Penulis: Dr. Rini Syafri
Sambungan dari bagian 2/2 “Pendahuluan”
Muslimah News, FOKUS — Kurikulum pendidikan Khilafah merupakan jantung sistem pendidikan. Ia adalah faktor penentu terwujudnya tujuan pendidikan Khilafah, di samping keberadaan para guru yang kompeten dan pemantauan prestasi anak didik beserta upaya peningkatannya.
Sistem pendidikan Khilafah tersusun dari sekumpulan hukum syarak yang terpancar dari akidah Islam. Mencakup berbagai aturan administrasi, termasuk pemanfaatan teknologi terkini bagi pencapaian tujuan pendidikan yang efektif.[1]
Akidah Islam wajib dijadikan sebagai landasan sehingga tujuan pendidikan, metode pengajaran, dan metode berpikir, tidak boleh menyimpang sedikit pun dari landasan tersebut. Demikian juga mata pelajaran, susunan, dan jam pelajaran beserta kompetensi dan standar yang harus dicapai.
Tujuan Pendidikan yang Sahih
Bagaikan kunci dan anak kunci, tujuan pendidikan Islam sebagai syariat Allah Taala menjadikannya satu-satunya yang kompatibel dengan tujuan penciptaan potensi istimewa bani Adam. Akhirnya, tercapailah puncak keistimewaan akal dan kedudukan insan sebagai khalifahtullah fil ardhi (pemakmur bumi dan pelaksana syariat Allah taala). Tujuan pendidikan Islam adalah satu-satunya petunjuk arah agar sistem pendidikan sampai pada hal-hal yang harus diraih. Inilah keistimewaan tujuan pendidikan Islam.
Secara umum, ada dua tujuan pokok sistem pendidikan Islam.
Pertama, membangun kepribadian islami, pola pikir (akliah) dan jiwa (nafsiah) bagi anak-anak umat. Keharusan ini disebabkan akidah Islam adalah asas kehidupan setiap muslim sehingga harus menjadi asas berpikir dan berkecenderungan.
Terdapat banyak ayat Al-Qur’an dan Hadis penggugah berpikir sebagai buah keimanan kepada Allah Taala. Misalnya, QS Ali Imran ayat 191, “Dan mereka berpikir tentang penciptaan langit dan bumi.” Rasulullah saw. bersabda, “Berpikir sesaat lebih baik dari pada beribadah setahun.” Juga banyak ayat Al-Qur’an dan Hadis pengingat agar seorang muslim cenderung dengan landasan akidah Islam, seperti QS At-Taubah ayat 24.
Strategi pendidikan wajib dirancang untuk perwujudan identitas keislaman yang kuat, baik dari aspek pola pikir maupun sikap. Metodenya dengan penanaman tsaqafah Islam berupa akidah, pemikiran, dan perilaku Islam ke dalam akal dan jiwa siswa. Oleh karenanya, kurikulum pendidikan Khilafah harus disusun dan dilaksanakan demi merealisasikan semua tujuan tersebut.
Kedua, mempersiapkan anak-anak kaum muslim agar di antara mereka menjadi para ulama yang ahli di setiap aspek kehidupan, baik ilmu-ilmu keislaman (ijtihad, fikih, dan peradilan); maupun berbagai bidang sains, (teknik, kimia, fisika, dan kedokteran), yakni para ilmuwan, pakar, dan ahli.
Metode Berpikir Akliah
Pencapaian kedua tujuan pendidikan Islam di atas pada diri siswa adalah niscaya. Pembelajaran dalam kurikulum sistem pendidikan Islam berlangsung dengan metode berpikir yang bersifat manusiawi, yakni metode akliah yang menjadikan akal sebagai asas berpikir dan penilai kebenaran.
Berpikir akliah akan berlangsung ketika terdapat empat unsur, yaitu akal, alat indra, fakta, dan informasi sebelumnya. Ia adalah aktivitas mengaitkan antara fakta yang terindra dan informasi sebelumnya.
Sifat metode berpikir akliah yang manusiawi dan alamiah ini meniscayakan dapat digunakan secara otomatis, terlepas dari tingkat pendidikannya karena Allah telah menganugerahkan akal bagi setiap insan. Metode akliah juga layak digunakan untuk semua cabang pengetahuan dan bidang penelitian, baik ilmu alam, fisika, politik, dan sebagainya.
Selain itu, berpikir akliah memiliki dua keunggulan dibandingkan berpikir ilmiah. Pertama, mampu menciptakan pemikiran-pemikiran baru. Kedua, mampu memberikan hasil yang pasti (qath’i) tentang kebenaran sesuatu. Kedua kebenaran ini dibutuhkan manusia untuk memahami makna kehidupan. Berbeda dengan berpikir ilmiah yang bersifat probabilistik yang tidak dihasilkan darinya selain dugaan-dugaan.[2]
Adapun berpikir ilmiah, ia berkedudukan sebagai teknis berpikir; dimanfaatkan sesuai kelayakannya sebagai teknis dan uslub berpikir dalam ilmu-ilmu eksperimental dan beberapa bidang pengetahuan yang dapat diuji di laboratorium.
