Kemelut Volatile Food, Menjadikan Ramadan Dibayangi Inflasi Pangan

Kemelut Volatile Food, Menjadikan Ramadan Dibayangi Inflasi Pangan

Penulis: Nindira Aryudhani, S.Pi., M.Si.

Muslimah News, OPINI — Menjelang Ramadan 2024, setidaknya ada lima komoditas pangan yang sudah terlihat mengalami kenaikan harga, yakni beras, cabai merah, minyak goreng, telur ayam ras, dan daging ayam ras. (Detik[dot]com, 3-3-2024).

Antisipasi

Secara historis, puncak inflasi selalu terjadi saat Ramadan dan Idulfitri, serta akhir tahun. Dengan begitu, semestinya pemerintah bisa melakukan berbagai upaya antisipasi agar inflasi bisa ditekan.

Untuk diketahui, setiap tahunnya, volatile food (komoditas pangan yang bergejolak) yang memberikan andil inflasi cukup besar saat Ramadan adalah minyak goreng, cabai rawit, bawang putih, daging ayam ras, dan telur ayam ras. Sedangkan saat Idulfitri, yakni daging ayam ras, telur ayam ras, dan daging sapi.

Namun tampaknya, penguasa masih saja kalah cepat dengan pergerakan harga komoditas pangan saat momen potensial puncak inflasi tersebut. Akibatnya, penguasa juga selalu gagal melakukan antisipasi.

Terlebih, tidak sedikit komoditas volatile food itu yang merupakan produk impor. Hal ini tentu sangat berpeluang mempengaruhi kenaikan harga bahan pangan. Belum lagi berbagai ancaman lainnya seperti kelangkaan maupun penimbunan barang. Pantaslah adakalanya masyarakat juga kesulitan memperoleh jenis komoditas tertentu di pasaran.

Tantangan Ketahanan Pangan

Mengutip laman resmi Kementerian Perdagangan (26-10-2023), Kepala Badan Kebijakan Perdagangan (BK Perdag) Kasan mengatakan volatile food adalah salah satu tantangan pada ketahanan pangan nasional. Ia menjelaskan, volatile food selalu berulang setiap tahun. Hal ini dipengaruhi oleh panen, gangguan alam hingga faktor perkembangan harga komoditas pangan domestik maupun internasional.

Pangan yang tidak bergejolak, paparnya, termasuk dalam kategori pangan olahan sehingga sudah bukan berupa komoditas dan tidak termasuk volatile food. Pangan yang tidak bergejolak ini masuk kategori inflasi inti. Oleh karena itu, menurutnya, solusi volatile food adalah menjadikannya komponen inflasi inti. Untuk mengubah volatile food menjadi inflasi inti ini, membutuhkan sebuah teknologi dan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang pangan.

Sebagai informasi, ketahanan pangan Indonesia masih tertinggal jika dibandingkan dengan Singapura, Malaysia, dan Vietnam. Secara angka, sejatinya Singapura lebih banyak melakukan impor pangan daripada Indonesia. Namun, penanganan masalah ketahanan pangan pada Negeri Singa tersebut lebih baik dibandingkan Indonesia. Sementara Thailand, yang banyak melakukan ekspor pangan, ternyata nilai indeks ketahanan pangannya lebih rendah daripada Indonesia.

Memang, perdagangan pangan menjadi salah satu solusi untuk ketahanan pangan. Namun demikian, negara yang bergantung pada perdagangan pangan luar negeri (impor), nyatanya belum tentu kesulitan dalam menanggulangi ketahanan pangan. Untuk itu, Kemendag secara intensif telah melakukan berbagai kerja sama perdagangan internasional untuk mendukung ketahanan pangan seperti dengan World Trade Organization (WTO) guna meningkatkan produktivitas, mendapat fasilitasi perdagangan, pengelolaan stok dan kerja sama internasional.

Menyolusi Inflasi?

Adanya arus perdagangan pangan global sejatinya turut menegaskan kuatnya jejaring kapitalisasi di sektor pangan. Lebih mirisnya lagi, para kapitalis itu begitu lihai memanfaatkan momen-momen yang setiap tahunnya memicu tingginya inflasi, bahkan puncaknya inflasi. Bagi mereka, momen-momen tersebut jelas masa panen cuan.

Tidak heran, pada momen-momen tersebut, kartelisasi beserta jejak mafia komoditas pangan juga marak dan merajalela. Parahnya lagi, kondisi ini seolah turut diaminkan oleh penguasa melalui berbagai kebijakan yang jauh dari kata berpihak kepada rakyat. Untuk sektor pangan sendiri, karut-marut kebijakannya bukan sebatas soal meningkatnya permintaan barang, tetapi juga ada faktor lain seperti melambungnya harga pupuk, pencabutan subsidi pupuk, kisruh produksi alsintan, alih fungsi lahan pertanian, dan konglomerasi global produk pangan yang menguasai rantai hulu hingga hilir. Pada akhirnya, korbannya tentu saja rakyat sendiri mengingat mayoritasnya adalah konsumen komoditas pangan.

Demikian halnya keberadaan inflasi inti yang diklaim bisa menyolusi volatile food, ternyata toh belum tentu mampu menjadi solusi andal. Inflasi inti memang memiliki peran penting karena merefleksikan hubungan antara harga barang dan jasa dengan pendapatan konsumen.

Namun demikian, secara teori, inflasi inti sudah dipetakan berpengaruh terhadap semua kenaikan harga barang dan jasa, kecuali sektor makanan dan energi. Jadi, kedua sektor tersebut akan terlalu sulit—bahkan mustahil—untuk masuk kategori inflasi inti. Apalagi jika para kapitalis pangan tengah beroperasi menadah profit, kepentingan kapitalistik mereka jelas tidak bisa kita abaikan.

Ramadan yang Menyedihkan

Kondisi seperti ini faktanya selalu berulang. Tidak pelak, Ramadan ke Ramadan selalu saja kondisinya menyedihkan. Sebabnya, Ramadan yang semestinya menjadi momen khusyuk kaum muslim dalam beribadah, ternyata harus membuat fokus mereka teralihkan pada gejolak kenaikan harga bahan pangan. Ini masih belum urusan perjalanan mudik ke kampung halaman saat Idulfitri nanti, yang rata-rata juga membutuhkan biaya besar. Untuk itu, kaum muslim di negeri kita membutuhkan banyak aspek pelurusan pemahaman akan syariat Islam di momen Ramadan, selain tetap memosisikannya sebagai bulan mulia.

Kondisi kita memang masih lebih beruntung dibandingkan kaum muslim Palestina maupun negeri muslim lain yang tengah dilanda konflik. Meski begitu, hendaklah kesyahduan Ramadan tidak diganggu oleh perkara-perkara duniawi yang seharusnya diselesaikan oleh penguasa, mengingat posisinya sebagai urusan publik. Stok, pasokan, serta fluktuasi harga komoditas pangan jelas membutuhkan regulasi sistemis. Hal ini dalam wujud penjagaan ketersediaan sekaligus stabilitas harganya.

Di samping itu, Ramadan dan Idulfitri memang momen rawan inflasi. Namun demikian, Ramadan yang juga merupakan momen maraknya sedekah karena memberi makan orang yang berpuasa, janganlah dimanfaatkan untuk semata panen cuan oleh para pengusaha maupun produsen pangan. Sebabnya, orientasi berlebihan pada profit biasanya rawan penipuan dalam berbagai transaksi ekonomi. Hal yang begini jelas mencederai keagungan Ramadan. Jika sudah begitu, tidakkah transaksi ekonomi yang jauh dari keberkahan justru turut menjamur?

Ramadan di Bawah Naungan Khilafah

Allah Taala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al-Baqarah [2]: 183).

Terkait dengan ayat tersebut, juga sebagaimana kutipan artikel karya Ustaz Fathiy Syamsuddin Ramadhan di Muslimahnews.com (2021), Ramadan pada masa Rasulullah saw. sungguh penuh dengan suasana ibadah, perjuangan, dan takarub kepada Allah Swt.. Sebabnya, Ramadan adalah bulan ketika Allah Swt. melipatgandakan pahala ibadah dan amal saleh kaum muslim, baik itu berupa ibadah mahdhah (salat tarawih, membaca Al-Quran, sedekah, dan zikir), dakwah maupun aktivitas jihad untuk memerangi orang-orang kafir.

Hanya saja, bagaimanapun ada perbedaan nyata antara Ramadan saat ini dengan Ramadan sebelum keruntuhan Khilafah Islamiah pada 1924. Sebelum 1924, kaum muslim menjalani ibadah puasa di bawah naungan Khilafah dan kepemimpinan para khalifah yang memiliki komitmen kuat untuk menjaga Islam dan kaum muslim. Sebaliknya saat ini, kaum muslim harus melalui bulan Ramadan di bawah naungan pemerintahan kufur dan pemimpin-pemimpin jahat, yang mengatur urusan mereka dengan hukum-hukum kufur.

Terkhusus di negeri kita, para penguasa bahkan begitu tega mengoyak Ramadan dengan kemelut inflasi pangan yang tentu saja sangat menodai kekhusyukan kaum muslim dalam meraih sebaik-baiknya pahala dibandingkan pada bulan-bulan yang lain. Belum lagi berbagai krisis sosial, generasi, politik, ekonomi, utang luar negeri, juga beragam bentuk kemaksiatan, yang semuanya itu mustahil kita diamkan.

Allah Taala berfirman, “Itulah negeri-negeri (yang telah Kami binasakan), Kami ceritakan sebagian kisahnya kepadamu. Rasul-rasul mereka benar-benar telah datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Tetapi mereka tidak beriman (juga) kepada apa yang telah mereka dustakan sebelumnya. Demikianlah Allah mengunci hati orang-orang kafir.” (QS Al-A’raf [7]: 101).

Wallahualam bissawab. [MNews]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *