Penulis: Nabila Ummu Anas
Muslimah News, TARIKH KHULAFA — Konstantinopel merupakan salah satu kota terpenting di dunia. Karena merupakan kota paling besar dan strategis, Konstantinopel menjadi kota yang memiliki keistimewaan di mata dunia. Konstantinopel dibangun oleh seorang Raja Byzantium, Constantine. Sejak didirikannya, orang-orang Byzantium telah menjadikan Konstantinopel sebagai ibu kota Kerajaan Byzantium
Adanya Hadis Nabi Saw.
Ketika kaum muslim berjihad melawan kekaisaran Byzantium, Konstantinopel sebagai ibu kota Byzantium menjadi sasaran utama dalam setiap pertempuran yang dilakukan. Hal ini dikarenakan adanya hadis Nabi Muhammad saw. tentang Kota Konstantinopel ini.
Dari Abu Qobil, ia berkata, “Kami berada di sisi Abdullah bin Amr bin Ash dan beliau ditanya tentang mana kota yang dibuka terlebih dahulu, apakah Konstantinopel ataukah Romawi? Maka beliau meminta untuk diambilkan sebuah kotak, lalu beliau mengeluarkan sebuah kitab lalu berkata: ‘Berkata Abdullah bin Mas’ud, ‘Tatkala kami bersama Rasulullah saw. untuk menulis, tiba-tiba beliau ditanya: Manakah kota yang terlebih dahulu dibuka, apakah Konstantinopel ataukah Romawi?’ Maka beliau menjawab, ‘Yang dibuka terlebih dahulu adalah kota Heraklius.’ Yaitu Konstantinopel.” (HR Ahmad, Ad-Darimi, dan Al-Hakim).
Sejak Umayyah hingga Utsmaniyyah
Para khalifah dan panglima pasukan muslim berlomba-lomba untuk menaklukkan Konstantinopel pada masa yang berbeda-beda. Berbagai kekuatan jihad umat Islam telah berusaha mengarah ke Konstantinopel. Berawal dari masa Muawiyah bin Abu Sufyan pada serangan pertama pasukan muslim tahun 44 H. Namun, serangan ini tidak berhasil. Pada masanya, serangan-serangan dilakukan berulang kali, tetapi belum menuai kemenangan.
Pada masa Dinasti Umayyah juga dilakukan usaha yang lain untuk menaklukkan Kontantinopel. Serangan terbesar dilakukan pada masa pemerintahan Sulaiman bin Abdul Malik tahun 98 H.
Upaya untuk menaklukkan Konstantinopel terus berlanjut. Pada masa awal Khilafah Abbasiyah, berlangsung jihad yang sangat intensif melawan Kekaisaran Byzantium. Namun, serangan itu tidak dapat mencapai Kota Konstantinopel dan tidak membahayakannya. Meskipun demikian, serangan pasukan Abbasiyah telah menimbulkan gejolak di dalam negeri Kekaisaran Byzantium, khususnya serangan yang dilancarkan pasukan Khalifah Harun ar-Rasyid pada tahun 190 H.
Setelah itu, pemimpin Kerajaan Saljuk-Islam, Alib Arslan (455-465 H) mampu mengalahkan Raja Romawi, Romanus IV Deogenes pada Perang Manzikert yang terjadi pada tahun 464 H. Sultan Alib Arslan menawan Raja Romanus dan memenjarakannya. Setelah beberapa lama, ia dibebaskan setelah berjanjji untuk membayar upeti tahunan.
Pada awal abad ke-8 Hijriah, orang-orang Turki Utsmani menggantikan posisi Bani Saljuk. Upaya untuk menaklukkan Kota Konstantinopel kembali membara. Upaya pertama dilakukan oleh Sultan Bayazid “Sang Petir”. Dengan kekuatan penuh, pasukan Sultan Bayazid mampu mengepung Kota Konstantinopel pada tahun 786 H. Sultan Bayazid melakukan tawar menawar dengan Kaisar Byzantium untuk menyerahkan kotanya secara damai kepada kaum muslim. Namun, Kaisar Byzantium selalu menunda-nunda dan berusaha meminta bantuan kepada Eropa untuk menahan serangan kaum muslim terhadap Konstantinopel.
Pada saat bersamaan, datanglah pasukan Mongolia yang dipimpin Timur Lenk ke wilayah Daulah Utsmaniyyah dan mulai melakukan kerusakan. Sultan Bayazid terpaksa menarik kekuatannya dan melepaskan pengepungan Kota Konstantinopel untuk menghadapi pasukan Mongolia tersebut.
Ketika pemerintahan Daulah Ustmaniyah kembali stabil, semangat jihad penaklukan Konstantinopel kembali berkobar. Pada masa pemerintahan Sultan Murad II tahun 824-863 H, terjadi beberapa upaya untuk menaklukkan Konstantinopel.
Pada saat yang bersamaan, Raja Byzantium menyalakan api fitnah di dalam barisan orang-orang Turki Utsmani dengan memberikan bantuan kepada kelompok yang ingin memberontak pada Sultan Murad II. Dengan cara ini, ia berhasil menyibukkan Sultan Murad II untuk memberantas pemberontakan tersebut dan teralihkan dari upaya penaklukan Konstantinopel. Turki Utsmani belum mampu mewujudkan hal yang sangat mereka inginkan itu, kecuali pada masa putranya, Sultan Muhammad al-Fatih.
Muhammad al-Fatih sudah terbiasa melakukan pekerjaan kesultanan pada masa ayahnya masih hidup. Ia merasakan sendiri pertempuran melawan Kekaisaran Byzantium dalam situasi dan kondisi yang berbeda-beda. Ia juga sangat mengetahui berbagai upaya bangsa Turki Utsmani dalam menaklukkan Konstantinopel. Bahkan, ia pun mengetahui berbagai peperangan yang berlangsung pada masa umat Islam sebelumnya. Dengan demikian, sejak Muhammad al-Fatih memegang kekuasaan pada tahun 855 H, ia bercita-cita untuk menaklukkan Konstantinopel dan berpikir serius tentang cara menaklukkannya. [MNews/Rgl]
Sumber: Dr. Ali Muhammad ash-Shallabi, Sejarah Daulah Utsmaniyyah, Faktor-Faktor Kebangkitan dan Sebab-Sebab Keruntuhannya, Ummul Qura

Alhandulillah