Metode Pengajaran Tsaqafah Islam
Penanaman tsaqafah Islam adalah niscaya ketika berpikir akliah dijadikan sebagai metode berpikir. Metode pembelajaran tsaqafah Islam mengacu pada tiga prinsip yang metode berpikir akliah berperan sentral di dalamnya. Pertama, mendalam hingga diperoleh hakikatnya. Kedua, meyakini sesuatu yang dicapai melalui pembahasan tersebut. Ketiga, diambil secara praktis untuk diterapkan dalam kancah kehidupan.[3]
Tsaqafah Islam adalah pemikiran yang mendalam dan cemerlang karena dibangun di atas akidah Islam sehingga meniscayakan terwujudnya aspek ruhiah atau kesadaran hubungan dengan Allah Taala. Di sisi lain, pembelajarannya berlangsung di atas tiga prinsip istimewa sehingga setiap individu yang mempelajarinya niscaya memiliki pemikiran cemerlang, perasaan halus lagi peka, serta produktif berpikir dalam memecahkan berbagai persoalan kehidupan.
Pada gilirannya, metode pembelajaran ini menjadikan setiap muslim berjalan menuju kesempurnaan dengan penuh ketaatan dan kepasrahan. Ia tidak akan dapat dibelokkan meski sehelai rambut sebab pemikiran-pemikiran Islam bersifat berpengaruh dan membangkitkan.
Berhubung bersifat realistis pula, ia akan benar dan solutif, serta memiliki semangat berkobar dan berkemampuan luar biasa dalam menjawab berbagai problem yang ada. Solusinya detail dan cermat, baik bagi persoalan yang mudah maupun sulit. Pada dirinya terbentuk akliah islamiah seiring tercerdaskannya akal dan tenangnya jiwa. Sedangkan nafsiah islamiah yang terbentuk, akan dipenuhi keimanan yang sempurna.
Materi Esensial bagi Tujuan Pendidikan Islam
Tsaqafah Islam adalah materi pokok paling esensial pada kurikulum pendidikan Khilafah. Hanya dengan tsaqafah Islam akan terwujud kepribadian Islam pada para siswa sebagai identitas dasar mereka. Hal itu berupa pola pikir Islam sebagai metode penetapan hukum terhadap suatu benda, perkataan dan perbuatannya pun sesuai ketetapan syarak.
Juga pola kecenderungan siswa akan terwujud sesuai ketetapan Islam yang selanjutnya membentuk pola sikap Islam. Artinya, hanya dengan tsaqafah Islamlah akan terealisasi tujuan dasar pendidikan yang harus dicapai di setiap jenjang pendidikan.
Dengan demikian, tsaqafah Islam harus diajarkan di seluruh jenjang pendidikan dengan alokasi jam pelajaran yang disesuaikan tuntutan kebutuhan untuk mewujudkan tujuan pendidikan tersebut. Materi pokok selain tsaqafah Islam (matematika, ilmu pengetahuan, keterampilan, dan kerajinan), didesain sedemikian rupa dalam kurikulum pendidikan Khilafah. Ini dalam rangka mempersiapkan anak-anak kaum muslim agar di antara mereka menjadi para ulama yang ahli di setiap aspek kehidupan, baik ilmu keislaman (ijtihad, fikih, dan peradilan); maupun berbagai bidang sains (teknik, kimia, fisika, dan kedokteran), yakni para ilmuwan, pakar, dan ahli.
Inilah satu-satunya kurikulum yang memiliki jaminan bagi terwujudnya pendidikan berkualitas. Kurikulum pendidikan Khilafah dirancang di atas fondasi akidah Islam untuk mencerdaskan generasi dan terwujudnya kesejahteraan masyarakat, baik aspek tujuan pendidikan, metode pembelajaran, metode berpikir, maupun struktur kurikulum.
Khatimah
Kurikulum pendidikan Khilafah adalah satu-satunya kurikulum yang layak bagi bani insan; satu-satunya yang bisa menjawab berbagai tantangan persoalan pendidikan di sepanjang zaman, termasuk abad ini. Tinta emas sejarah peradaban Islam telah membuktikan keunggulannya dan dunia akan menyaksikan perkara ini untuk kedua kalinya.
Penerapan kurikulum ini adalah satu-satunya jalan untuk mewujudkan pendidikan berkualitas, sekaligus mengakhiri kelalaian negara atas umat. Pada tataran ini, hadirnya kembali Khilafah—berikut politik dan sistem pendidikannya yang sahih—adalah perkara urgen.
Penting untuk dicatat, kembalinya kehidupan Islam adalah janji Allah Taala yang pasti, sekaligus kewajiban yang diamanahkan kepada kita semua. Firman-Nya dalam QS Al-Anfal: 24, “Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul (Nabi Muhammad) apabila ia menyerumu pada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu! Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya; dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” Wallahualam. [MNews/Gz]
[1]‘Atha bin Khalil. Usus Ta’liim al-Manhaji fi Ad-Daultil Khilafah. Daul Ummah Beirut. 2004.
[2] “Kritik terhadap Pemikiran Barat Kapitalis”. Ideologi-Peradaban dan Tsaqafah. Terjemahan. Penerjemah. Yahya Abdurrahman. Pustaka Fikrul Islam. 2022
[3]An-Nabhani. Thariqah Islam fi ad-Darsi. Asy-Syakhshayyah Islamiah. Al-Juz al-Awwal. Darul Ummah Beirut. 2003
