Muslimah News, Serba-serbi Ramadan — Salat di Masjid Nabawi menjadi impian kaum muslim sedunia. Allah menjanjikan keutamaan berupa seribu kali lipat pahala saat salat di masjid ini dibandingkan jika salat di masjid lainnya, kecuali di Masjidilharam, Makkah.
Pada Jumat (29-3-2024), hujan yang mengguyur Kota Madinah tidak mengurangi semangat jemaah untuk hadir salat Jumat di Masjid Nabawi. Tampak warga berjalan kaki dari sudut-sudut kota dan jemaah umrah dari berbagai bangsa, berduyun-duyun mendatangi masjid Rasulullah ini.
Aliran air di pelataran masjid dan hujan yang mengguyur menjadikan suasana salat makin syahdu. Salah satu warga Indonesia yang sedang menunaikan ibadah umrah kepada MNews menyatakan sangat bahagia. “Alhamdulillah kesampaian juga,” ujarnya yang bisa salat di Masjid Nabawi, meskipun hanya di pelataran. Bajunya yang basah juga tidak menjadi soal baginya.
Jemaah yang hadir tidak menyia-nyiakan kesempatan, terutama karena ini adalah Ramadan. Apalagi berpuasa Ramadan di Madinah, pahalanya sama dengan berpuasa seribu Ramadan di luar Madinah.
Kementerian Haji dan Umrah Kerajaan Arab Saudi melaporkan bahwa sudah ada 8,2 juta umat muslim dari seluruh dunia yang telah melakukan ibadah umrah sejak awal Ramadan 2024.
Selama Ramadan, Masjid Nabawi memang tampak lebih ramai dari biasanya. Menjelang Magrib, jemaah berjubel menunggu waktu berbuka puasa dan mengisinya dengan beragam ibadah. Begitu pula saat Tarawih dan waktu-waktu salat lainnya.
Peristiwa Istimewa
Ramadan kali ini terdapat peristiwa istimewa yang jarang terjadi, tepatnya di area Raudah (tempat antara mimbar Masjid Nabawi dan rumah Rasulullah saw.-penj.). Pada hari yang sama, Jumat (29-3-2024), mimbar, mihrab, dan makam Rasulullah yang biasanya tertutup kain putih bagi jemaah perempuan, dibuka. Awalnya hanya separuh, tetapi saat malam hari setelah salat Tarawih dan Witir, jemaah perempuan yang terjadwal pada saat itu untuk masuk ke Raudah dapat melihat Raudah tanpa penutup kain. Masyaallah.
Salah seorang warga Indonesia yang mendampingi jemaah umrah perempuan masuk ke Raudah malam itu mengaku sangat takjub. Berkali-kali selama puluhan tahun ia masuk Raudah, baru kali ini ia mendapati Raudah diperlihatkan tanpa kain penutup. “Masyaallah, ini benar-benar luar biasa,” ungkapnya.
Sejarah Peradaban Islam
Terlepas dari keutamaan salat dan berdoa, Masjid Nabawi memiliki sejarah peradaban Islam dan kaum muslim yang begitu kuat.
Mengutip K.H. Hafidz Abdurrahman dalam “Menghidupkan Kembali Kehidupan Nabi dan Sahabat, di Balik Simbol & Monumen Umrah-Haji di Dua Tanah Suci”, sejarah Masjid Nabawi dimulai ketika Rasulullah saw. menginjakkan kakinya pertama kali di Madinah, tepatnya di perkampungan Bani Najjar, Jumat, 12 Rabiulawal 1 Hijriah. Langkah pertama yang dilakukan Rasulullah saw. adalah membangun masjid, yaitu Masjid Nabawi.
Keberadaan Masjid Nabawi tidak hanya untuk salat, tetapi juga sebagai tempat menimba ilmu bagi kaum muslim. Masjid Nabawi juga menjadi tempat pertemuan berbagai kabilah yang pada masa jahiliah sering berseteru.
Masjid Nabawi dijadikan pusat pemerintahan dan aktivitas dakwah, sekaligus sebagai tempat musyawarah antara Rasulullah saw. dan anggota Majelis Syura. Masjid ini juga menjadi tempat berteduh orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin yang dikenal dengan sebutan ahlu ash-shuffah, yaitu seseorang yang tidak memiliki rumah, harta, istri, dan anak. [MNews/Ruh]
