[Telaah Kitab] Periode Makkah (Bagian 6/22)

[Telaah Kitab] Periode Makkah (Bagian 6/22)

Sambungan dari Bagian 5/22

Muslimah News, TELAAH KITAB — Umayyah bin Khalaf al-Jamhi mengikatkan tali ke leher Bilal bin Rabbah, lalu menyerahkannya kepada anak-anak untuk dibawa mengelilingi sebuah bukit di Makkah. Umayyah mengikatnya dengan sangat kencang, lalu memukulnya dengan tongkat.

Ia memaksanya untuk duduk di bawah terik matahari dalam kelaparan. Ketika matahari tepat di tengah, ia mengeluarkan Bilal ke padang pasir di Makkah. Ia meminta sebuah batu besar, lalu meletakkannya di dada Bilal.

Ia kemudian berkata, “Tidak, demi Allah, kamu tetap begitu hingga mati, atau kamu mengingkari Muhammad dan menyembah Latta dan Uzza.” Bilal, dalam kondisi itu, hanya berkata, “Ahad, ahad.” Keadaan itu terus berlangsung sampai Abu Bakar lewat. Ia segera membeli Bilal dari tuannya, Umayyah bin Khalaf, lalu memerdekakannya.

Ammar bin Yasir ra., budak Bani Makhzum, masuk Islam beserta bapak dan ibunya. Orang-orang musyrik yang dipimpin oleh Abu Jahal menyeret mereka ke tengah padang pasir yang panas membara dan menyiksa mereka dengan seenaknya. Rasul saw. kebetulan lewat selagi mereka disiksa, lalu beliau bersabda, “Sabarlah, wahai keluarga Yasir. Sesungguhnya tempat yang dijanjikan bagi kalian adalah surga.”

Yasir meninggal dunia ketika disiksa. Kemudian Abu Jahal menikam Sumayyah (ibu ‘Ammar) dengan tombak di duburnya hingga meninggal dunia. Siksaan terhadap Ammar bin Yasir makin keras. Ia dibiarkan terbakar matahari padang pasir. Kadang diletakkan batu di dadanya atau disiksa dengan bentuk siksaan yang lain.

Mereka berkata, “Kami tidak akan melepasmu hingga engkau mencela Muhammad atau engkau mengatakan yang baik-baik tentang Latta dan Uzza.” Ammar pun memenuhi hal itu dengan terpaksa. Kemudian ia datang kepada Nabi saw. seraya menangis dan meminta maaf. Setelah itu turunlah firman Allah Swt., “Siapa saja yang mengingkari Allah Swt. sesudah ia beriman (ia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir, padahal hatinya tetap tenang dalam keimanannya (ia tidak berdosa). Akan tetapi, orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.” (QS An-Nahl: 106).

Abu Fakihah, nama aslinya Aflah, maula Bani ‘Abd ad-Dar, mengikat kakinya dengan tali, lalu menyeretnya di atas tanah. Sebagaimana Khabab bin al-Arat, maula Ummu Anmar binti Siba’ al-Khuza’iyyah, orang-orang musyrik menimpakan berbagai macam siksaan kepadanya. Mereka mencengkeram rambutnya, lalu membenturkannya ke tanah beberapa kali. Mereka juga mengikatkan tali ke lehernya dan menelentangkannya di atas tanah pasir yang panas. Kemudian mereka meletakkan batu di atas dadanya hingga Khabab tidak mampu berdiri lagi.

Zinnirah, Nahdiyah, dan putrinya, juga Ummu ‘Ubays adalah termasuk wanita-wanita hamba sahaya yang masuk Islam. Orang-orang musyrik menimpakan berbagai macam siksaan kepada mereka sebagaimana kepada orang lemah lainnya.

Seorang hamba sahaya wanita Bani Muwa’al masuk Islam. Umar bin al-Khaththab yang saat itu masih musyrik memukulinya hingga ia sempoyongan. Umar lalu berkata, “Aku tidak akan meninggalkanmu, kecuali sempoyongan.”

Orang-orang musyrik mengikat sebagian sahabat di tempat pengikatan unta dan sapi, lalu melemparkan mereka di pasir yang menyengat. Orang-orang musyrik juga mengenakan pakaian besi pada sebagian sahabat, lalu mereka ditelentangkan di padang pasir yang panas.

Orang-orang musyrik tidak membiarkan seorang pun yang mereka ketahui keislamannya, kecuali mereka berpaling darinya, mengganggunya, dan menyiksanya. Keadaan mereka yang disiksa itu sangat mengenaskan dan mengibakan. Hanya saja, Rasul dan para sahabat beliau dari kaum muslim, laki-laki dan perempuan, tetap berpegang teguh pada Islam.

Mereka menanggung siksaan itu. Mereka bersabar atas semua siksan itu karena mereka mengharap keridaan dan pahala Allah Taala. Sikap mereka itu merupakan kegigihan untuk masuk surga yang dijanjikan-Nya bagi orang-orang bertakwa.

Para pembaca yang mulia hendaknya memperhatikan bahwa kami memaparkan sebagian contoh bentuk-bentuk siksaan yang menimpa Rasul yang mulia dan kaum muslim yang terdahulu masuk Islam meskipun secara ringkas. Hal itu hanya untuk memperkuat bahwa Rasul saw. dan para sahabat beliau yang mulia sama sekali tidak melakukan aktivitas fisik untuk menghilangkan gangguan dari mereka dan untuk menghalangi siksaan atas mereka.

Sesungguhnya sebagian mereka memiliki kemampuan untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang dapat mencegah gangguan atas mereka, semisal Umar bin al-Khaththab dan selainnya. Hal itu karena mereka belum diperintahkan sedikitpun untuk melakukannya.

Di tengah siksaan dan penentangan ini, Rasul yang mulia berpendapat untuk mengumpulkan kaum muslim secara rahasia dan melarang kaum muslim menampakkan keislaman mereka. Kemudian para sahabat pada umumnya menyembunyikan keislaman mereka, ibadah mereka, dan dakwah mereka. [MNews/RY-YG]

Sumber: Muhammad Said Abu Za’rur, Seputar Gerakan Islam.

Share

One thought on “[Telaah Kitab] Periode Makkah (Bagian 6/22)”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *