Childfree, Propaganda Barat yang Bertentangan dengan Islam

Childfree, Propaganda Barat yang Bertentangan dengan Islam

Muslimah News, FOKUS — Fenomena childfree yang melanda negara-negara Barat, kini makin digandrungi masyarakat Indonesia, terutama perempuan muda. BPS mencatat berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) 2022, sekitar 8,2% perempuan Indonesia usia 15 hingga 49 tahun memilih childfree atau tidak memiliki anak. Artinya, sekitar 71 ribu perempuan dalam kelompok ini tidak menginginkan anak.

Meski prevalensi perempuan yang memilih untuk childfree di Indonesia terbilang kecil dibanding negara-negara Barat, namun selama empat tahun terakhir, prevalensinya cenderung meningkat dan diprediksi akan terus naik pada tahun-tahun mendatang. Terutama di wilayah urban seperti Jawa Barat dan Jakarta yang trennya terus naik. Di Jakarta sendiri, persentase perempuan yang memilih childfree melonjak nyaris dua kali lipat dari 8,8% pada 2019 menjadi 14,3% pada 2022. Di Jawa Barat juga terdeteksi lonjakan dari 7,8% pada 2019 menjadi 11,3%.

Depopulasi

Walaupun Indonesia belum mengalami depopulasi seperti halnya negara-negara Barat, namun potensi itu telah datang. Sebab BPS mencatat, angka kelahiran bayi tiap tahunnya menunjukkan tren penurunan yang cukup drastis, yakni dari 2,6 pada 2010 menjadi 2,18 pada 2020. Jika hal ini dibiarkan, Indonesia bisa mengalami depopulasi.

Negara-negara Barat, juga China dan Jepang sedang kewalahan mengalami depopulasi. Salah satu dampaknya adalah kurangnya tenaga kerja, sehingga beban ekonomi negara bertambah. Lebih jauh, depopulasi akan berdampak pada kejatuhan suatu negara. Pernyataan ini bisa dikonfirmasi pada hasil penelitian seorang antropolog dan sejarawan Prancis Emmanuel Todd dalam bukunya La Chute Finale 1976. Kala itu ia memprediksi negara adidaya Uni Soviet akan runtuh dilihat dari angka kematian bayi yang terus meningkat.

Terbaru dalam bukunya La Défaite de l’Occident (2023), Todd pun memprediksi kejatuhan negara-negara Eropa dan Amerika Serikat dilihat dari persoalan demografi. Merebaknya childfree dan L68T di negara-negara Barat, menjadikan prediksi Todd sangat mungkin terwujud kembali.

Dampak buruk childfree telah tampak jelas, namun sayang pemerintah malah terkesan abai terhadap fenomena childfree ini. Tidak ada upaya serius untuk membendung pemikiran childfree ini. BKKBN hanya berupaya untuk semakin menggencarkan program KB (Keluarga Berencana dengan dua anak) yang itu pun malah terkesan membatasi anak, bukan menyemangati keluarga untuk memiliki buah hati yang berkualitas.

Bahkan pemerintah terlihat mendukung dengan membenarkan kampanye Komnas Perempuan bahwa childfree merupakan bagian dari HAM yang harus dihormati. Lantas apa yang menyebabkan childfree semakin marak dan bagaimana islam menjawab fenomena ini?

Faktor Penyebab

Ada banyak faktor yang menyebabkan maraknya childfree. Pertama, ketakutan akan masa depan. Beban kehidupan yang amat berat menjadikan banyak individu memilih untuk tidak memiliki anak, baik itu dengan tidak menikah ataupun menikah tetapi tidak berencana memiliki anak. Hidup tanpa memiliki anak saja sudah sangat sulit apalagi ditambah memiliki anak. Logika ini makin masuk pada pemikiran umat, terutama pada perempuan muda. Mereka merasa memiliki beban ganda jika memiliki anak.

Kedua, para perempuan merasa memiliki hak reproduksi yakni mereka bebas memilih apakah mau melahirkan ataukah tidak. Meski memiliki rahim, mereka bebas menentukan diisi atau tidak rahimnya. Sebabnya, menjadi seorang ibu bukan lagi hal yang didambakan oleh kaum hawa, mengingat banyak sekali persoalan menyangkut tugas seorang ibu. Mulai dari drama pengasuhan hingga kebebasan yang terenggut.

Ketiga, persoalan ekonomi. Kemiskinan yang akut, menjadikan banyak perempuan berpikir ulang untuk menikah dan memiliki anak. Sebab biaya kebutuhan hidup semakin naik, di satu sisi pendapatan stagnan bahkan berkurang. Perempuan merasa tidak boleh bergantung pada laki-laki agar bisa disebut wanita mandiri yang produktif.

