Idulfitri 1445 H, Momentum Umat dan Negara Kembali kepada Sistem Islam

Idulfitri 1445 H, Momentum Umat dan Negara Kembali kepada Sistem Islam

Penulis: Endiyah Puji Tristanti

Muslimah News, FOKUS — Berdasarkan hasil survei Potensi Pergerakan Masyarakat Selama Lebaran 2024 Kementerian Perhubungan RI, terlihat bahwa ada 193,6 juta orang atau 71,7% total masyarakat Indonesia yang akan melaksanakan mudik. Dari jumlah tersebut, 30% atau sekitar 57 juta usia anak akan ikut mudik bersama orang tuanya.

Save the Children Indonesia pun mengimbau pemerintah dan berbagai pihak untuk dapat menyediakan tempat istirahat (rest area) ramah anak sebagai bentuk mitigasi terhadap potensi risiko gangguan tumbuh kembang dan kesehatan anak.[i]

Sementara itu, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Bintang Puspayoga juga mendorong pengelola layanan publik untuk meningkatkan fasilitas yang ramah terhadap kelompok rentan, seperti perempuan, anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas. Hal ini tidak hanya penting untuk memastikan aksesibilitas yang lebih baik, melainkan juga untuk mempromosikan kesetaraan dalam layanan publik bagi semua lapisan masyarakat.[ii]

Layanan Publik

Fenomena mudik Lebaran merupakan budaya masyarakat Indonesia yang di dalamnya mengandung banyak nilai-nilai kebaikan. Alhasil, keberadaan negara dan pemerintah harus ada untuk mendukung dan menjamin terwujudnya kondisi aman, nyaman, sehat, adil, dan sejahtera bagi masyarakat, termasuk perempuan dan anak, selama mudik Lebaran.

Semestinya, menjaga tumbuh kembang dan kesehatan anak, juga memberi rasa aman dan nyaman kepada perempuan, merupakan tanggung jawab negara bukan hanya saat mudik Lebaran atau liburan sekolah. Negara juga harusnya memberikan layanan premium bukan dalam kerangka pemenuhan hak-hak perempuan dan anak—yang penilaiannya didasarkan pada kepuasan masyarakat, apalagi untuk promosi kesetaraan bagi publik.

Ironisnya, sistem yang ada memberikan layanan publik yang mahal, seperti di bidang transportasi yang justru menciptakan kelas-kelas pelayanan. Hanya masyarakat kelas ekonomi menengah ke atas yang memiliki cukup uang yang bisa merasakan kenyamanan dalam perjalanan. Masyarakat ekonomi menengah ke atas bisa memilih transportasi yang nyaman pada saat mudik. Ini baru satu aspek, yakni rasa nyaman.

Nyatanya lagi, uang hanya bisa membeli rasa nyaman, padahal masyarakat tidak cukup sekadar rasa nyaman selama perjalanan, melainkan kebutuhan akan keamanan dan kondisi sehatlah yang lebih utama. Transportasi publik ramah perempuan dan anak juga tidak bisa sekadar dipenuhi oleh individu-individu masyarakat, meskipun kemampuan finansial mereka tinggi. Ini karena hanya negaralah yang punya seluruh instrumen dasar untuk menyediakan infrastruktur publik yang aman sekaligus nyaman. Buktinya, kendaraan mahal tidak otomatis membuat penumpangnya terhindar dari bahaya kecelakaan, kekerasan seksual, kemacetan, dan polusi.

Oleh karenanya, apa yang dituntut oleh KPAI dan Save the Children terhadap pemerintah Indonesia untuk menyediakan transportasi publik dan rest area ramah anak selama momen mudik Lebaran, sejatinya adalah tuntutan terhadap perkara teknis administratif yang belum menyentuh akar persoalan.

Interaksi sosial yang didasarkan pada nilai-nilai kebebasan memunculkan interaksi yang kuat dan menindas yang lemah sehingga kasus kekerasan sulit untuk diselesaikan. Begitu pun adanya sistem hukum yang masih tebang pilih dan pelaksanaan yang berbasis laporan, serta terabaikannya hak-hak komunitas (jemaah) dalam penanganan hukum. Semua ini masih sulit dihilangkan karena tata aturan masyarakat masih diatur oleh norma hukum sekuler.

Contoh lainnya adalah peristiwa kecelakaan Tol Jakarta-Cikampek yang baru terjadi, terkait erat dengan kebijakan contraflow yang mengakibatkan korban hilang nyawa, termasuk perempuan dan remaja perempuan. Sebuah kebijakan yang minim mitigasi bencana, serampangan, mengabaikan keselamatan masyarakat ini terjadi karena negara pelit, tidak menyediakan anggaran yang cukup untuk membangun infrastruktur jalan guna memenuhi kebutuhan rakyat.

Artinya, yang masyarakat perlukan bukan hanya peraturan-perundangan baru yang menambah atau merevisi dari peraturan yang sudah ada, lalu menghasilkan kebijakan tambal sulam. Lebih dari itu, masyarakat butuh akan perubahan paradigma kepemimpinan politik pada semua level/jenjang, baik pusat maupun daerah; dari paradigma kepemimpinan sekuler kapitalistik, menjadi paradigma kepemimpinan Islam.

Kembali ke Sistem Islam

Paradigma kepemimpinan dalam sistem Islam memosisikan penguasa (hukkam) sebagai raa’in wal junnah, bukan majikan bukan pula pedagang, apalagi hanya regulator. Berikutnya, masyarakat membutuhkan sistem kehidupan yang bersumber dari wahyu, bukan dari akal manusia yang sangat bias kepentingan, baik perorangan, sekelompok orang, maupun para wakil rakyat. Masyarakat membutuhkan politik kebijakan yang sesuai dengan syariat Islam.

Hari ini, pemerintah dan elemen masyarakat belum memahami bahwa buruknya pelayanan publik yang diberikan negara adalah akibat kesalahan pilihan sistem kehidupan dan paradigma kepemimpinan. Output-nya tampak dalam kebijakan-kebijakan yang abai terhadap keselamatan, keamanan, kesehatan, keadilan, kesejahteraan perempuan dan anak.

Kegagalan memahami akar persoalan ini hanya akan memperpanjang dan menambah ragam persoalan perempuan dan anak Indonesia, baik selama momen mudik Lebaran maupun persoalan lainnya di luar momen tersebut.

Mudik aman—khususnya bagi perempuan dan anak—hanya bisa terwujud dalam tatanan syariat yang akan mewujudkan layanan publik yang aman dan nyaman, interaksi sosial yang sahih yang menumbuhkan rasa saling menolong dan menghormati, serta penegakan hukum yang komprehensif, baik bagi jemaah maupun individu.

Walhasil, momen Idulfitri 1445 H semestinya menjadi momentum umat dan negara untuk kembali kepada sistem Islam yang mampu melindungi perempuan dan menjaga fitrah generasi. [MNews/Gz]


[i] https://www.medcom.id/gaya/family/ybJ0RGnK-save-the-children-imbau-pemerintah-sediakan-rest-area-ramah-anak-saat-mudik-lebaran

[ii] https://www.porosjakarta.com/metro/064522910/mudik-lebaran-ramah-perempuan-dan-anak-menteri-pppa-dorong-fasilitas-publik-yang-inklusif

Share

One thought on “Idulfitri 1445 H, Momentum Umat dan Negara Kembali kepada Sistem Islam”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *