Penulis: Fatima Musab
Muslimah News, FOKUS — Kapitalisme sedang runtuh, dan memang pada dasarnya ideologinya selalu cacat, menguntungkan kaum kaya dengan mengorbankan kaum papa, atau dengan kata lain menjaga segelintir orang sehat dan sukses melalui eksploitasi atas seluruh dunia. Hal ini tidak berubah dan tidak akan pernah berubah, bahkan makin memburuk.
Namun, semua itu bukanlah alasan untuk bisa mengatakan penyebab gagalnya kapitalisme. Kegagalannya telah terekspos dengan sendirinya. Publik sudah sadar akan kelemahan dan manipulasinya. Seluruh dunia bisa melihat dampak buruk yang ditimbulkannya. Pada masa lalu, kapitalisme berkembang melalui keberhasilannya memanipulasi publik dan dunia. Namun sekarang, seiring tragedi Gaza, kapitalisme gagal untuk menipu dan memanipulasi kita semua.
Kita bisa lihat kejahatan yang dibiarkan oleh ideologi itu. Kita juga bisa lihat dukungan yang diberikannya pada “Isra*l”, betapa AS belum (baca: tidak) bertanggung jawab atas dukungannya terhadap “Israel”. Betapa para penguasa di seluruh dunia membiarkan “Israel” melanjutkan genosidanya—meskipun secara fakta hukum internasional mereka sendiri menyatakan bahwa tindakan tersebut harus dihentikan.
Kita pun bisa lihat betapa semua organisasi internasional yang diperjuangkan di dunia justru menopang kejahatan yang tersistem. Lihatlah, media-media menjadi institusi pemerintah, membantu para penguasa menyembunyikan kebenaran dan mengalihkan perhatian publik pada serangkaian isu lainnya—apa pun yang bisa mengulur waktu bagi entitas Yahudi dan AS demi memenuhi tujuan mereka di wilayah tersebut.
—
Tatkala kita duduk dan merenungi hal-hal yang terjadi beberapa bulan terakhir, tidak hanya di Gaza, melainkan di seluruh dunia, kita merasa putus asa, marah, dan muak. Kita bisa melihat secara gamblang kegagalan kapitalisme. Kita bisa lihat pula bahwa kapitalisme tidak pernah dan tidak akan bisa mengantarkan perdamaian pada rakyat, atau melindungi mereka ketika kepentingan kapitalisme tidak sejalan dengan tujuan idealis tadi.
Akan tetapi, ketika kita memikirkan alternatif lain, kita merasa bahwa itu tidak akan bisa membawa pada perubahan. Kita berkata, “Bagaimana bisa kita meninggalkan kapitalisme? Dunia tidak akan bisa berfungsi tanpanya.” Namun, coba luangkan waktu sejenak untuk berpikir kembali, “Mengapa kita tidak bisa meninggalkan kapitalisme?”
Sebagai rakyat, kapitalisme telah mengecewakan kita. Sebagai kaum muslim, kapitalisme telah memaksa kita untuk menerima hukum buatan manusia daripada hukum Allah Taala. Namun, jika kita mengesampingkan hal ini sebentar, mengapa kita malah meyakini bahwa tidak mungkin bisa untuk membawa Islam kembali ke tengah dunia?
Bukankah pada Masa Lalu Kita Tidak Hidup dengan Dua Ideologi, atau Lebih dari Satu Kekaisaran?
Ketika kita menengok sejarah, kita akan melihat rangkaian “kekuasaan” dan “kekaisaran” yang secara bersamaan menguasai wilayah daratan yang begitu luas. Ada Kekaisaran Romawi dan Persia. Ada juga Inggris, Prancis, dan berbagai kerajaan Eropa lainnya yang eksis pada waktu yang sama.
Setelah kejatuhan masa kekaisaran, ada Perang Dingin yang melibatkan dua ideologi yang saling bersaing untuk meraih otoritas, kekuasaan, dan pengaruhnya. Ya, komunisme akhirnya gagal. Namun, ia tetap eksis seiring dengan eksistensi kapitalisme selama beberapa dekade. Kegagalannya pun lebih karena kelemahan ideologi komunisme dan pilihan yang diambil oleh para pemimpin Uni Soviet. Selain itu, tidaklah mungkin untuk memiliki lebih dari satu ideologi pada waktu yang sama.
Jadi, mengapa ketika kita melihat situasi sekarang ini, kita bisa berkata bahwa tidak mungkin bagi dunia muslim untuk menyingkirkan ideologi kapitalisme dan bergerak menuju kenyataan bahwa Islam dapat diimplementasikan sebagai sebuah ideologi?
Alasan utamanya adalah kita telah “diajari” konsep dan ide-ide yang membuat kita meyakini bahwa hal itu mustahil. Sistem pendidikan kita, media, dan institusi politik, semua secara terus-menerus memperkuat gagasan bahwa kita hidup di dunia yang saling terhubung, dan satu-satunya jalan untuk maju adalah dengan tetap terhubung—jika tidak, bagaimana kita bisa mengakses semua keuntungan materi yang telah dijanjikan oleh kapitalisme? Sebagai sebuah bangsa, kita juga dipaksa tidak berfokus pada upaya untuk mencapai swasembada, melainkan harus melakukan perdagangan sehingga dapat mengakses semua keuntungan hidup di dunia yang terglobalisasi ini.
Semua ini tentu dilakukan secara sengaja sebab keberlangsungan kapitalisme sebagai ideologi global bergantung pada dukungan dan manipulasi atas rakyat. Jika kita sadar, kita tentu akan bertanya; dan jika kita bertanya, kita tentu akan berpikir; dan jika kita mampu berpikir, bisa-bisa mereka kehilangan dukungan dan dominasinya.
Memang benar bahwa AS—dengan dukungan dari negara-negara di seluruh dunia—telah menciptakan sebuah realitas bahwa kita semua saling terhubung. Mereka menciptakan peraturan dan undang-undang yang harus dipatuhi oleh setiap negara, kemudian memastikan bahwa semua bisa melihat konsekuensinya ketika tidak bekerja di dalam sistem tersebut.
Jadi, ketika kita tidak membantu Amerika dalam agenda “perang melawan teror”, kita akan bertanya, “Bagaimana kita bisa mendapatkan pinjaman yang diperlukan untuk mencapai kesejahteraan?” Begitu juga jika kita bersuara menentang segala kekejian yang terjadi, perusahaan swasta akan menolak berurusan dengan kita. Jika kita mencoba menerapkan hukum Islam pun kita akan dikesampingkan dan difitnah oleh negara lainnya.
Akan tetapi, bukan berarti kita tidak mampu meninggalkan ideologi kapitalisme, dalam artian menjauh dari kapitalisme hanya akan mengubah tatanan sistem internasional. Hal ini pernah dilakukan sebelumnya. AS pernah melakukannya setelah masa kekaisaran jatuh. Jika kalian menyadari fakta bahwa komunisme baru jatuh pada 1980—1990-an, artinya dominasi kapitalisme belum genap berusia 70 tahun.
Lalu ada fakta bahwa keterhubungan ini juga bisa menjadi kelemahan terbesar dari kapitalisme. Dolar—salah satu pilar utama dominasi kapitalisme—bergantung pada kepercayaan. Percaya pada dolar dan percaya pada AS. Jika kita kehilangan kepercayaan itu, lalu beralih dari dolar, maka nilai dolar akan hilang. Namun untuk lebih jelasnya, peralihan ini bukan berarti mengadopsi mata uang berbasis fiat lainnya yang secara langsung masih terkait dolar, melainkan menolak sepenuhnya mata uang berbasis fiat dan beralih ke standar emas dan perak.
Sebelum kita stop dan menyatakan bahwa hal itu adalah mustahil, sadarilah dua hal berikut. Pertama, pihak yang memberi tahu kita bahwa hal itu mustahil adalah pihak yang sama yang mendapat keuntungan dari penerimaan kita tersebut. Kedua, bukankah yang mustahil adalah ketika kita berharap untuk tetap ada dalam sistem yang sedang merosot ini?
Penolakan terhadap dolar akan melemahkan kapitalisme dan kelemahan itu akan merugikan negara-negara mereka, bukan kita. Khususnya karena makin banyak negara di dunia yang bosan dengan dominasi Barat dan menginginkan adanya perubahan.
Ini adalah realitas dari sisi ekonomi sebab kelemahan kapitalisme tidak hanya mencakup militer, peradilan, politik, dan sosial. Namun saat ini, kita dipaksa untuk mengabaikan fakta tersebut dan fokus pada kekhawatiran. Khawatir pada “bagaimana jika” dan “andai” telah memaksa kita untuk terus mendukung kapitalisme berikut terornya. Inilah cara kapitalisme memastikan bahwa ia adalah sistem yang tidak tertandingi. Ini karena ketika kita menolak aturan dan hukum-hukumnya, serta menjauhinya, maka kapitalisme akan runtuh.
Jadi, kita memang dipaksa untuk mengabaikan kenyataan pahit dari dunia kapitalisme, yakni beberapa negara bisa menjadi maju secara ekonomi karena mereka mengeksploitasi negara lainnya dan—secara langsung ataupun tidak—membunuh jutaan orang selama prosesnya.
Mereka jelas ketakutan. Mereka tahu bahwa hanya ada satu negara atau pemerintahan yang menolak kapitalisme, yakni satu institusi umat muslim seluruhnya. Ini tidaklah mustahil, melainkan hanya perlu bagi kita untuk melampaui rasa takut dan untuk mengingat bahwa sebagai muslim kita harus bertawakal pada Allah Taala.
Apakah Kita Meyakini bahwa Masyarakat Belum Siap terhadap Perubahan?
Argumen selanjutnya yang muncul di benak kita adalah bahwa sekalipun penerapan ideologi Islam secara praktis bisa dilakukan, tetapi hal itu tidak akan berhasil karena masyarakatnya yang belum siap.
Namun, lihatlah dunia saat ini, juga fakta bahwa opini publik tidak mendukung kapitalisme atau dominasi Barat, baik di dalam maupun luar dunia muslim, maka sanggupkah kita untuk mengafirmasi semua itu?
Telah ada seruan untuk perubahan di seluruh dunia. Makin besar pula penerimaan bahwa problem yang tengah kita hadapi adalah problem sistemis, yakni akibat kapitalisme. Masalahnya adalah mereka masih—sadar atau tidak—mencoba untuk “memperbaiki sistem” dengan metode dan sarana-sarana yang dianggap dapat diterima kapitalisme.
Ketika kita melakukan ini, sesungguhnya kita melindungi sistem sekaligus terjebak di dalamnya. “Solusi” yang kita lakukan akhirnya memaksa kita untuk merujuk pada peraturan dan undang-undang yang sejatinya menyebabkan problem sedari awal. “Penyelesaian” apa pun juga hanya berfungsi sebagai obat sementara.
Kita bisa melihatnya melalui pemilu, berbagai protes, juga aksi boikot. Meskipun dua hal terakhir merupakan cara yang baik untuk menampakkan kemarahan kita terhadap pemerintah dan kebijakan internasional, sejatinya hal itu tetap tidak akan bisa mengantarkan pada perubahan hakiki. Kita sedang meminta para politisi dan badan-badan internasional—yang jelas-jelas memiliki kepentingan pada status quo—untuk perubahan. Mereka juga tidak akan pernah membuat keputusan yang merugikan kepentingan atau dominasi kapitalisme di seluruh dunia.
Ada yang mengatakan bahwa satu-satunya cara untuk mengubah keadaan adalah dengan membenahi diri sebagai seorang muslim dan mendekatkan diri pada Islam. Menanggapi hal ini, setidaknya kita harus mempertimbangkan beberapa hal. Pertama, cara apa yang lebih baik untuk mendekatkan diri pada Islam, selain menjadikannya sebagai sebuah sistem di muka bumi ini? Kedua, bukankah hal itu (menjadikannya sistem) justru akan membantu upaya kita untuk dekat kepada Allah Taala?
Negara (Islam) akan senantiasa ada di sana untuk mendidik kita, membantu kita dalam hal ibadah, serta memastikan setiap keputusan yang kita ambil adalah keputusan yang Allah ridai. Dapatkah kita mengatakan bahwa semua itu mungkin terjadi dalam sistem kapitalisme yang tujuan utamanya adalah menjauhkan kita dari agama, bukan mendekatkan kita pada agama?
Sungguh, masyarakat di seluruh dunia begitu butuh akan perubahan, mencari cara untuk menghentikan semua kengerian yang terjadi di Gaza dan belahan dunia lainnya. Yang kita perlukan adalah menyadari bahwa mengubah undang-undang atau supremasinya tidak akan bisa menghentikan tirani kapitalisme. Satu-satunya jalan untuk menghentikannya ialah keluar darinya kemudian menantangnya. Hal ini hanya mungkin terjadi jika kita memiliki alternatif ideologi yang lebih baik.
Bersambung ke Bagian 2/2
