Muslimah News, INTERNASIONAL – Menyoroti terbunuhnya pemimpin Hama*s Ismail Abdul Salam Ahmad Haniyah (Ismail Haniyah) pada Selasa 31 Juli 2024 lalu, cendekiawan muslim Ustaz Ismail Yusanto (UIY) menegaskan, jika Zion*s Yahudi mengira itu akan memperlemah Hama*s, kecele!
“Jika [Zion*s] Yahudi mengira bahwa dengan terbunuhnya Ismail Haniyah, Hama*s akan melemah apalagi punah, ia kecele,” tuturnya di acara Fokus Live Streaming: “Di Balik Pembunuhan Ismail Haniyah,” melalui kanal Youtube UIY Official, Ahad (4-8-2024).
UIY lalu membacakan Al-Qur’an surah Ali-Imran ayat 169 yang intinya menegaskan bahwa orang yang terbunuh di jalan Allah itu hidup. “Secara zahir memang ia mati, tetapi kematiannya itu menghidupkan perjuangan,” tukasnya.
UIY menerangkan, anak-anak Palestina menemukan kesadaran perlawanan sejak dari kecil karena mereka melihat dengan mata kepala sendiri kejinya Zion*s Yahudi, keistikamahan orang tua mereka melakukan perlawanan, kemudian ibunya tidak pernah menampakkan rasa duka terhadap semua yang terjadi. “Jadi, terbunuhnya Ismail Haniyah ini akan memperbesar perlawanan,” tandasnya.
Dua Kesadaran
UIY berharap, terbunuhnya pemimpin Hama*s ini akan menjadi momentum sangat berharga untuk menumbuhkan dua kesadaran penting.
“Pertama, kesadaran bahwa Palestina saat ini betul-betul dalam penguasaan penjajah Zion*s Yahudi. Ini fakta yang tidak bisa dibantah atau dipungkiri oleh siapa pun. Jika ada yang mengatakan perdamaian, maka apa yang terjadi sekarang, itu secara faktual membantah angan-angan perdamaian, termasuk juga pikiran-pikiran two state solution,” ulasnya.
Ketika entitas Zion*si tidak pernah berhenti berpikir tentang Israel Raya yang dikatakan telah dijanjikan Tuhan (The Promised Land), sambungnya, maka mereka tidak akan pernah berhenti menjajah Palestina.
“Kedua, apa yang terjadi di Palestina itu menunjukkan kepada kita betapa lemahnya umat Islam ini hari. Bagaimana bisa kita yang jumlahnya hampir dua miliar tidak berdaya menghadapi sebuah negara seuprit (kecil) yang penduduknya cuma 7,6 juta,” sesalnya.
Meski Yahudi didukung negara-negara besar, seperti Amerika, Inggris, Perancis, sambungnya, tetap saja jumlah kaum muslim itu sangat besar.
“Kita lemah karena kita tidak bersatu. Kenapa tidak bersatu? Karena kita selama ini tidak memiliki dua unsur penting yang menyatukan kita,” tukasnya.
Yang pertama, sebutnya, adalah entitas politik yang dibentuk untuk menyatukan umat. Entitas politik itu, terangnya, disebut dengan Khilafah.
Namun, UIY menyesalkan, Khilafah yang merupakan bagian ajaran Islam masih banyak ditolak dan dikatakan utopis.
“Bagaimana bisa? Di tengah situasi kayak begini lalu di sini ada ajaran Islam yang bila diterapkan bisa menjadi solusi atas apa yang sedang kita alami, justru dianggap utopis,” ucapnya heran.
Ia balik mempertanyakan, jika solusinya bukan Khilafah lalu apa yang bisa menyatukan kaum muslim?
“PBB? Ada lebih dari 37 resolusi Dewan Keamanan PBB yang tidak dianggap oleh Zion*s. Ini institusi dunia apalagi yang di bawahnya seperti Arab atau ASEAN, lebih tidak dianggap lagi,” yakinnya.
Kedua, sebutnya, tidak ada pemimpin yang memang dipilih atau berdiri untuk menyatukan umat. “Pemimpin itu namanya khalifah. Khilafah dan khalifah itu ajaran Islam, istilah Islam. Mestinya dua hal ini yang harus segera diwujudkan oleh umat Islam,” harapnya.
Hilang
UIY menyesalkan, kesadaran yang seharusnya ditumbuhkan di tengah umat bahwa masalah Palestina itu adalah masalah penjajahan justru makin hilang.
“Coba kita tengok, di website resmi Kementerian Luar Negeri, kata-kata penjajah sudah tidak ada. Dahulu masih ada dan itu sering disampaikan oleh pejabat Kementerian Luar Negeri. Sekarang kata-kata penjajahan sudah enggak ada. Itu berarti kemunduran dari segi narasi,” ulasnya.
Ia lalu mempertanyakan, bagaimana mau merebut kembali wilayah Palestina yang diambil oleh penjajah, sedangkan tidak mengakui Zion*s sebagai penjajah.
“Jadi, kekalahan narasi itu sudah sangat nyata. Oleh karena itu, kita mesti membangkitkan kembali di tengah-tengah umat dengan narasi-narasi yang benar,” ajaknya.
Menurutnya, Barat tahu bahwa khalifah dan Khilafah adalah solusi. Keduanya, lanjutnya, akan membuat umat Islam bangkit dan berjaya, serta memiliki kekuatan lagi. “Itulah mengapa mereka mencoba menghentikan narasi Khilafah,” tandasnya.
Penghentian narasi itu, lanjutnya, menggunakan mulut tokoh-tokoh Islam untuk mendiskreditkan Khilafah dengan menyebutnya sebagai terorisme, radikalisme. “Celakanya tokoh-tokoh itu ngikut aja,” ujarnya heran.
UIY merasa sedih, di satu sisi hati tersayat-sayat melihat apa yang terjadi di Palestina, tetapi di sisi lain dongkol berhadapan dengan saudara sesama muslim yang membebek dan menjadi amplifier narasi-narasi Barat yang bertentangan dengan Islam.
Meski demikian, UIY tetap optimis, perjuangan makin berharga karena berhadapan dengan kekuatan dan tantangan yang luar biasa berat.
“Saya kira syahidnya Ismail Haniyah bisa menyiram semangat perjuangan dan jihad yang luar biasa pada anak-anak muda di seluruh dunia, khususnya di Palestina,” pungkasnya. [MNews/IA]

Allahu Akbar!!!