Penulis: Arini Retnaningsih
Muslimah News, KELUARGA — Bagi orang-orang beriman, kedatangan Ramadan sangat ditunggu. Aroma kegembiraan sudah terasa. Bahkan, antusiasme menyambut Ramadan sudah muncul jauh-jauh hari sebelumnya.
Ramadan adalah bulan bertabur berkah. Di dalamnya, pahala dilipatgandakan. Nikmat beribadah dan beramal sangat terasa di dalamnya. Berbagai keutamaan ada di dalamnya. Oleh karena itu, orang-orang yang tidak bergembira dengan datangnya Ramadan hanya ada dua kemungkinan, yakni tidak tahu atau tidak beriman.
Betul, menjalani ibadah selama Ramadan memang tidak ringan. Namun, kegembiraan kita terhadap pahala yang Allah janjikan, membuat amal-amal kita tidak terasa beratnya. Masalahnya, untuk anak-anak, bagaimana kita bisa mengubah ibadah yang bagi mereka berat menjadi sesuatu yang menggembirakan sehingga mereka akan senantiasa merindukan kedatangan Ramadan?
Mengapa Harus Bergembira Menyambut Ramadan?
Menggembirakan anak menyambut Ramadan mestinya dimulai dari kegembiraan orang tua menyambut Ramadan. Ketika orang tua menampakkan antusiasme dan menebarkan aura kegembiraan, maka anak akan terbawa suasana tersebut.
Tentu anak-anak harus dijelaskan terlebih dulu alasan kita harus menyambut Ramadan dengan gembira. Kita bisa membuat pengibaratan Ramadan sebagai tamu agung yang datang dengan membawa banyak hadiah. Sampaikan hadis-hadis tentang keutamaan Ramadan, pahala yang dijanjikan Allah, dan pembangunan karakter diri yang akan diraih, seperti saleh, sabar, pemurah, dan sebagainya.
Hal ini dalam rangka membangun niat yang lurus pada anak dalam menjalankan ibadah puasa. Kuatkan iman mereka, kesadaran akan hubungan mereka dengan Allah, bahwa Allah adalah Sang Maha Pencipta yang telah menciptakan diri kita dengan sebaik-baiknya, Yang Maha Kuasa. Satu-satunya Tuhan yang harus ditaati. Dialah Yang Maha Pemberi Balasan Terbaik, Maha Pemberi Rahmat dan Ampunan.
Rasulullah saw. bersabda,
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهاَ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوْفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ
“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Swt. berfirman, ‘Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan ia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan, yaitu kebahagiaan ketika ia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Tuhannya. Sungguh, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.’” (HR Al-Bukhari dan Muslim).
Bagaimana Membangun Suasana Gembira?
Suasana gembira bisa dibangun dengan membuat persiapan Ramadan yang menyenangkan. Kita bisa menata ulang kamar anak dengan hiasan islami, mencuci sajadah dan perlengkapan salat tarawih mereka, menghias dinding atau pintu kamar anak dengan kata-kata motivasi, seperti “Meraih Berkah Ramadhan, Yes!”, “Puasa Menggapai Rida Allah”, “Marhaban Ramadan Bulan Bonus Pahala”, dan sebagainya. Bisa melibatkan mereka dalam pembuatannya. Boleh juga menyusun menu sahur dan berbuka dengan makanan kesukaan anak, sekalipun spesial tidak berarti mewah.
Orang tua juga bisa menceritakan kisah-kisah indah Ramadan pada masa Rasulullah saw., para Sahabat, maupun generasi setelahnya. Begitu juga pengalaman-pengalaman berpuasa orang tua saat masih kecil dulu. Kisah-kisah yang menguatkan tekad, menumbuhkan semangat, dan meluruskan niat. Kisah-kisah ini banyak terdapat di berbagai buku atau kita bisa browsing di internet.
Menghilangkan Kejenuhan Selama Puasa
Membangun suasana Ramadan yang menyenangkan juga sangat penting. Ketika anak merasakan bahwa Ramadan adalah momen spesial, maka momen tersebut akan terpatri di dalam hatinya hingga kelak ia dewasa. Oleh karena itu, sebaiknya saat Ramadan, orang tua meluangkan waktu lebih banyak untuk mendampingi anak-anak menjalankan ibadah saum, mengaji, dan menghafalkan Al-Qur’an, juga mengajak mereka bermain pada saat penat dan jenuh. Hal ini sebagaimana dilakukan para Sahabat pada masa Rasulullah ﷺ. Diriwayatkan dari Ar-Rubbayi binti Mu’awwidz, “Kami berpuasa dan memerintahkan kepada anak-anak kecil kami berpuasa. Kami pergi ke masjid. Kami membuatkan untuk mereka mainan dari kain wol. Apabila salah seorang dari mereka menangis karena lapar, kami berikan mainan itu kepadanya. Ini terus berlangsung sampai saat berbuka.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).
Bila memungkinkan, beri kesempatan anak tidur siang beberapa saat untuk memulihkan energi mereka karena selama Ramadan kemungkinan anak tidak libur sekolah. Kondisi anak juga perlu dipantau. Bila memang sudah tampak lemas dan tidak memungkinkan melanjutkan puasa, tawarkan untuk berbuka. Memaksa anak terus berpuasa di luar batas kemampuan mereka akan memunculkan kesan negatif anak terhadap puasa. Namun sebaliknya, bila sekiranya anak masih kuat, terus berikan semangat dan ajak mereka melakukan hal-hal yang bisa melupakan rasa lapar dan haus, seperti bercerita, bermain, dan beraktivitas ringan lainnya.