Wujud Sekularisme

Ketiga penyebab di atas sebenarnya merupakan dampak dari penerapan sistem kehidupan sekuler kapitalisme di negeri ini. Sekularisme adalah satu pemahaman yang menyingkirkan agama dari kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Inilah yang menyebabkan umat tidak menjadikan agama sebagai pedoman hidupnya. Walhasil, segala sesuatu yang ia pahami, ia lakukan, ia inginkan, dan yang membuatnya bahagia tidak selaras dengan syariat.

Misalnya konsep rezeki, masyarakat sekuler tidak memahami bahwa rezeki itu di tangan Allah Swt. dan setiap anak membawa rezekinya masing-masing. Tidak heran, childfree menjadi pilihan di tengah kehidupan yang serba mengimpit ini. Begitu pun hakikat penciptaan, masyarakat sekuler tidak memahami bahwa tujuan penciptaan manusia adalah beribadah kepada Allah Swt.. Mereka terjebak dengan kehidupan materialistis yang menjadikan kepuasan jasadiah (fisik dan materi) sebagai tujuan amalnya.

Sekularisme pun melahirkan liberalisme yakni berupa kebebasan bertingkah laku. Mereka pun merasa bebas melakukan segala sesuatu yang mereka kehendaki tanpa peduli kondisi di sekitarnya. Ini termasuk para perempuan yang memilih untuk tidak memiliki anak. Mereka tidak peduli tindakannya merugikan atau tidak, misalnya dapat menyebabkan depopulasi dan penurunan penduduk usia produktif.

Selain itu, jauhnya mereka dari agama menjadikan propaganda feminisme yang jelas-jelas bertentangan dengan syariat malah dibenarkan. Misalnya saat mereka menuntut laki-laki dan perempuan setara dalam berbagai aspek. Jika laki-laki bisa menjadi kepala rumah tangga, perempuan pun turut merasa berhak atas hal itu. Begitu pula jika laki-laki tidak melahirkan, perempuan pun merasa berhak untuk tidak melahirkan meski memiliki rahim. Sedangkan sejatinya semua itu dapat mengancam keberlangsungan eksistensi umat manusia.

Dampak Kapitalisme

Sistem ekonomi kapitalisme memperparah kehidupan masyarakat sekuler yang jauh dari agama. Sistem ekonomi yang tidak mengenal pemerataan ini menjadikan ketimpangan antara si kaya dan miskin semakin tinggi. Akumulasi modal yang diagung-agungkan sistem ini menjadikan jumlah orang miskin semakin banyak dan yang kaya semakin sedikit dengan jumlah kekayaan yang semakin banyak.

Menurut laporan dari Oxfam, 10% populasi dunia menguasai sekitar 90% dari total kekayaan dunia. Sebaliknya, 90% penduduk dunia memperebutkan 10%-nya. Inilah pangkal malapetaka dan sumber konflik sosial karena 90% penduduk akan sikut-sikutan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun, alih-alih berupaya mendistribusikan harta dari yang kaya kepada yang miskin, sistem ekonomi kapitalisme malah makin mengeksploitasi si miskin.

Inilah yang menyebabkan banyak perempuan bahkan laki-laki enggan memiliki anak karena memiliki anak sama dengan menambah beban ekonomi keluarga. Mereka khawatir tidak mampu membiayai tumbuh kembang anak-anaknya dengan optimal.

Tidak pelak, pihak yang paling bertanggung jawab terhadap enggannya perempuan muda memiliki anak dengan alasan ekonomi adalah sistem kapitalisme itu sendiri. Sistem ini menihilkan peran negara dalam mengatur urusan rakyatnya. Rakyat dipaksa berjuang sendiri di tengah ketakadilan kepemilikan atas sumber daya ekonomi.

Terlebih saat dunia mengalami ledakan penduduk, maka negara-negara Barat berusaha mengurangi populasi dunia dengan Teori Malthus-nya. Secara historis, propaganda childfree adalah salah satu dari banyak upaya untuk mengurangi populasi penduduk. Upaya lainnya seperti L68T, waithood, not married, dan lain-lain pun terus dideraskan, khususnya pada negeri-negeri muslim.

Jelas, childfree bukan hanya berbicara sebatas tidak mau memiliki anak. Namun lebih dari itu, propaganda ini mengandung cara pandang Barat yang keliru dan bertentangan dengan Islam. Pembahasan childfree bukan sekadar ke arah pembahasan fikih seputar boleh-tidaknya membujang atau boleh-tidaknya menikah tetapi tidak punya anak. Melainkan lebih dari itu, harus sampai tataran mengkaji latar belakang dan dampak childfree bagi kehidupan umat manusia, serta mekanisme Islam dalam mengatasi fenomena ini dengan sempurna.

Sistem Islam Menguatkan Akidah

Menanggapi merebaknya fenomena childfree di tengah-tengah umat sebenarnya bisa dikembalikan kepada sistem kehidupan yang tidak berlandaskan Islam. Sebab fenomena ini ada saat akidah Islam tidak bersemayam utuh dalam diri kaum Muslim. Sistem kehidupan Islam akan menuntun umat untuk memiliki akidah yang kuat sehingga akan muncul ketakwaan yang tinggi.

Misalnya, konsep rezeki. Kaum muslim yang memiliki akidah yang kukuh akan meyakini bahwa rezeki itu datangnya dari Allah Swt.. Memilih childfree karena dalih ekonomi jelas bertentangan dengan akidah Islam. Apalagi menganggap bahwa anak adalah beban ekonomi, atau memilih childfree karena takut miskin, maka semua itu bertentangan dengan Islam.

Allah Taala berfirman dalam ayat, “Allah Maha Lembut terhadap hamba-hamba-Nya; Dia memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS Asy-Syura [42]: 19).

Juga ayat, “Janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan (juga) kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka itu adalah suatu dosa yang besar.” (QS Al-Isra [17]: 31).

Akidah yang kukuh akan memunculkan ketakwaan yang tinggi sehingga perilaku kaum muslim akan senantiasa sesuai dengan perintah dan larangan Allah Swt.. Kaum muslim juga disunahkan untuk menikah karena salah satu tujuan pernikahan adalah melestarikan keturunan.

Allah Taala berfirman, “Allah menjadikan bagimu pasangan (suami atau istri) dari jenis kamu sendiri, menjadikan bagimu dari pasanganmu anak-anak dan cucu-cucu, serta menganugerahi kamu rezeki yang baik-baik.” (QS An-Nahl [16]: 72).

Dengan demikian, seorang perempuan akan senang hati mengandung, melahirkan, dan mengasuh anaknya. Hal itu adalah amanah besar yang mengandung pahala berlimpah. Inilah yang diperoleh orang-orang yang childfree.

Para muslimah taat syariat justru akan menganggap peran seorang ibu adalah yang utama. Mereka tidak akan berambisi menjadi wanita karir yang bisa menghasilkan banyak materi. Jika mereka keluar rumah, jelas bukan untuk mencari nafkah sebab itu adalah kewajiban suaminya. Bukan pula untuk mencari eksistensi, sebab ia tidak butuh penilaian manusia, yang ia butuhkan semata adalah keridaan Sang Pencipta.

Namun jika lantas seorang perempuan keluar rumah untuk bekerja, semata semua itu sebagai kontribusinya bagi kemaslahatan umat. Aktivitasnya di luar rumah tidak melalaikan tugas utamanya sebagai ummun wa rabbatul baiti (ibu dan pengatur rumah tangga).

Sistem Ekonomi Islam

Jika sistem ekonomi kapitalisme menjadikan para perempuan takut memiliki anak, sebaliknya dengan Islam para perempuan akan dengan tenang menjadi seorang ibu sebab seluruh kebutuhannya telah tercukupi. Para perempuan tidak dibebani peran ganda, mengasuh sekaligus membantu ekonomi keluarga. Para suami akan menafkahinya dengan sebaik-baik nafkah suami pada istrinya.

Jika suaminya tidak ada, kewajiban nafkah akan jatuh pada walinya. Jika seluruh walinya tidak bisa menafkahi, negara akan langsung menyantuninya. Santunannya berupa seluruh kebutuhan pokok, sandang, pangan, papan juga jaminan kesehatan, keamanan, dan pendidikan, sehingga ia tidak perlu risau dengan masalah ekonomi.

Negara tidak akan lepas tangan terhadap apa yang menjadi kebutuhan umat. Fungsi negara  di dalam Islam adalah mengurusi seluruh urusan umatnya. Negara akan mempermudah rakyatnya dalam mencari nafkah, membantunya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, dan melindunginya dari segala macam bahaya termasuk pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan Islam. Sebagaimana childfree, ide ini tidak akan dibiarkan masuk untuk menjadi propaganda di tengah-tengah umat. Dengan begitu umat terutama generasi mudanya fokus pada amal yang sesuai dengan perintah Allah SWT.

Sistem ekonomi Islam yang kuat tidak bisa dilepaskan dari sistem keuangannya yang kuat. Pemasukan baitulmal yang melimpah menjadikan negara mampu mengurus umat dengan kualitas terbaiknya. Distribusi kekayaan pun akan terus diupayakan agar harta tidak hanya berputar pada orang kaya saja.

Khatimah

Sungguh, fenomena childfree lahir dari sistem kehidupan yang sekuler kapitalisme. Kaum muslim harus menyadari hal ini. Satu-satunya langkah solutif dan tuntas untuk menghilangkan fenomena sekuler ini adalah dengan menyadarkan umat akan pentingnya penerapan syariat Islam secara kafah dalam bingkai Khilafah Islamiah. Dengan demikian, berbagai propaganda yang bertentangan dengan Islam sebagaimana childfree tidak akan dibiarkan beredar luas. Wallahualam bissawab. [MNews/KR-NA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *