Penulis: Nabila Ummu Anas
Muslimah News, TARIKH KHULAFA — Sultan Muhammad al-Fatih mengadakan pertemuan dengan majelis syura yang terdiri dari anggota permusyawaratan dan para panglimanya, di samping para syekh dan ulama. Muhammad al-Fatih meminta pendapat mereka dengan terus terang terkait dengan proses penaklukan Kota Konstantinopel yang belum membuahkan hasil.
Di antara yang hadir dalam pertemuan tersebut ada yang mengusulkan agar Muhammad al-Fatih menarik pasukan dan membatalkan penaklukan. Salah satu yang mengusulkan ini adalah Menteri Khalil Pasha. Alasannya agar tidak terjadi pertumpahan darah dan tidak menimbulkan kemarahan orang-orang Kristen Eropa, jika kaum muslim menguasai kota mereka.
Zughanus Pasha
Sebagian yang hadir berusaha mendorong Sultan Muhammad al-Fatih untuk terus melanjutkan serangan terhadap Konstantinopel dan memintanya untuk mengabaikan kekuatan-kekuatan Eropa. Mereka juga menunjukkan semangat juang pasukan Turki Utsmani dalam rangka menuntaskan penaklukan Kota Konstantinopel.
Mereka menyebutkan bahwa menarik pasukan dapat menghancurkan semangat jihad mereka. Salah satu yang berpendapat demikian adalah seorang panglima yang sangat pemberani bernama Zughanus Pasha. Ia berasal dari Albania. Dahulu dia beragama Kristen lalu masuk ke dalam agama Islam. Dia yang menunjukkan kelemahan-kelemahan Eropa kepada Sultan Muhammad al-Fatih.
Tatkala Sultan Muhammad al-Fatih menanyakan sikap dan pandangannya maka dia melompat dari tempat duduknya dan berteriak lantang, “Tidak dan sekali-kali tidak, wahai Sultan! Saya tidak dapat menerima apa yang dikatakan oleh Khalil Pasha. Kami tidak datang kecuali untuk mati, bukan untuk kembali pulang.”
Motivasi Jihad Zughanus Pasha
Ucapan yang lantang ini memberikan pengaruh yang mendalam pada jiwa-jiwa yang hadir. Kemudian Zughanus Pasha melanjutkan perkataannya, “Sesungguhnya di balik perkataan Khalil Pasha terdapat keinginan untuk memadamkan semangat yang ada di dada kalian dan membunuh keberanian kalian. Akan tetapi, dia tidak akan kembali kecuali dengan kegagalan dan kerugian. Sesungguhnya pasukan Iskandar Agung yang berangkat dari Yunani menuju India, lalu mereka berhasil menguasai separuh Benua Asia yang besar dan luas, jumlah pasukannya tidak lebih besar daripada pasukan kita. Oleh karenanya, jika pasukan Iskandar Agung mampu menguasai negeri-negeri yang luas, apakah tentara kita tidak akan mampu menguasai tumpukan batu-batu yang bersusun-susun itu?”
“Khalil Pasha telah menyampaikan kepada kita bahwa negara-negara Eropa akan menyerang kita untuk membalas dendam. Akan tetapi, siapa yang dia maksud dengan negara-negara Eropa itu? Apakah yang dia maksud adalah negara-negara Latin yang sedang dilanda pertikaian dan konflik internal? Ataukah yang dimaksud adalah negara-negara di Laut Tengah yang tidak mampu melakukan apa-apa, kecuali merampok dan mencuri? Seandainya negara-negara itu ingin menolong Byzantium, pastilah mereka sudah melakukannya dengan mengirimkan pasukan dan kapal-kapal perangnya ke Konstantinopel. Seandainya kita berhasil menaklukkan Konstantinopel, lalu orang-orang Eropa itu datang memerangi kita, maka apakah kita akan berdiam diri berpangku tangan dan tidak melakukan perlawanan? Bukankah kita memiliki pasukan yang dapat mempertahankan kehormatan dan kemuliaan kita?”
“Wahai penguasa kesultanan, Anda telah bertanya kepadaku tentang pendapatku maka aku akan menyampaikan pendapatku secara terus terang. Hati kita hendaknya kukuh laksana batu karang. Kita harus melanjutkan peperangan tanpa sedikit pun menunjukkan kelemahan dan kegagalan. Kita telah memulai suatu urusan maka wajib bagi kita untuk menyelesaikannya. Kita harus meningkatkan serangan-serangan kita dengan kekuatan dan kehebatan, membuka lubang-lubang yang baru serta menyerbu musuh dengan penuh keberanian. Saya tidak mengetahui selain hal ini dan tidak mampu mengatakan sesuatu yang lain selain ini.”
Dukungan para Ulama
Mendengar ucapan penuh semangat ini, tampak kebahagiaan dan kelapangan pada wajah Sultan Muhammad al-Fatih. Sultan pun menanyakan pendapat Syekh Aq Syamsuddin dan Maula al-Kaurani. Keduanya menyetujui apa yang dikatakan oleh Zughanus Pasha. Keduanya berkata, “Wajib melanjutkan peperangan dan dengan kekuatan Zat Yang Maha Agung maka kemenangan dan kesuksesan menjadi milik kita.”
Para ulama mendukung pendapat yang menyatakan untuk melanjutkan peperangan. Sultan Muhammad al-Fatih juga bergembira ketika memutuskan untuk melanjutkan penyerangan hingga Kota konstantinopel berhasil ditaklukkan. Pertemuan itu diakhiri dengan instruksi-instruksi dari Sultan agar pasukan bersiap diri dalam serangan umum menggempur kota pada malam hari. [MNews/Rgl]
Sumber: Dr. Ali Muhammad ash-Shallabi, Sejarah Daulah Utsmaniyah, Faktor-Faktor Kebangkitan dan Sebab-Sebab Keruntuhannya, Ummul Qura
