[Kabar] Forum Tokoh Muslimah: Judol Makin Banyak Menimbulkan Kerusakan, Islam Solusinya

[Kabar] Forum Tokoh Muslimah: Judol Makin Banyak Menimbulkan Kerusakan, Islam Solusinya

Muslimah News, NASIONAL — Tokoh muslimah se-Indonesia mengungkap keprihatinan terhadap penyebaran judi online (judol) di tengah masyarakat yang memengaruhi mental health dan menimbulkan banyak persoalan baru.

Dalam forum Bincang Hangat Tokoh Muslimah: “Darurat Judi Online, Butuh Solusi Sistemis”, Jumat (12-7-2024), yang dihadiri 40 peserta secara luring dan lebih dari 500 peserta secara daring, persoalan ini disorot untuk dicarikan solusinya secara mendasar.

Banyak Kerusakan

Menurut aktivis muslimah Iffah Ainur Rochmah, judol ini makin mengerikan, makin banyak kerusakan yang terjadi.

“Bukan hanya judinya sendiri yang membuat adiksi, tetapi ada kejahatan lainnya yang berkelindan sangat erat dengan judol ini. Judol bisa dikawinkan dengan pinjaman online (pinjol). Jadi, kalau uang untuk judi habis, bisa nyari pinjol, habis itu! Pasti kerusakan-kerusakan berikutnya akan terjadi,” ujarnya prihatin.

Ia menerangkan, lotre, kupon, atau sumbangan berhadiah, itu sama dengan judi. “Namun, dilegalkan dengan UU tergantung wajah peradaban dan tergantung wajah pemerintahan yang saat itu sedang berjalan pakai sistem apa, pakai aturan apa?” tuturnya.

Ia menggambarkan bahwa wajah peradaban hari ini tidak ada bedanya dengan peradaban dahulu sebelum Islam hadir. “Ini karena saat ini Islam ditinggalkan,” ucapnya.

Faktor

Dalam kesempatan ini, konselor Putri Angelina, M.Pd.Kons. membeberkan faktor terjadinya judol. Pertama, dopamin. Ia menerangkan, saat bermain judi online, otak akan melepaskan hormon dopamin yang membuat seseorang merasa senang dan terpuaskan.

“Hal ini dapat memicu keinginan untuk terus bermain dan mencari sensasi yang sama, termasuk stimulasi hormon endorfin,” jelasnya.

Kedua, sebutnya, lingkungan, seperti stres, kecemasan, atau kesepian dapat menyebabkan seseorang mencari cara untuk melarikan diri dari situasi yang sulit. “Bermain judi online dapat memberikan pengalaman, sedangkan yang menyenangkan dan dapat memperkuat keinginan untuk terus bermain,” ungkapnya.

Ketiga, ucapnya, kemudahan akses dan ketersediaan. Putri mengatakan, ketersediaan judi online yang 24 jam membuatnya mudah diakses dan dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja. “Hal ini dapat memperkuat keinginan untuk terus bermain dan sulit untuk menghentikannya,” ujarnya.

Keempat, tuturnya, kurangnya kontrol diri. “Orang yang kurang memiliki kemampuan untuk mengontrol diri mungkin lebih rentan terhadap kecanduan judi online,” urainya.

Kondisi ini, paparnya, merupakan fitrah kapitalisme yang menginduk kepada sekularisme, yakni tidak akan berhenti dan tidak akan pernah puas mencari keuntungan sebanyak-banyaknya dengan kerakusannya, walau melanggar aturan sampai akhirnya mereka mati dicabut nyawanya.

Solusi

Untuk itu, pengamat politik Fatma Sunardi menyatakan, Islam punya solusi untuk mengatasi judi online.

Dalam konsep sistem pemerintahan Islam, Khilafah, urainya, negara bertanggung jawab mendidik rakyatnya, salah satunya melalui literasi digital yang masuk kurikulum pendidikan. “Semua orang yang masuk ke ranah digital itu sangat paham apa-apa yang membahayakan dan cara Islam mengaturnya,” ungkapnya.

Selain itu, aturan yang ada merupakan penerapan dari syariat Islam yang mengikat seluruh warga negara, termasuk pegawai negara dan penguasanya.

“Penegakan aturannya juga bagian dari penerapan syariat Islam dan ini tidak main-main, ada pengawasan. Siapa pun yang melanggar syariat, harus ditegakkan aturannya,” tegasnya.

Selanjutnya, Fatma menekankan, semua itu hanya bisa dilakukan kalau negara tersebut memiliki kedaulatan digital, yaitu berkuasa penuh terhadap peredaran konten dan informasi di ruang digital.

Kedaulatan digital, lanjutnya, hanya bisa terjaga apabila negara membangun back bone atau tulang punggung internetnya sendiri seperti yang telah dilakukan Cina dan AS.

“Negara harus mengembangkan perangkat lunak, perangkat keras, dan pusat datanya sendiri sehingga semua infrastruktur digitalnya–mulai dari properti digital hingga aksesnya–berada di bawah kendalinya. Itu semua membutuhkan riset dan industri yang luar biasa,” paparnya.

Oleh karenanya, ia menyatakan, Khilafah sebagai negara pertama (bukan pengekor-red.) akan membangun sistem poiitik dan sistem ekonomi. “Kebijakan yang diambil sangat mendukung dan pendanaan baitulmalnya kuat sehingga untuk membangun back bone menjadi sangat mudah,” ujarnya. [MNews/RA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *