Muslimah News, INTERNASIONAL — Gelombang aksi pro Palestina di kampus-kampus Amerika Serikat terus meluas pada awal Mei 2024 hingga wilayah Eropa, Australia, dan Timur Tengah. Namun, mereka harus menghadapi berbagai perlakuan yang tidak adil, bahkan mengerikan dan tidak demokratis. Para mahasiswa ini diskors kuliahnya, diancam drop out, hingga ditangkapi oleh para petugas keamanan.
Presiden AS Joe Biden memandang aksi protes ini sebagai gangguan dan menimbulkan risiko keselamatan. Ia bersikeras bahwa betul ada demokrasi dan kebebasan, tetapi ketertiban harus ditegakkan.
Bahkan disinyalir terjadi juga upaya pengalihan isu dari pihak pemerintah AS yang didukung para investor serta media mainstream AS. Pengalihan isu dari gerakan aksi pro Palestina dan seruan menghentikan genosida menjadi “tuduhan” gerakan anti semit dan pro Hamas yang disimpulkan sebagai dukungan pada terorisme.
Mengganggu Ketertiban Kampus
Dosen Ilmu Politik sekaligus aktivis dakwah Islam Indira S. Rahmawaty, S.IP., M.Ag. menegaskan, justru tindakan pemerintah AS itulah yang mengganggu ketertiban kampus.
“Hipokritisme begitu tampak dari apa yang dinyatakan Biden. Pemerintah AS sendirilah yang telah mengganggu ketertiban kehidupan kampus dengan mengunci para mahasiswa di luar kampus, merelokasi atau menunda ujian siswa, mendatangkan polisi untuk menangkap siswa, serta mengundang polisi untuk tetap berada di kampus,” ucapnya kepada MNews, Kamis (9-5-2024).
Bahkan, ungkapnya, ketakadilan terhadap para mahasiswa bergulir menjadi isu mempertanyakan demokrasi dan kebebasan di negeri terdepan pengusung demokrasi ini, America the Land of Freedom hanya jargon.
“Hal ini tentu saja mengundang keheranan dan tanda tanya besar atas tindakan AS. Demokrasi dan kebebasan ternyata tidak berlaku ketika dihadapkan pada kekuasaan. Atas nama penegakan hukum dan ketertiban versi sepihak penguasa, kebebasan itu tidak ada lagi, bahkan untuk warga negaranya sendiri,” kritiknya.
Di sisi lain, lanjutnya, AS begitu kuat menekan agar negara-negara lain berkomitmen pada demokrasi dan kebebasan. “Namun sudah lama terbukti bahwa itu adalah tekanan standar ganda selama demokrasi dan kebebasan tersebut sesuai dengan kepentingan politik dalam negeri dan luar negeri AS,” ujarnya.
Ia mengutip ulasan Al–Jazeera yang menunjukkan aksi-aksi pro Palestina yang terjadi di beberapa negeri muslim jauh lebih baik dalam mendapatkan hak mereka untuk berbicara daripada yang terjadi di AS.
“Memang aksi protes di kampus AS ini merupakan fenomena nasional yang rumit, sama seperti semua gerakan protes yang mengandung banyak sikap, agenda, dan reaksi,” nilainya.
Potensi Kampus
Meskipun demikian, lanjutnya, aksi oleh mahasiswa dan dosen di berbagai kampus ini menunjukkan bahwa kampus masih memiliki potensi besar untuk memengaruhi politik, termasuk potensi sebagai agent of change yang masih besar untuk dibangkitkan.
“Terakhir, satu hal yang jelas bahwa kesadaran akan sebuah ketakadilan dan kejahatan yang terjadi merupakan hal yang tidak akan terelakkan,” tandasnya mengutip firman Allah Swt. dalam QS Al-Isra ayat 81,
“Dan katakanlah, ‘Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap’. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” [MNews/Ruh]
