[Kabar] Akademisi: Yang Dibutuhkan Adalah Pemahaman Islam yang Menyeluruh, Bukan Moderasi Beragama

[Kabar] Akademisi: Yang Dibutuhkan Adalah Pemahaman Islam yang Menyeluruh, Bukan Moderasi Beragama

Muslimah News, NASIONAL—Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) menggandeng Kementerian Agama (Kemenag) mengadakan seminar Penguatan Moderasi Beragama di kampus setempat, Rabu (20-11-2024) untuk menerapkan moderasi beragama sebagai dasar kehidupan bermasyarakat di era modern. Rektor ITS Prof. Ir. Bambang Pramujati, S.T., M.Sc., Eng., Ph.D. menyoroti peran vital generasi muda dalam menjaga dan memperkukuh semangat Bhinneka Tunggal Ika di tengah arus perubahan zaman.

Dalam agenda tersebut, hadir pula kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kemenag RI Prof. Dr. H. Suyitno, M.Ag. yang mengingatkan peran kampus sebagai pusat keberagaman dan toleransi beragama. Ia menegaskan pentingnya komitmen penguatan moderasi beragama yang diharapkan akan memiliki pemahaman inklusif dan humanis yang pada akhirnya dapat berkontribusi pada terciptanya kehidupan masyarakat yang harmonis dan damai.

Menyeluruh

Menyoal hal tersebut, akademisi Dr. Lizda Johar Mawarani, S.T., M.T. mengatakan, mahasiswa hari ini butuh gambaran Islam kafah, bukan yang lainnya. “Jadi sekali lagi, yang dibutuhkan adalah pemahaman Islam yang menyeluruh, bukan moderasi beragama,” ucapnya kepada MNews, Senin (2-12-2024).

Seminar ini, ungkapnya, adalah seminar kesekian yang diselenggarakan oleh perguruan-perguruan tinggi di Indonesia. “Inti tujuannya sama, yakni menjadikan moderasi beragama sebagai solusi dari kekhawatiran terjadinya perpecahan di tengah masyarakat,” jelasnya.

Ia menjelaskan, moderasi beragama yang dipahami dengan mengamalkan ajaran agama dengan tidak ekstrem adalah hal baru yang dimunculkan untuk membuat umat Islam tidak memahami agamanya dengan menyeluruh atau agar mereka beragama dengan setengah-setengah saja.

“Padahal agama Islam adalah way of life, yakni panduan dari Allah Sang Pencipta untuk manusia agar dapat menjalani kehidupan dengan baik sehingga terwujud ketenteraman, kedamaian, dan kesejahteraan,” tambahnya.

Penting

Generasi muda, ungkap Lizda, memang menduduki posisi penting dalam masyarakat, karena merekalah yang menjadi para pelaku pada masa depan. “Oleh karenanya, generasi muda harus dibekali dengan hal-hal yang dibutuhkan agar dapat menghadapi tantangan zaman, yakni pemahaman Islam yang utuh, bukan dengan moderasi beragama,” paparnya.

Yang demikian itu, lanjutnya, karena orang yang moderat dalam beragama, yakni memandang agama dengan tidak menyeluruh menjadi rentan melakukan kemaksiatan atau pelanggaran. “Mereka akan menjadi sekuler karena agama hanya dipahami sekadar ritual belaka dan urusan kehidupan lepas dari aturan agama. Oleh karena itulah, moderasi beragama justru akan menggerus identitas generasi muda Islam,” jelasnya.

Menurutnya, tanpa penguatan terhadap pemahaman Islam, seorang muslim akan berat melakukan kebaikan dan ringan melakukan keburukan/kejahatan akibatnya kerusakan akan terus merajalela. “Meskipun tidak dinyatakan secara langsung, mengingat mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, maka agama yang dikhawatirkan menjadi sumber masalah jika dipahami dan diterapkan sepenuhnya adalah agama Islam,” bebernya.

Sesungguhnya, terangnya, Islam jauh dari tuduhan ini sebab Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah yang Maha Sempurna. “Islam adalah agama yang sempurna yang ketika diterapkan secara menyeluruh akan mendatangkan kemajuan dan kegemilangan peradaban. Sejarah telah membuktikan bahwa penerapan Islam selama 13 abad di bawah naungan Khilafah telah berhasil menyatukan berbagai perbedaan suku, bangsa, dan budaya dalam kehidupan yang harmonis, tenteram, dan sejahtera,” pungkasnya. [MNews/IK]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *