Pay Later, Solusi Keuangan yang Bikin Blunder

Pay Later, Solusi Keuangan yang Bikin Blunder

Penulis: Asy-Syifa Ummu Shiddiq

Muslimah News, OPINI — Sistem beli sekarang, bayar kemudian, atau buy now, pay later (BNPL), sedang tren. Masyarakat menganggap metode pembayaran ini sebagai solusi yang memudahkan untuk bertransaksi, tidak terkecuali bagi Gen Z dan milenial. Sayangnya, cara pembayaran itu justru menyebabkan masalah baru. Sebanyak 4,31% pengguna BNPL tercatat mengalami gagal bayar. Sebanyak 39,2% usia 20—30 tahun dan 35,84% usia 30—40 tahun. Jumlah tunggakannya mencapai sekitar Rp1,12 triliun. (CNBC Indonesia, 16-1-2024).

Ada beberapa sebab mereka menggunakan BNPL. Misalnya, membeli kebutuhan mendesak, belanja cicilan jangka pendek, tertarik promo, ataupun sekadar memenuhi kebutuhan hiburan. Gen Z dan milenial juga lebih memilih sistem pembayaran ini karena prosesnya yang cepat dan mudah. Mereka tidak perlu mengurus kartu kredit, cukup dengan KTP. (Esensi TV, 17-1-2024).

Perangkap Berbahaya

Kemudahan yang ditawarkan BNPL sangat menggiurkan bagi siapa saja. Akibatnya, banyak pihak terperangkap dalam layanan jual beli dengan sistem tersebut. Tanpa disadari, kemudahan ini justru menjerumuskan para penggunanya. Mereka membeli berbagai barang tanpa menghitung jumlah uang yang harus dikeluarkan tiap bulannya. Jumlah tagihan pun membengkak dan jumlahnya berlipat karena BNPL memakai sistem riba.

Sistem seperti ini jelas berbahaya. Apalagi saat tawaran promo yang membuat pengguna gelap mata, tidak peduli ada uang atau tidak untuk membayarnya. Kemudahan ini akhirnya menjadi kesempatan bagi mereka untuk mendapatkan barang yang diincar. Ketika tidak ada rem yang menahan hasrat berbelanja, tagihan BNPL pun makin membesar. Jadilah para pengguna kesulitan untuk membayar.

Lebih parah lagi, lingkungan saat ini memang mendorong seseorang untuk mengedepankan materi belaka. Kepuasan tertinggi adalah dengan mendapatkan kebahagiaan dunia sebanyak-banyaknya. Tanpa pikir panjang, ketika ada promo yang menggiurkan, ditambah tawaran metode pembayaran yang kelihatan mudah, langsung saja tancap gas.

Kondisi ini ujungnya memperbesar munculnya kredit macet dan para pengguna tersandera pada jebakan finansial. Kalau sudah demikian, para pengguna harus mengorbankan hartanya demi melunasi utang. Bayangkan, kalau utangnya banyak, tentu akan menguras semua harta benda. Itu kalau punya harta. Kalau tidak, ya lebih parah lagi. Inilah sebab BNPL justru menimbulkan blunder.

Jerat Kapitalisme

Kehidupan yang inginnya serba mudah dan instan tanpa memperhatikan syarat-syarat tertentu adalah prinsip dari sistem kapitalisme yang hanya mementingkan materi. Kapitalisme juga tidak memakai agama sebagai petunjuk hidup. Lahirlah individu-individu yang mengedepankan hasrat atau hawa nafsunya, termasuk dalam berbelanja.

Bagi sistem materialistis seperti ini, apa saja boleh dilakukan, terutama untuk mencari kekayaan. Wajar jika kapitalisme menyuburkan bisnis-bisnis pinjaman berbau riba, bahkan negara memberikan fasilitas agar masyarakat mudah mengaksesnya.

Kehidupan hedonisme juga makin mendorong Gen Z dan milenial untuk memenuhi hasrat mereka. Sifat ingin serba mudah dan instan membuat mereka memilih BNPL untuk memenuhi segala kemauan. Pandangan kapitalistik ini turut memengaruhi masyarakat dan negara. Keduanya klop dan sepakat bahwa BNPL bisa membantu kehidupan masyarakat.

Pandangan Islam

Islam merupakan sistem yang jelas dalam membedakan benar dan salah atau boleh dan tidak boleh. Sistem pembayaran seperti BNPL seperti saat ini hukumnya haram karena mengandung aktivitas ribawi, yakni seseorang meminjam uang ke pihak ketiga untuk membayar barang yang ia beli disertai tambahan riba, padahal Islam melarang seorang muslim terikat riba.

Selanjutnya, masalah membeli barang. Islam melarang seorang muslim untuk memiliki sifat berlebihan. Gaya hidup hedonisme bukanlah gaya hidup Islam, apalagi membeli barang-barang karena tertarik dengan promonya saja alias bukan karena membutuhkannya. Islam mengajarkan seorang muslim untuk hemat dan mengeluarkan harta hanya pada hal-hal yang diperlukan.

Islam juga mewajibkan seorang muslim terikat dengan seluruh syariat-Nya, termasuk dalam membelanjakan harta. Mereka melakukan perintah itu atas dorongan iman kepada Allah Taala. Keyakinan bahwa setiap amal perbuatan manusia akan diminta pertanggungjawaban menjadi pemacu semangat kaum muslim untuk taat dalam kondisi apa pun dan di mana saja.

Hanya saja, aturan Islam tersebut tentu terasa berat jika tidak didukung oleh sistem yang paripurna. Kaum muslim jelas sulit menerapkan aturan Islam ketika hidup di alam kapitalisme seperti sekarang, yakni semua yang haram menurut Islam, justru dibolehkan. Artinya, kaum muslim butuh sistem Islam agar dapat menjalankan syariat Allah sebagaimana mestinya.

Dalam hal ini, sistem pemerintahan Islamlah (Khilafah) yang bisa menerapkan aturan Islam secara sempurna. Khilafah hanya akan membolehkan sistem jual beli sesuai syarak, juga membuat aturan agar masyarakat jauh dari sifat berlebihan.

Akan ada sanksi tegas terhadap segala pelanggaran sehingga orang yang terlibat dalam transaksi haram akan jera, segera bertobat, dan orang lain tidak akan menirunya. Oleh karenanya, sudah saatnya kaum muslim hidup dalam naungan sistem yang benar (Khilafah). Ini karena solusi keuangan yang akan Islam terapkan tidak akan menimbulkan blunder sebagaimana pay later. [MNews/Gz]

Share

One thought on “Pay Later, Solusi Keuangan yang Bikin Blunder”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *