[Kabar] Ibu-Ibu Asyik Berjoget Sambil Menenggak Miras, Aktivis: Memalukan!

[Kabar] Ibu-Ibu Asyik Berjoget Sambil Menenggak Miras, Aktivis: Memalukan!

Muslimah News, Lensa Daerah – Sempat viral di media sosial, video ibu-ibu di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, pesta minuman keras (miras). Video itu memperlihatkan sejumlah ibu-ibu asyik berjoget di atas panggung diiringi alunan musik DJ.

Di tangan mereka, terlihat sejumlah botol miras yang telah terbuka. Bahkan, satu diantaranya sedang meminta bantuan kepada seseorang untuk membuka botol miras yang dipegangnya untuk diminum.

Aksi ini menjadi tontonan anak-anak yang ikut berjoget serta warga yang menyaksikan dari bawah panggung. Sementara itu, ibu-ibu yang tengah asyik bersulang malah acuh dan terus menenggak miras meskipun hanya menggunakan gelas plastik bekas air mineral kemasan. Di antara meraka bahkan mengabadikan momen tersebut dengan kamera ponselnya sambil tertawa.

Dengan latar belakang dan jenis yang berbeda, pesta dengan menyediakan minuman keras telah menjadi tradisi di beberapa daerah di Indonesia.

Memalukan

Menyoroti peristiwa di atas, aktivis muslimah Halimah Noer mengatakan, sungguh memalukan, bagaimana bisa ibu-ibu tersebut melakukan tindakan yang sangat tidak terpuji seperti itu?

“Joget sambil menenggak miras di pesta pernikahan, sambil ditonton banyak orang, termasuk anak-anak kecil. Parahnya, ibu ibu tersebut melakukannya dengan begitu bahagia, tak tampak rasa malu sedikit pun. Bukankah seharusnya seorang ibu memberikan teladan yang baik?” tuturnya kepada MNews, Selasa (6-8-2024).

Menurutnya, kejadian semacam ini hanya mungkin terjadi dalam sistem sekuler kapitalisme. Dalam sistem Islam, ucapnya, tidak mungkin ada ibu yang mau melakukan perbuatan tidak terpuji semacam itu.

“Sistem sekuler kapitalisme yang diterapkan masyarakat dan negara hari ini telah menjadikan agama dipahami hanya sebatas ibadah ritual. Mereka menganggap, bahwa yang penting dilakukan bagi seorang muslim hanyalah taat kepada Allah dalam menjalankan ibadah ritual (mahdhah) seperti salat, puasa, zakat, dan ibadah mahdhah lainnya,” bebernya.

Sedangkan di luar ibadah mahdhah, ia melanjutkan, seperti dalam masalah pendidikan, politik, ekonomi, dan sosial, maka boleh bagi muslim mengambil hukum dan aturan selain Islam.

“Maka wajar kita dapati hal-hal yang sangat paradoks di masyarakat saat ini, seperti seorang muslimah yang rajin salat, juga memakai kerudung, tetapi berpacaran, bahkan sampai berzina. Seorang pejabat yang tidak pernah ketinggalan salat fardu, bahkan berjemaah di masjid, tetapi sangat rakus memakan harta rakyat,” ujarnya.

Demikian pun kasus ibu-ibu di Jeneponto ini, sambungnya, mereka memakai kerudung, tetapi tidak ada rasa malu menenggak minuman haram di hadapan orang banyak.

“Ini dikarenakan mereka menerapkan gaya hidup sekuler. Bisa jadi hal itu bukan yang pertama kali mereka lakukan,” duganya.

Ia merasa prihatin, minuman haram masih menjadi bagian dari keseharian sebagian umat Islam di negeri ini.

“Parahnya, pemerintah malah melestarikan budaya miras tradisional karena dianggap bagian dari kearifan lokal. Kok bisa hal yang haram dianggap sebagai sesuatu yang harus dilestarikan? Itulah realitas di negara sekuler,” kritiknya.

Ibu Generasi

Ia lalu membandingkan peran Ibu dalam sistem Islam. “Islam menempatkan sosok ibu sebagai ummu ajyal, (ibu generasi). Ia bukan hanya menjadi ibu bagi anak anaknya, tetapi hakikatnya ibu peradaban karena dari rahimnyalah lahir generasi masa depan,” jelasnya.

Oleh karenanya, ia menerangkan, Islam sangat menjaga agar para ibu ini menjalankan peran strategisnya sebagai pendidik generasi.

“Islam akan menjaga agar kaum ibu tidak rusak sebab rusaknya ibu akan membawa kerusakan besar pada masyarakat pada masa yang akan datang. Islam menetapkan ibu adalah pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya, maka ibu harus menjadi teladan. Ibu harus bisa menjadi tuntunan, bukan menjadi tontonan,” urainya.

Caranya, ia menguraikan, mendidik para muslimah agar siap menjadi ibu tangguh, ibu berkualitas, memiliki kepribadian Islam yang kuat, memiliki keilmuan yang cukup, juga keterampilan dan keahlian yang memadai untuk menjadi pendidik generasi, siap menjadi guru pertama dan utama bagi anak-anaknya.

“Siapa yang seharusnya bertanggung jawab mendidik para muslimah ini? Pertama, kedua orang tuanya yang harus mendidik anak-anak perempuan mereka agar siap menjadi ibu tangguh,” jelasnya.

Kedua, sebutnya, ketika seorang perempuan sudah menikah, maka suaminya yang bertanggung jawab mendidiknya agar ia mampu menjadi ibu yang terbaik bagi anak-anaknya.

“Ketiga, masyarakat juga seharusnya ikut andil dalam mewujudkan sosok ibu berkualitas ini, yakni dengan cara melakukan amar makruf nahi munkar, menasihati ketika melihat ada muslimah atau ibu yang melanggar larangan Allah, seperti meminum miras sebagaimana kasus di atas,” bebernya.

Keempat, ia menyebut, negara yang harus bertanggung jawab. Namun, tegasnya, tidak mungkin berharap kepada negara sekuler melakukan tanggung jawab ini.

“Sosok ibu tangguh, berkualitas, menjadi teladan dan panutan, hanya akan terwujud dalam negara yang menerapkan sistem Islam. Itulah negara Khilafah. Negara Khilafah akan menerapkan sistem pendidikan Islam dengan kurikulum berbasis akidah Islam,” jelasnya.

Sistem pendidikan Islam, imbuhnya, akan memastikan output yang dihasilkan memiliki kepribadian Islam yang kuat.

“Mereka paham Islam secara keseluruhan dan berusaha untuk taat kepada Allah dalam seluruh aspek kehdupan. Para muslimahnya siap menjadi ibu yang berkualitas dan sudah mendapatkan bekal pendidikan yang cukup untuk menjadi madrasah ula bagi anak-anak yang akan dilahirkannya,” jelasnya.

Khilafah, ucapnya, juga akan memastikan para ibu dipenuhi semua kebutuhannya, dijamin nafkahnya, dijaga keamanannya, dilindungi dari berbagai kejahatan dan bahaya, juga dilindungi dari berbagai pemikiran yang akan merusaknya.

“Itu semua dilakukan agar kaum ibu bisa fokus menjalankan tugasnya sebagai ummu ajyal, yakni ibu pendidik generasi yang pertama dan utama,” tukasnya.

Ia menjelaskan, Khilafah melakukan berbagai aktivitas tersebut semuanya dalam rangka mengurus seluruh urusan rakyatnya untuk mengamalkan hadis Rasulullah saw. riwayat Bukhari, “Seorang imam (pemimpin) adalah bagaikan pengembala, dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya,” tutupnya. [MNews/IA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *