madinah.

Selanjutnya, kami akan memaparkan periode Madinah secara ringkas. Sebabnya, buku ini ditulis untuk fokus pada masalah metode aktivitas membangkitan umat Islam dan tata cara yang menghasilkan perubahan untuk mewujudkan masyarakat muslim dan melanjutkan kehidupan Islam.

Dengan begitu, gerakan-gerakan yang berjuang untuk mengubah masyarakat, serta berjalan untuk mewujudkan kebangkitan yang sahih dan hukum-hukum Allah di muka bumi dapat mengambil manfaat dari sini. Sungguh metode itu telah menjadi jelas bagi kita dengan pelajaran-pelajaran yang jelas dari sirah Rasul saw. pada periode Makkah.

Periode Makkah adalah periode yang di dalamnya tercapai perubahan. Berikutnya terwujudlah masyarakat muslim dan tegaklah Daulah Islamiah yang pertama di tangan Rasulullah saw. dan para sahabat beliau yang mulia, baik dari kaum Anshar maupun Muhajirin, dengan petunjuk dan wahyu dari Tuhannya.

Hal itu memperkuat keyakinan bahwa metode ini adalah metode yang sahih untuk mewujudkan kebangkitan. Hal ini juga menunjukkan bahwa semua itu wajib diambil sebagai metode bagi gerakan, jemaah, atau partai dakwah yang berjuang untuk mewujudkan perubahan dan kebangkitan kaum muslim.

Ini akan menjadi pelita yang menerangi jalan, juga petunjuk serta dalil yang menjelaskan berbagai tahapan perjalanan dan strateginya, beserta perbedaan sarana dan cara. Jemaah dakwah tidak boleh keluar dari metode ini karena ia merupakan hukum syariat yang telah ditetapkan. Ia tidak meninggalkan ruang atau pilihan bagi seorang pun untuk mengikuti metode yang lain, baik berupa aktivitas fisik atau yang lainnya.

Inilah metode dakwah Rasul saw., bukan yang lain. Keluar dan menyelisihi metode dakwah beliau saw. dinilai keluar dan menyalahi hukum syariat yang sudah ditetapkan.

Dari sini maka pembicaraan mengenai periode Madinah akan menjadi luas sekali. Oleh karena itu, pembahasannya cukup dibatasi pada penjelasan mengenai aktivitas-aktivitas terpenting Rasul saw. setelah beliau sampai di Madinah al-Munawwarah. Tepatnya setelah Allah memenuhi janji-Nya kepada beliau, serta setelah kaum muslim merasa tenteram dengan pertolongan Allah dan mereka yakin secara sempurna bahwa Allah tidak akan pernah menyalahi janji-Nya. [MNews/RY-YG]

Sumber: Muhammad Said Abu Za’rur, Seputar Gerakan Islam.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *