Penulis: Ustaz Arief B. Iskandar
Muslimah News, NAFSIYAH — Mesti selalu disadari bahwa kesenangan, kebahagiaan, dan kenikmatan apa pun di dunia ini sangat sedikit. Sabda Rasulullah saw., “Demi Allah. Tidaklah (nikmat) dunia dibandingkan dengan (nikmat) akhirat, kecuali seperti seseorang dari kalian mencelupkan jarinya ke lautan, maka lihatlah air yang menempel di jarinya itu.” (HR Muslim).
Hadis ini mengandung arti bahwa nikmat dunia itu seperti air yang menempel di ujung jari. Amat sedikit. Sebaliknya, nikmat akhirat (surga) itu seperti luasnya samudra. Amat berlimpah.
Selain amat sedikit, semua nikmat duniawi juga bersifat sementara dan fana. Kematian akan menghentikan semua itu. Cepat atau lambat.
Benarlah apa yang dinyatakan oleh Muthraf bin asy-Syahir rahimahulLaah, “Sungguh kematian itu akan merusak (mengakhiri) nikmat dari orang-orang yang Allah beri nikmat. Oleh karenanya, carilah oleh kalian nikmat yang tidak akan pernah berakhir (yakni surga).” (Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubalaa’, 4/190).
Tentu tidak elok jika kita begitu bersemangat mengejar nikmat duniawi yang amat sedikit dan fana, tetapi mengerahkan usaha alakadarnya dalam meraih nikmat surga yang berlimpah dan abadi.
Oleh karenanya, mari kita selalu bersemangat mengusahakan nikmat surga yang amat berlimpah dan abadi (tidak akan pernah berakhir) melebihi semangat kita dalam meraih nikmat duniawi yang amat sedikit dan fana.
Oleh karena itu pula, semangat kita dalam melakukan beragam ketaatan (seperti salat berjemaah di masjid, tadarus Al-Qur’an dan zikir misalnya, atau hadir di majelis-majelis ilmu, menunaikan amanah dakwah, berjuang menegakkan syariat, dll.) seharusnya jauh melebihi semangat kita dalam mengusahakan harta, kekayaan, jabatan, dll.
Wa maa tawfiiqii illaa bilLaah ‘alayhi tawakkaltu wa ilayhi uniib. [MNews/YG]
Sumber: ariefbiskandar[dot]com
