[Kabar] UIY: Tidak Ada Jemaah Haji yang Berharap Hajinya Tidak Mabrur

[Kabar] UIY: Tidak Ada Jemaah Haji yang Berharap Hajinya Tidak Mabrur

Muslimah News, NASIONAL – Cendekiawan muslim Ustaz Ismail Yusanto (UIY) mengatakan, tidak ada jemaah haji yang berharap hajinya tidak mabrur.

“Allah Swt. menyebut surga sebagai sebaik-baik tempat kembali. Tidak ada tempat yang lebih baik dalam kehidupan nanti, kecuali surga, dan itu bisa diperoleh melalui haji mabrur,” ungkapnya di acara Focus to The Point: “Apa Makna Terpenting dari Haji Mabrur” melalui kanal UIY Official Channel, Selasa (25-6-2024).

Mengutip pendapat Imam As-Suyuthi dalam Syarah Hadis Sunan An-Nasai, UIY menjelaskan bahwa tanda mabrurnya haji seseorang adalah jika sepulang dari ibadah haji dalam keadaan lebih baik dari sebelumnya, dan tidak kembali kepada kemaksiatan.

“Nah, apa saja yang mestinya lebih baik? Yang pertama dan utama tentu saja adalah keimanan kepada Allah Swt. Tidak ada tema besar dari ibadah haji kecuali tauhid,” jelasnya.

Buah tauhid itu, lanjutnya, sebagaimana uswah hasanah dari perjalanan hidup Nabi Ibrahim as. dan keluarganya terwujud dalam ketaatan sepenuhnya kepada Allah Swt. apa pun perintah Allah itu, meskipun sekilas tampak sangat kejam atau tidak masuk akal.

“Jadi, ini yang mestinya ditangkap oleh jemaah haji. Oleh karena itu, mestinya juga orang yang pulang dari ibadah haji, keimanannya itu membuncah dan mengalami peningkatan yang luar biasa,” tandasnya.

Ia melanjutkan, buah dari keimanan yang membuncah itu adalah ketaatan kepada Allah Swt. dan terwujud pada kesediaan untuk melaksanakan yang wajib, meninggalkan yang haram, melaksanakan yang sunah sebanyak mungkin, meninggalkan yang makruh, dan memilih mubah yang bermanfaat.

Prihatin

UIY merasa prihatin, banyak para pejabat yang dalam melaksanakan ibadahnya tidak memiliki pengaruh terhadap kehidupan sosial, kehidupan politik, kehidupan ekonomi, dan kehidupan nyata di luar ibadah.

“Sesungguhnya setiap ibadah itu harus memberikan impact (pengaruh). Salat, misalnya, disebut mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Begitu juga dengan haji, haji itu luar biasa keteladanan seluruh perjalanan hidup Nabiyullah Ibrahim as.. Tapi, kenapa kok seperti tidak nyambung?” sesalnya.

Ia heran, negeri ini jemaah hajinya terbanyak di dunia tetapi di saat yang sama negeri yang mayoritas muslim itu dikenal sebagai negara dengan tingkat korupsi termasuk terbesar di dunia.

“Bahkan, terakhir juga ditambah dengan pelaku pinjol terbesar di dunia, pelacuran meski tidak terbesar, tapi cukup menonjol. Kenapa itu bisa terjadi? Saya kira memang ini yang jadi soal adalah rapuh atau lemahnya penghayatan terhadap substansi ibadah,” ulasnya.

Padahal, menurutnya, ibadah itu tidak akan pernah lepas dari gerakan atau simbol-simbol. Ia mencontohkan, saat sujud manusia meletakkan wajah pada posisi yang sangat rendah, lebih rendah dari pantat.

“Itu artinya kan sebenarnya di hadapan Allah, kita telah menyatakan merendahkan diri serendah-rendahnya dengan pengakuan bahwa kita ini hamba Allah yang mestinya tunduk kepada Allah,” tegasnya.

Banyak Faktor

UIY menerangkan, ada banyak faktor yang membuat manusia sepulang dari ibadah haji tidak taat kepada Allah Swt.. Pertama, sebutnya, pembimbingan yang tidak sempurna dan tidak masuk pada substansi ibadah.

“Kedua, bersangkutan dengan dirinya sendiri yang mungkin tidak punya kemauan untuk menggali substansi-substansi di balik seluruh makna manasik hajinya,” jelasnya.

Ketiga, jelasnya, pengaruh lingkungan. “Jadi, misalnya ia maunya berubah, tapi lingkungan tempat ia kerja memaksa untuk balik lagi, untuk korup lagi, untuk bersekutu di dalam kejahatan dan sebagainya,” cetusnya.

Oleh karena itu, UIY menegaskan bahwa perubahan yang dibutuhkan bukan sekadar perubahan individu, tetapi perubahan tatanan politik sehingga ketaatan dan ketakwaan makin terjaga.

“Itu harus di-drive oleh orang yang paling memiliki kewenangan dan kekuasaan karena dengan kewenangan dan kekuasaan itu, ia bisa melakukan banyak perubahan,” tandasnya.

Kalau itu dilakukan, ucapnya, maka ibadah haji itu luar biasa dan cukup sekali karena yang lain hanya repetisi.

“Jadi, sekali dalam seumur hidup harus ketangkap spirit dari ibadah haj,i yaitu tauhid. Kalau itu ketangkap, apalagi kemudian ia bisa mengalami sesuatu yang luar biasa pada saat wukuf di Arafah, saya kira luar biasa. Memang tidak sedikit mereka-mereka yang melakukan perubahan yang luar biasa sepulang dari ibadah haji,” pungkasnya. [MNews/IA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *