[Kabar] UIY: AS Tetap Memandang Islam sebagai Ancaman Potensial

[Kabar] UIY: AS Tetap Memandang Islam sebagai Ancaman Potensial

Muslimah News, INTERNASIONAL — Ada sedikit kekhawatiran yang muncul ketika Donald Trump terpilih kembali menjadi presiden Amerika Serikat (AS). Kekhawatiran bagaimana kebijakan AS terhadap dunia Islam? Mungkinkah terpilihnya Trump berpengaruh besar terhadap umat Islam?

Menanggapi hal tersebut, cendekiawan muslim Ustaz Ismail Yusanto (UIY) menyampaikan, siapa pun presidennya, AS akan tetap memusuhi Islam dan umatnya. “Baik Goerge Bush, Obama, Trump, Joe Biden, Trump lagi enggak ada bedanya. Dalam memandang dunia Islam, mereka anggap sebagai ancaman potensial di masa yang akan datang,” ujarnya dalam Fokus to the Point: “Trump Jadi Presiden, Dunia Islam Makin Terancam?” Jumat (29-11-2024).

Ia menerangkan, kalau dicoba mereka-reka, politik luar negeri terhadap dunia Islam tetap ada dua. “Pertama, Zion*s first (mengutamalan Zion*s Yahudi). Kedua, jika umat Islam tidak bisa ditaklukkan, akan dihancurkan. Lihat apa yang dilakukan Amerika terhadap Afganistan, Irak, dan seterusnya. Seperti yang disampaikan RAND Corporation, dunia Islam adalah penantang potensial pada masa depan terhadap hegemoni Amerika,” tegasnya.

Menurutnya, Donald Trump ini mewakili wajah Amerika yang sejati. “Jadi dalam psikologi politik Amerika, Amerika itu tidak boleh kecil, tidak boleh lemah, harus gagah, harus besar, harus kuat, harus menguasai. Bahkan, menghegemoni dunia dan itu yang diperlihatkan oleh Donald Trump dalam slogannya ‘make American greet again’. Salah satu narasi yang faktanya kemudian cukup memesona, meskipun kemenangan ini tidak mudah melawan rivalnya,” jelasnya.

Ia menyampaikan, ketika Donald Trump menang, perdana menteri Zion*s Yahudi Benjamin Netanyanu laknatullah menganggap hal itu adalah keajaiban politik. “Karena Netanyanu laknatullah tahu, Trump lebih mengutamakan kepentingan Yahudi. Ia begitu antusias menyambut kemenangan Trump, karena Trump akan mendukung apa pun yang akan dilakukan Yahudi,” bebernya.

Menjadi Subjek

UIY berpesan, umat Islam jangan terus menjadi objek kebijakan luar negeri Amerika. “Cara agar umat Islam menjadi subjek dari kebijakan politik luar negeri, [maka] harus dilakukan perubahan mindset. Mindset bahwa Al-Qur’an mengatakan umat Islam adalah khairu ummah (umat terbaik),” jelasnya.

Kelompok terbaik, lanjutnya, harus diwujudkan dan sejarah memang telah membuktikan umat Islam adalah umat terbaik. “Umat harus diatur dengan risalah Islam, yakni syariat Islam yang mengatur segala aspek kehidupan di bawah kepemimpinan yang memang didedikasikan untuk mewujudkan umat terbaik, yaitu dengan Khilafah,” paparnya.

Umat Islam, kata UIY, akan terus menjadi obyek penjajahan jika sistem yang mengatur masih kapitalisme. “Kemenangan Trump tampaknya tidak banyak berpengaruh terhadap umat Islam. Yang perlu kita bangun adalah kekuatan politik kita sendiri. Kekuatan politik di bawah kepemimpinan Islam, yaitu Khilafah minhaj an-nubuwwah,” pungkasnya. [MNews/IK]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *