Muslimah News, NASIONAL— Aktivis muslimah Ratu Erma Rachmayanti menegaskan bahwa untuk membuat generasi bertakwa membutuhkan habitat masyarakat yang bertakwa.
“Untuk membuat generasi bertakwa itu butuh habitat masyarakat bertakwa. Kalau hanya mengandalkan kesadaran individual ataupun keluarga, kita tidak akan mendapatkan generasi bertakwa,” ungkapnya dalam acara “Tarhib Ramadhan Bareng Kita,” di kanal UIY Official, Ahad (10-3-2024).
Ia lalu menggambarkan tentang masyarakat bertakwa. “Anak-anak dididik oleh orang tua mulai dari akidah, keterikatan terhadap hukum syarak, adab, dan lain-lain. Kemudian sekolah melanjutkan pendidikan yang sudah diberikan oleh orang tua dengan guru-guru yang paham Islam dan bertakwa. Lingkungan tempat tumbuh kembang dan interaksi anak-anak juga paham Islam, pemimpinnya tidak mengeluarkan hal-hal yang kontraproduktif,” bebernya.
Dengan kondisi masyarakat seperti itu, ucapnya, maka mendidik generasi tidak akan sesulit sekarang.
“Kita merasakan betul bahwa tugas sebagai ibu dan pengatur rumah tangga adalah tugas utama yang Allah tetapkan. Tugas itu adalah tugas strategis, tetapi hari ini tidak mudah dijalankan karena masyarakatnya bukan masyarakat yang bertakwa,” keluhnya.
Terlebih, ucapnya, saat ini berkembang pemikiran bahwa perempuan akan sangat rugi jika hanya menjadi ibu.
“Perempuan juga harus berkontribusi di tengah masyarakat dalam tataran ekonomi. Akhirnya didoronglah untuk bekerja. Di situ justru tambah sulit karena perempuan mendapat beban tambahan yang Islam tidak membebankannya,” kritiknya.
Dengan standar ekonomi ini, lanjutnya, masyarakat lalu melihat bahwa peran strategis perempuan adalah ketika ia mendapat posisi di tengah masyarakat, menjadi profesional, pengambil kebijakan dan lain-lain.
“Padahal kalau dalam Islam, peran itu justru akan menurunkan kualitas generasi. Oleh karena itu, tantangan-tantangan pemikiran seperti ini juga harus dipahamkan. Mendidik generasi itu merupakan satu kesatuan utuh yang harus diwujudkan pertama kali oleh masyarakat yang bertakwa,” tukasnya.
Tiga Klasifikasi
Terkait Ramadan, Ratu Erma menyebut tiga klasifikasi muslimah dalam menyambutnya.
“Saya mencoba membagi dalam tiga klasifikasi. Pertama, muslimah yang paham hakikat shaum, tahu tujuan shaum, tahu syariat dan ketetapan Allah terhadap bulan Ramadan,” tuturnya.
Bagi muslimah yang paham, lanjutnya, akan fokus kepada ibadah terbaik yang mesti dilakukan pada Ramadan dan berupaya membaca ulang tulisan tentang keutamaan Ramadan, fikih shaum, bahkan membuat jadwal ibadah bareng keluarga, menambah ilmu, dan lain-lain.
“Sikapnya fokus terhadap hal itu karena dorongan keberlimpahan pahala sebagaimana yang dijelaskan Rasulullah saw. ketika menyambut Ramadan bahwa amalan sunah pahalanya disetarakan dengan yang wajib, amalan wajib dilipatgandakan hingga 70 kali lipat, dosa-dosa diampuni,” jelasnya.
Kedua, sebutnya, muslimah yang tahu bahwa pada Ramadan itu harus puasa, tarawih, tadarus. “Namun, mereka melakukan itu semua hanya sebagai rutinitas karena perhatian mereka lebih kepada penyiapan jasadiah ketimbang maknawiah, seperti menyiapkan amunisi untuk sahur, buka, kue lebaran, baju lebaran, giat bisnis karena memanfaatkan momen Ramadan, dan lain-lain,” urainya.
Ketiga, jelasnya, muslimah yang tidak paham sama sekali apa itu Ramadan. “Mereka tidak akan mempersiapkan apa-apa karena bagi mereka tidak ada bedanya hidup di bulan Ramadan dengan di luar Ramadan. Mereka tidak puasa, tidak menutup aurat, tidak belajar ilmu-ilmu Islam,” bebernya.
Termasuk dalam kelompok ini, ucapnya, muslimah yang berpikir nyleneh, misalnya “hormati dong orang yang tidak puasa!”.
Keseluruhan
Menurutnya, itu gambaran terperinci. Adapun fakta keseluruhan apa yang menimpa dan dirasakan muslimah sebagai bagian dari masyarakat hari ini hampir sama, semua mengeluhkan mahalnya harga-harga kebutuhan pokok.
“Ini tentu akan mengurangi kebahagiaan menyambut Ramadan, mengganggu fokus ibadah karena akhirnya akan mengutamakan memenuhi kebutuhan dasar dibanding ibadah,” ujarnya prihatin.
Kondisi itu, ia nilai menjadi tugas tambahan bagi muslimah untuk memahami penyebab hal itu terjadi, solusinya seperti apa, serta cara mengubah kondisi itu. [MNews/IA]
