Muslimah News, NASIONAL — Mencermati persoalan perempuan dan generasi sepanjang 2023, Direktur Institut Muslimah Negarawan (IMuNe) sekaligus ahli geopolitik Dr. Fika Komara menyatakan, persoalan perempuan sangat dekat dengan masalah human security.
“Ketika berbicara geopolitik, maka tidak melulu tentang national security, tetapi juga human security. Dalam hal ini, justru persoalan perempuan sangat dekat dengan masalah human security,” jelasnya dalam diskusi di kanal Media Umat bertema “Quo Vadis Umat 2024”, Ahad (7-1-2024).
Kekerasan Meningkat
Ia mengungkapkan, kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan pada 2023 makin meningkat. “Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengungkapkan ada 21.768 kasus sepanjang 2023. Kemen PPPA juga mengonfirmasi ada peningkatan yang sangat signifikan. Bahkan statistik kekerasan pada anak meningkat 30%,” urainya.
Mirisnya, ia menerangkan, penyumbang terbesar angka kekerasan adalah kekerasan dalam rumah tangga, artinya ada masalah dalam bangunan keluarga.
“Ini masalah yang terkesan tidak terlalu relevan pada kepentingan pertahanan keamanan negara. Padahal Kemen PPPA mengatakan indeks pemberdayaan gender itu meningkat, tetapi paradoksnya, persoalan human security juga sama tingginya, bukan malah mengurangi persoalan di masyarakat,” kritiknya.
Ia mempertanyakan, apakah ini karena persoalan perangkat hukum yang tidak bisa menyelesaikan? “Kapolri sendiri mengatakan baru menyelesaikan 30% dari 21 ribu kasus tadi. Jadi begitu banyak penumpukan. Kalau trennya seperti ini, maka pada 2024 cenderung pesimis [akan teratasi],” ujarnya.
Paradigma
Menurutnya, persoalan terjadi pada paradigma pembangunan perempuan itu sendiri. “Ketika berbicara indeks pemberdayaan gender, maka tidak bisa dilepaskan dari konsep pengarusutamaan gender, juga women and development yang digagas dengan nilai-nlai Barat melalui pendekatan ekonomi, seperti tingkat partisipasi tenaga kerjanya, profesionalitasnya, dan keberadaan di parlemen,” paparnya.
Namun, lanjutnya, bagaimana agar perempuan tadi berdaya membangun keluarga, menjaga anak-anak dan kehormatannya? “Tidak ada jaminan. Nah, ini yang gagal ditangkap dalam proses kebijakan,” cetusnya.
Ia mengutip dari penulis dan tokoh pendidikan asal Yordania Majid al-Kilani bahwa ketika pembangunan berporos pada materi, maka manusia menjadi unsur yang paling tidak berharga. “Inilah yang terjadi pada kaum perempuan, padahal ia adalah kehormatan sebuah masyarakat. Pemberdayaan perempuan lebih ke level ekonomi dan tidak berbanding lurus dalam menjaga ketahanan masyarakat,” ungkapnya.
Untuk itu, ia menegaskan, jika berbicara 2024, maka harus menyentuh pada level yang sifatnya paradigmatik konseptual, tidak hanya berhenti di level teknis atau pembangunan infrastruktur, tanpa mengoreksi konsep-konsep yang selama ini kita terima dari lembaga-lembaga dunia.
“Ketika paradigmanya tetap seperti ini, berarti bisa dikatakan tidak akan terjadi perubahan signifikan terhadap nasib perempuan dan generasi, malah justru manambah masalah. Sebagaimana sindrom Chicago bahwa dengan pembangunan fisik luar biasa, kejahatan malah merajalela. Ini gejala di negara-negara Barat yang sekarang makin dirasakan di negeri-negeri muslim,” jelasnya.
Oleh karenanya, ia khawatir, makin banyak perempuan yang tidak lagi menghargai bangunan keluarga karena mereka lebih merasa dihargai dengan prestasi, karir, finansial, dan popularitas yang merupakan pencapaian materi.
Kehormatan
Kemudian Dr. Fika menuturkan, jika bicara value dan peradaban, seharusnya perempuan adalah kehormatan. “Dalam Islam, ia menjadi sumber yang mengajarkan nilai-nilai luhur bagi anak-anaknya,” ujarnya.
Untuk itu, ia menekankan, kaum perempuan harus punya agenda besar perubahan. “Kaum perempuan adalah investasi terbesar dalam peradaban karena yang akan menyiapkan generasi ke depan,” ucapnya.
Ia pun menilai kesadaran tersebut makin membesar. Menurutnya, hal itu tampak di kalangan akar rumput maupun terpelajar yang sudah mulai memiikirkan untuk apa mengejar karir tinggi jika keluarganya berantakan. “Ini karena perempuan adalah kunci peradaban dan benteng dari kerusakan,” tukasnya.
Oleh karenanya, ia tetap optimis, selama dakwah terus bergulir, maka kesadaran itu makin menguat di kalangan kaum muslimah. [MNews/Ruh]
