[Telaah Kitab] Periode Makkah (Bagian 7/22)

[Telaah Kitab] Periode Makkah (Bagian 7/22)

Sambungan dari Bagian 6/22

Muslimah News, TELAAH KITAB — Rasul saw. menetapkan Darul Arqam sebagai tempat berkumpul dan markas dakwah beliau. Tempat itu sekaligus dijadikan tempat beliau mengadakan pertemuan dengan kaum muslim. Dari sini mungkin untuk dikatakan bahwa kaum muslim berkelompok secara rahasia dan dengan pengertian yang lain bahwa dakwah dilakukan dengan terang-terangan, sedangkan takattul (kelompok)nya rahasia.

Rasul saw. berdakwah dan beribadah dengan terang-terangan. Tidak ada sesuatu pun yang memalingkan Rasul dari melakukan hal itu. Demikian juga halnya sebagian sahabat. Tatkala orang-orang Quraisy makin bersemangat dalam menjelek-jelekkan Rasul, orang- orang musyrik sampai pada segala bentuk siksaan dan penentangan terhadap kaum muslim. Begitu kerasnya siksaan yang menimpa Rasulullah saw. dan para sahabat yang mulia.

Kemudian turunlah firman Allah Swt. dalam surah Az-Zumar yang mengisyaratkan untuk hijrah. Ayat tersebut juga menjelaskan bahwa bumi Allah itu luas bagi orang-orang yang berbuat baik di dalam kehidupan dunia.

Allah Swt. berfirman, “Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhan kalian.’ Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS Az-Zumar: 10).

Oleh karena itu, Rasulullah saw. memerintahkan sebagian sahabat agar hijrah ke Habsyah (Ethiopia). Hal itu karena Rasulullah saw. mengetahui bahwa Ashhamah an-Najasi, Raja Habsyah (Ethiopia), adalah seorang raja yang adil.

Sebagian sahabat lalu hijrah ke Habsyah untuk menyelamatkan agama mereka. Hal ini terjadi pada tahun ke lima setelah kenabian. Mereka adalah kelompok pertama yang berhijrah ke negeri Habsyah. Mereka terdiri dari 12 laki-laki dan empat orang wanita dengan pemimpin Utsman bin Affan. Istrinya ikut bersama Utsman ra., yakni Ruqayyah, putri Rasulullah.

Di tengah makin kencangnya bencana, siksaan, dan penentangan, rombongan para sahabat yang kedua hijrah ke Habsyah, yaitu sebanyak delapan puluh tiga laki-laki dan delapan belas wanita.

Orang-orang musyrik sangat meradang kalau kaum muslim mendapatkan sambutan dan tempat yang aman bagi diri mereka dan agama mereka di Habsyah. Oleh karena itu, mereka mengutus Amr bin al-‘Ash dan Abdullah bin Rabi’ah—pada waktu itu keduanya belum masuk Islam—untuk menentang kaum muslim di hadapan Raja Habsyah.

Saat itu telah ada keyakinan pada diri para uskup Habsyah akan pentingnya mengusir kaum Muhajirin. Kemudian mereka mengusulkan hal itu kepada Najasyi. Akan tetapi, Najasyi mendengarkan argumentasi dari kedua kelompok (yakni utusan Quraisy dan kelompok kaum muslim) yang berakhir dengan kembalinya dua orang utusan orang-orang musyrik dalam keadaan tercela.

Semua yang dikedepankan oleh kedua utusan itu tertolak. Akhirnya, di sisi Najasyi, kaum muslim mendapat tempat tinggal dan tetangga yang baik sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah.

Dengan demikian, orang-orang musyrik telah gagal. Makar mereka juga telah gagal total. Hal itu menyebabkan kemarahan mereka makin menjadi. Mereka berpandangan bahwa satu-satunya jalan untuk menghentikan Muhammad saw. dan dakwahnya secara sempurna tidak lain adalah dengan membunuhnya.

Kemudian para pembesar Quraisy datang kepada paman Rasul, yaitu Abu Thalib. Mereka berkata kepadanya, “Hai Abu Thalib, sesungguhnya engkau adalah orang yang paling tua, terhormat, dan berkedudukan tinggi di tengah kami. Kami sudah pernah memintamu untuk menghentikan anak saudaramu, tetapi engkau tidak menghentikannya. Demi Allah, kami tidak bisa bersabar lagi atas hal ini karena ia telah mencaci nenek moyang kami, membodoh-bodohkan harapan-harapan kami, dan mencela tuhan-tuhan kami, kecuali engkau menghentikannya atau kami akan melenyapkannya. Engkau (memiliki pilihan) dalam hal ini sampai salah satu dari kedua pihak binasa.”

Peringatan dan ancaman ini berpengaruh kepada Abu Thalib. Ia kemudian memanggil Nabi saw. dan berkata kepada beliau, “Anakku, sesungguhnya kaummu telah mendatangiku dan mereka berkata kepadaku begini dan begitu. Oleh karena itu, hentikanlah (dakwahmu) demi (keselamatan) diriku dan dirimu sendiri. Janganlah engkau membebaniku sesuatu yang tidak sanggup aku pikul.”

Rasul saw. menduga bahwa paman beliau akan menelantarkan beliau dan lemah (tidak mampu) menolongnya. Rasul saw. lalu berkata kepada pamannya, “Paman, demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan dakwah ini, aku tidak akan meninggalkannya hingga Allah memenangkannya atau aku binasa karenanya.”

Mendengar hal itu, paman beliau bercucuran air mata, lalu bangkit. Ketika Nabi saw. hendak beranjak, Abu Thalib memanggil beliau. Saat beliau menghadap ke arahnya, Abu Thalib berkata kepada beliau, “Pergilah, anakku dan katakan apa yang engkau sukai. Demi Allah, aku tidak akan menyerahkanmu pada sesuatu pun selamanya.”

Kemudian ia bersyair, “Demi Allah, mereka tidak akan mampu menjamahmu hingga aku terbujur kaku dalam kuburku. Tampakkanlah urusanmu. Jangan kau kurangi. Pilihlah apa yang kau sukai.” [MNews/RY-YG]

Sumber: Muhammad Said Abu Za’rur, Seputar Gerakan Islam.

Share

One thought on “[Telaah Kitab] Periode Makkah (Bagian 7/22)”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *