Penulis: Nabila Ummu Anas
Muslimah News, TARIKH KHULAFA — Kota Konstantinopel adalah kota maritim yang tidak mungkin bisa dikepung dan ditaklukkan tanpa adanya kekuatan angkatan laut yang mumpuni untuk bisa merealisasikan tugas ini. Oleh karena itu, Sultan Muhammad al-Fatih memperbanyak armada lautnya dengan mendatangkan kapal-kapal perang yang beraneka macam agar mampu melakukan serangan terhadap Konstantinopel.
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Namun, boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 216).
Terus Menggencarkan Serangan
Saat Kota konstantinopel telah berhasil dikepung, ternyata masih menyisakan kekurangan karena Selat Tanduk Emas masih di tangan angkatan laut Byzantium. Meski demikian, serangan pasukan Turki Utsmani tetap berlangsung tanpa berkurang sedikit pun.
Meriam-meriam milik pasukan Turki Utsmani mampu membuka sebuah lubang di antara tembok-tembok Byzantium di Lembah Likus, di sisi barat tembok kota. Segera berhamburanlah tentara-tentara Utsmani dengan penuh keberanian, berusaha menerobos ke dalam kota melalui lubang tersebut.
Hal yang sama juga dilakukan satuan-satuan tempur yang lain. Mereka berusaha melewati tembok-tembok pembatas dengan menggunakan tangga-tangga yang dipasang di dinding benteng.
Akan tetapi, pasukan Byzantium yang mempertahankan kota di bawah komando Gustinian berusaha mempertahankan lubang dan tembok-tembok tersebut. Terjadilah perang yang hebat di antara kedua belah pihak. Lantaran sempitnya lubang itu dan kerasnya pertahanan musuh, Sultan Muhammad al-Fatih memerintahkan pasukannya untuk mundur, setelah mereka berhasil membuat musuh ketakutan.
Pertempuran Laut
Pada hari yang sama, beberapa kapal Turki Utsmani berusaha memasuki Selat Tanduk Emas dengan menghancurkan rantai raksasa yang melindunginya. Akan tetapi, kapal-kapal Byzantium dan aliansi Eropa, serta pasukan yang bermarkas di belakang rantai besar yang berada di pintu masuk teluk, mampu menghalau kapal-kapal perang kaum muslim dan menghancurkan beberapa di antaranya. Armada laut Turki Utsmani yang tersisa terpaksa menarik diri karena belum berhasil menunaikan tugasnya.
Dua hari setelah pertempuran di Selat Tanduk Emas, terjadilah pertempuran yang lain antara angkatan laut Turki Utsmani dan beberapa kapal Eropa yang berusaha memasuki teluk. Angkatan laut Turki Utsmani berusaha sekuat tenaga mencegah kapal-kapal tersebut memasuki wilayah teluk. Sultan Muhammad al-Fatih sendiri yang mengawasi jalannya pertempuran itu dari tepi pantai.
Sultan Muhammad al-Fatih mengawasi jalannya pertempuran laut itu dengan menunggang kuda perangnya. Sultan memacu kudanya ke arah laut hingga air laut itu sebatas dada kudanya, sedangkan kapal-kapal perang Turki Utsmani berjarak sekitar satu lemparan batu.
Sultan Tetap pada Pendiriannya untuk Menaklukkan Konstantinopel
Kekalahan angkatan laut Turki Utsmani pada peperangan ini berpengaruh besar terhadap para anggota permusyawaratan Sultan, terutama perdana menterinya yang bernama Khalil Pasha. Ia berusaha memengaruhi sultan untuk mengalihkan pandangan dari menguasai Konstantinopel dan cukup melakukan perjanjian damai dengan para penduduknya, tanpa harus menguasainya yang berarti menghentikan pengepungan Kota konstantinopel.
Akan tetapi, Sultan Muhammad al-Fatih tetap bersikeras untuk melakukan penaklukan Konstantinopel. Dia terus memerintahkan pasukannya untuk menembakkan meriam-meriam ke arah kota dari segenap penjuru.
“Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”(QS At-Taubah: 41).
Pada saat bersamaan, Sultan Muhammad al-Fatih berpikir keras bagaimana cara memasukkan kapal-kapal perang kaum muslimin ke SelatTanduk Emas sebab tembok-tembok di sisi Selat Tanduk Emas tidak terlalu kuat. Dengan demikian, pasukan Byzantium terpaksa harus menarik sebagian pasukan di sisi Tanduk emas.
Dengan terpecahnya konsentrasi pasukan Byzantium yang bertahan, maka terbukalah peluang yang lebih besar untuk melakukan serangan terhadap tembok-tembok itu, setelah berkurangnya jumlah pasukan Byzantium yang bertahan.
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Baqarah: 218). [MNews/Rgl]
Sumber: Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi, Sejarah Daulah Utsmaniyah, Faktor-Faktor Kebangkitan dan Sebab-Sebab Keruntuhannya, Ummul Qura

Alhamdulillah