Penulis: Nabila Ummu Anas
Muslimah News, TARIKH KHULAFA – Sejak kecil Muhammad al-Fatih berguru dan belajar kepada sejumlah tokoh dan ulama. Di antara yang paling dikenal, ada dua guru yang memberikan pengaruh besar pada kepribadiannya, yaitu Syekh Aq Syamsuddin dan Syekh Al-Kaurani. Dua ulama terbaik ini memberi andil dalam membentuk bangunan wawasan, politik, dan seni militer Muhammad al-Fatih.
Guru Terbaik, Pencetak Pribadi Unggul
Pendidikan dan pembinaan akan sangat berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian seseorang. Jika kecintaan kepada Islam ditanamkan sejak kecil, orang itu akan hidup demi Islam dan untuk Islam saja. Begitulah kehidupan Muhammad al-Fatih, sejak kecil hingga menjadi sultan, kehidupannya selalu dalam bimbingan ulama terbaik. Para guru ini juga tidak segan-segan untuk menasihati dan bersikap tegas kepada Muhammad al-Fatih, jika mereka menemukan ada perbuatannya yang menyimpang dari Islam.
Syekh Aq Syamsuddin adalah guru yang sangat disegani oleh Muhammad al-Fatih sejak usia remaja hingga penaklukan Konstantinopel berhasil ia lakukan. Ketika telah menjadi sultan, Muhammad al-Fatih menuturkan, “Penghormatanku terhadap Syekh itu (Aq Syamsuddin) adalah penghormatan yang menarik seluruh sisi jiwaku. Saat berada di hadapannya, aku dan kedua tanganku selalu gemetar.”
Pendidikan guru terbaik kepada Muhammad al-Fatih telah membantunya untuk tumbuh dan berkembang dalam kecintaan terhadap Islam. Ia pun beraktivitas sesuai aturan Al-Qur’an dan Sunah. Muhammad al-Fatih sangat komitmen terhadap syariat Islam, memiliki sifat takwa dan menjaga diri, mencintai ilmu dan para ulama, serta bersemangat untuk menyebarkan ilmu pengetahuan.
Sifat religiusnya yang tinggi adalah manifestasi dari pendidikan Islam yang baik, yang ia pelajari sejak usia belia. Ini semua berkat upaya keras ulama terbaik yang membimbingnya dan membentuk kepribadian Muhammad al-Fatih. Diperkuat juga oleh kebersihan hati guru-gurunya, jauhnya mereka dari tipu muslihat dunia dan kesia-siaan, serta kesungguhan yang tinggi.
Kepribadian Islam yang Kuat
Capaian ilmu ini terus menyertai Muhammad al-Fatih hingga ia dewasa dan memegang kesultanan dalam usia muda. Ia menjadi sosok yang memiliki wawasan yang luas. Pada dirinya terkumpul tsaqafah yang melejitkan taraf berpikir strategisnya, juga jiwa yang selalu tunduk dalam ketaatan kepada Allah Swt..
Muhammad Al-Fatih sering kali menuturkan syair,
“Aku berniat menjalankan perintah Ilahi.”
“Berjihadlah di jalan Allah!”
“Semangatku hanyalah semangat di jalan agama Allah.”
Sultan Muhammad al-Fatih juga menguasai bahasa Latin, Yunani, dan Serbia. Penguasaan akan berbagai bahasa ini sangat penting bagi seorang Sultan Muhammad al-Fatih, sebab dia adalah seorang sultan yang tengah meniti jalan untuk memimpin segala persoalan Daulah Utsmaniyah yang saat itu dipandang sebagai daulah terbesar baik di timur maupun barat. Penguasaan berbagai bahasa yang ditanamkan gurunya memudahkan Muhammad al-Fatih untuk percaya diri menaklukkan negeri mana pun di luar Daulah Utsmaniyah.
Berkat pendidikan dan pencerahan yang disampaikan guru-gurunya, ia menjadi salah satu Sultan Daulah Ustmaniyah yang paling memahami pelajaran sejarah, geografi, dan ilmu-ilmu militer. Terlebih gurunya juga mengarahkan perhatian Muhammad al-Fatih untuk mempelajari para tokoh besar sejarah yang berpengaruh di dunia.
Motivasi Ruhiyah
Gurunya menjelaskan kepada Muhammad al-Fatih tentang sisi-sisi kehebatan para tokoh sejarah tersebut dan apa saja titik-titik kelemahannya. Dengan penjelasan tersebut diharapkan suatu hari nanti Muhammad al-Fatih menjadi penguasa yang paling berpengaruh, bijak, dan jenius, yang disegani lawan maupun kawan.
Syekh Aq Syamsuddin jelas memainkan peran besar dalam membentuk kepribadian Muhammad al-Fatih ini. Ia selalu menanamkan dua hal pada Muhammad al-Fatih sejak ia kecil hingga membuatnya menjadi seorang penakluk (Al-Fatih). Dua hal tersebut adalah:
- Menggencarkan jihad fisabilillah yang dilakukan Daulah Utsmaniyah.
- Selalu memberikan motivasi kepada Muhammad al-Fatih sejak usia belia bahwa ia adalah pemimpin yang dimaksud di dalam hadis Rasulullah saw., “Kota Konstantinopel benar-benar akan dapat ditaklukkan maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan itu.”
Oleh karena itulah, Muhammad Al-Fatih sangat berharap besar agar hadis itu berlaku atas dirinya. Motivasi yang ditanamkan oleh Syek Aq Syamsuddin ini membuat Muhammad al-Fatih mencintai jihad fisabilillah dan menjadi dorongan yang kuat untuk berhasil dalam menaklukkan Kota Konstantinopel yang telah diupayakan dengan keras oleh para pemimpin Daulah Ustmaniyah sebelumnya. [MNews/Rgl]
Sumber:
– Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi, Sejarah Daulah Utsmaniyah, Faktor-Faktor Kebangkitan dan Sebab-Sebab Keruntuhannya, Ummul Qura
– Muhammad Ali, Para Panglima Islam Penakluk Dunia, Ummul Qura
