Penulis: Rindyanti Septiana, S.H.I.
Muslimah News, OPINI — Dinas kesehatan di berbagai daerah telah mempersiapkan layanan kesehatan bagi caleg yang gagal dalam pemilu. Ini karena ketika seseorang mengalami kegagalan, tentu muncul rasa kecewa yang berujung gangguan mental. Ternyata, kondisi ini sering dialami para “caleg gagal”.
Vice Director Medical Services Rumah Sakit Pertamina (RSPP) dr. Dody Alamsyah Siregar, M.P.H. mengatakan, pada situasi Pemilu 2024, mungkin saja ada kemungkinan caleg gagal mengalami gangguan kesehatan mental. Berkaca dari lima tahun sebelumnya, beberapa caleg yang gagal dalam pesta demokrasi untuk mendapatkan kursi di DPR memang mengalami masalah mental. (Suara[dot]com, 11-1-2024).
Kepala Dinkes DKI Jakarta Ani Ruspitawati mengatakan pelayanan kesehatan jiwa dimulai dengan proses skrining dan tindak lanjut awal di puskesmas yang ada di 44 kecamatan se-Jakarta. Kemudian, calon pasien akan mendapatkan surat rujukan untuk ditindaklanjuti di RSUD yang memiliki layanan psikiatri. Dinkes DKI juga menyediakan pelayanan dari psikolog yang tersebar di 25 puskesmas di DKI Jakarta. (Tirto, 6-2-2024).
Kondisi caleg gagal yang mentalnya terganggu, berbeda-beda. Ada yang depresi ringan, ada juga yang depresi berat sampai harus dirawat yang akhirnya membutuhkan bantuan psikolog, dokter jiwa, psikiater, dan lainnya. Sungguh memprihatinkan, setiap lima tahun sekali dalam pesta demokrasi tersisa para caleg yang “gila” karena gagal dalam kontestasi.
Orang Stres Meningkat Pascapemilu
Sistem demokrasi telah mengikis kesehatan mental banyak orang. Namun, tidak sedikit yang masih meyakini dan memperjuangkan sistem ini untuk tetap eksis. Anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta Abdul Aziz sampai meminta Dinkes DKI Jakarta menyiapkan layanan konseling juga fasilitas kesehatan jiwa bagi caleg yang stres. (Detik, 26-1-2024).
Ia mengimbau untuk belajar dari situasi dan kondisi dari pemilu-pemilu sebelumnya, yakni kecenderungan orang stres meningkat pascapemilu. Kok bisa begitu? Bayangkan saja, para caleg yang maju dalam kontestasi pemilu harus menggelontorkan dana yang tidak sedikit. Setidaknya lebih dari Rp2 miliar dihabiskan untuk membiayai berbagai kepentingan kampanye, mulai dari alat peraga kampanye (APK) hingga ongkos tim sukses dan relawan. Modal miliaran itu dicari dengan cara menjual aset pribadi hingga pinjam uang sana sini.
Psikiater dan Direktur Utama Pusat Kesehatan Jiwa Nasional dr. Nova Riyanti Yusuf, Sp.K.J. mengatakan bahwa banyak caleg gagal yang menjadi pasiennya karena terlilit utang, kecewa berat, dan ingin mengakhiri hidupnya. Tragis!
“Gila” Kemudian?
Tidak sedikit caleg yang mencalonkan diri hanya untuk tujuan kekuasaan ataupun materi, tetapi ternyata berujung kekalahan. Hal faktor utama masalah mental. Ada yang sakit jiwa menjadi gila, keluarga dan tim sukses mereka juga ikut stres.
Apa sebenarnya akar masalah dari berulangnya para caleg mengalami gangguan mental pascapemilu? Pengamat sosial Iwan Januar mengatakan, hal ini disebabkan demokrasi yang notabene merupakan sistem politik yang tidak manusiawi. Sistem ini membuat banyak orang memuja jabatan dan materi, akhirnya depresi karena besarnya modal telah digelontorkan. (Media Umat).
Sementara itu, pengamat politik Suswanta Abu Alya mengatakan bahwa kampanye bisa menghabiskan Rp200 juta sampai Rp6 miliar. Biaya yang sangat besar ini memaksa para caleg memutar otak mencari dana memenuhi biaya kampanye. Mereka jorjoran mengeluarkan biaya politik demi meraih kekuasaan, hingga harus mencari banyak cukong.
Para cukong pun pasti akan menagih janji untuk mengembalikan modal hingga yang dipikirkan para caleg hanya uang dan uang. Jika kalah, mereka menjadi gila karena terlilit utang. Kalau menang, mereka juga menjadi gila karena harta dunia. Akhirnya, mau menang maupun kalah, keduanya bisa menyebabkan para caleg menjadi “gila”.
Say Goodbye to Demokrasi
Sejatinya, diakui ataupun tidak, praktik demokrasi telah menjadikan kedaulatan berada di tangan segelintir orang, bukan di tangan rakyat. Segelintir itu ialah para pemilik modal. Jadi, apabila perubahan yang dikehendaki disebut demi rakyat, nyatanya itu hanya tipuan belaka. Ini karena para pemilik modallah yang mampu mengendalikan kekuasaan.
Setiap lima tahun sekali pada pesta demokrasi, tipu-tipu itu terus saja terjadi. Lalu, mengapa rakyat tidak menyadari dan masih percaya pada sistem ini? Presiden AS kedua John Adams sendiri pernah menyatakan bahwa demokrasi tidak akan pernah bertahan lama. Ia akan segera dibuang, kehilangan kekuatannya, dan akan menghabisi dirinya sendiri.
Apabila demikian halnya, seharusnya kita katakan, “Goodbye, Demokrasi!” Demokrasi tidak akan pernah menjadi penyelamat kehidupan, melainkan justru memasukkan umat ke dalam jurang kemiskinan dan keburukan.
Umat Islam harus segera menyadari bahwa kesempurnaan Allah sebagai pembuat hukum dapat dirasakan dan disaksikan hanya dalam bangunan institusi Islam (Khilafah). Khilafah terlah terbukti selama 14 abad menjalankan sistem pemerintahan yang mampu menyejahterakan, memberi keadilan, serta melahirkan manusia yang beradab dan berakhlak mulia.
Tentu kita merindukan hidup dalam kepemimpinan yang amanah, mencintai, dan menyejahterakan rakyatnya. Seperti halnya yang dilakukan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Ia pernah mengatakan kepada istrinya Fatimah, “Fatimah, aku memikul beban umat Muhammad dari yang hitam hingga yang merah. Aku juga memikirkan persoalan orang-orang yang fakir dan kelaparan, orang yang sakit dan diacuhkan, orang yang tidak sanggup berpakaian yang tersisihkan, orang yang teraniaya dan tertindas, yang terasing dan tertawan, yang tua dan yang jompo, yang memiliki banyak kerabat tetapi hartanya sedikit, serta orang-orang seperti mereka di seluruh pelosok negeri. Aku sadar dan aku tahu bahwa Tuhanku kelak akan menanyakannya pada hari kiamat. Aku khawatir saat itu aku tidak memiliki alasan terhadap Tuhanku, maka menangislah aku.”
Khatimah
Berawal dari niat menjadi wakil rakyat, tetapi berujung gagal dalam pemilihan. Akhirnya stres, sakit jiwa, bahkan ingin bunuh diri. Kondisi ini bukan hanya memprihatinkan, melainkan juga mengerikan. Sudahlah berbiaya mahal, demokrasi juga rentan menyebabkan gangguan mental. Sudah semestinya kita tinggalkan sistem yang terbukti gagal.
Allah Taala berfirman, “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (QS Al-An’am: 116). [MNews/Gz]

Goodbye Demokrasi