Untuk membangun semangat anak, orang tua bisa bercerita kisah Rasulullah saw. dan para Sahabat menjalani Ramadan. Banyak kesempatan selama Ramadan yang justru dimanfaatkan Rasulullah saw. dan para Sahabat untuk berperang. Perang Badar, terjadi pada Ramadan tahun ke-2 H, Perang Khandaq pada Ramadan tahun ke-5 H, Fathu Makkah pada Ramadan tahun ke-8 H, dan Perang Tabuk berlangsung Rajab–Ramadan tahun ke-9 H.
Mendekatkan Anak ke Masjid
Anak laki-laki sebaiknya diajak ke masjid saat kondisi mereka sudah tidak mengompol dan bisa tenang mengikuti ibadah. Biarkan mereka berkumpul dengan teman-temannya. Namun, berikan pengertian bahwa masjid adalah tempat beribadah, bukan tempat bermain dan tidak boleh mengganggu orang yang beribadah. Begitu pun itikaf, para ayah bisa mengajak anak laki-lakinya yang sudah masuk usia tamyîz untuk membiasakan mereka.
Anak perempuan juga boleh ikut ibunya ke masjid. Namun, bila ibu masih memiliki tanggungan bayi atau balita yang belum memungkinkan diajak ke masjid, atau masjid jauh dari rumah, lebih baik ibu salat tarawih di rumah. Siapkan tempat khusus di rumah untuk salat, mengaji, dan aktivitas ibadah lain di rumah. Bila tidak ada, kita bisa memanfaatkan kamar atau ruang tengah. Ini bisa digunakan juga untuk optimalisasi ibadah pada 10 hari terakhir sebagai ganti itikaf bagi ibu dan anak-anak yang tidak memungkinkan ke masjid.
Melibatkan Teman-Teman Anak
Anak akan lebih bergembira apabila bisa menjalankan ibadah bersama teman-temannya. Ajak mereka melakukan berbagai kegiatan bermanfaat. Dengan demikian, anak-anak bisa menikmati kebersamaan yang lebih dekat dengan teman-temannya.
Selain ke masjid, sesekali orang tua bisa mengundang teman anak-anak untuk berbuka puasa di rumah. Begitu pula bisa merancang Pesantren Kilat atau sanlat untuk anak beserta teman-temannya. Di satu sisi untuk menambah semangat anak, di sisi lain kita juga menjalankan aktivitas dakwah. Di sini kita bisa memadukan aktivitas ibadah seperti salat duha, tilawah Al-Qur’an, dan kajian Islam dengan cerita-cerita inspiratif dan permainan-permainan ringan yang menarik. Bisa jadi ini akan menjadi momen yang selalu ditunggu anak dan teman-temannya setiap Ramadan tiba, sekaligus mencetak kader-kader muda dalam dakwah Islam.
Bolehkah Memberi Hadiah bagi Anak Setelah Puasa?
Kegembiraan anak menyambut Ramadan sebaiknya kita tumbuhkan dalam kerangka pemikiran dan niat yang benar, yaitu ikhlas karena Allah Taala. Bukan karena iming-iming hadiah, apalagi upah. Hal ini karena sering kita jumpai orang tua yang memberikan nominal tertentu pada anak, misal sehari puasa dihargai Rp10.000,.
Namun, bila kita ingin memberikan hadiah sebagai bentuk apresiasi, boleh-boleh saja. Tidak perlu yang mahal, tetapi berkesan. Boleh juga hadiah uang pada Hari Raya, tetapi tidak disepakati pada awal Ramadan sehingga tidak terkesan sebagai upah.
Sekalipun demikian, jangan mengabaikan prestasi ibadah anak. Hadiahkan pelukan dan ciuman sambil menyampaikan, “Hari ini Kakak lulus ujian Allah. Pasti Allah akan sediakan pahala yang besar kelak di akhirat. BârakalLâh, Kak.”
Orang tua sebaiknya menghindari pujian seperti anak hebat, anak saleh, anak pintar, dan sejenisnya. Ini karena dikhawatirkan justru akan membiasakan anak dipuji sehingga menimbulkan ria.
Inilah beberapa kiat agar anak bisa bergembira menyambut Ramadan. Setiap Ramadan hadir, anak akan bersemangat menyambutnya dan menjadi momen yang ditunggunya setiap tahun, sebagaimana para Sahabat Rasulullah saw. berharap bertemu Ramadan. Ibnu Rajab menyebutkan keterangan Mu’alla bin Al-Fadhl–ulama tâbi’ tâbiîn–yang mengatakan, “Dulu para Sahabat selama enam bulan sebelum Ramadan datang, mereka berdoa agar Allah Swt. mempertemukan mereka dengan Ramadan. Kemudian, selama enam bulan sesudah Ramadan, mereka berdoa agar Allah Swt. menerima amal mereka selama bulan Ramadan.” (Ibnu Rajab, Lathâ’if al-Ma’ârif, hlm. 264).
Wallahualam bissawab. [Mnews/YG]
Sumber: alwaie[dot]net
