Senja Kala Sikap Muslim Saat Pergantian Tahun

Senja Kala Sikap Muslim Saat Pergantian Tahun

Penulis: Chusnatul Jannah

Muslimah News, OPINI — Gempita malam tahun baru menyisakan pilu. Kala pesta kembang api menyala-nyala di banyak negara, di atas langit Gaza, malam kian mencekam karena bayang-bayang ledakan bom di sana. Langit Gaza gelap dan pekat tatkala kaum muslim lainnya asyik menghiasi langit malam hari dengan pesta pora. Di Aceh, saat semarak pesta tahun baru riuh, saat itu pula pengungsi muslim Rohingya terlunta akibat gelombang pengusiran paksa oleh ratusan mahasiswa.

Sudah 21.822 jiwa warga Palestina meregang nyawa sejak genosida entitas Y4hudi membabi buta, sejak itu juga pembelaan terhadap Palestina mulai mengendur. Boikot, misalnya, gaungnya tidak lagi sekencang awal meletusnya pembantaian.

Sepertinya, kaum muslim mulai lupa tentang hakikat ikatan akidah Islam. Kaum muslim terbelah atas pembelaan Rohingya. Pembelaan terhadap Palestina juga mulai memudar. Akankah senja kala sikap muslim saat pergantian tahun bisa berakhir dengan menatap sinar Khilafah pada masa depan?

Pilunya Nasib Kaum Muslim

Betapa pilunya nasib kaum muslim di berbagai belahan dunia. Ada yang terkurung dalam perang, ada yang terusir tanpa kewarganegaraan, ada yang tersiksa di bawah tangan penguasa tiran, ada pula yang tenggelam dalam kehidupan sekuler liberal yang jauh dari aturan Islam.

Kondisi ini mengingatkan kita pada sabda Nabi saw. tentang kaum muslim, “Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya. Maka seseorang bertanya, ‘Apakah karena sedikitnya jumlah kita?’ Bahkan kalian banyak, tetapi kalian seperti buih mengapung. Dan Allah telah mencabut rasa gentar dari dada musuh kalian terhadap kalian. Dan Allah telah menimpakan dalam hati kalian penyakit al-wahn. Seseorang bertanya, ‘Ya Rasulullah, apakah al-wahn itu?’ Nabi saw. bersabda, ‘Cinta dunia dan takut akan kematian.'” (HR Abu Dawud No. 4297).

Begitulah, kecintaan terhadap dunia melalaikan kaum muslim dari aturan Islam. Generasi terjebak dalam lingkaran budaya kufur yang merusak. Malam pergantian Tahun Baru Masehi kerap diikuti kemaksiatan yang dianggap “biasa”, semisal seks bebas, pesta miras, narkoba, dan hura-hura. Dalam satu malam, berkumpul banyak kemaksiatan. Bahkan, budaya kufur seperti perayaan Tahun Baru Masehi kerap difasilitasi pemerintah yang turut memeriahkannya.

Tidak hanya di Indonesia, di negeri muslim lainnya terjadi hal yang sama. Memang, Indonesia tidak lagi dijajah secara fisik, tetapi pemikiran sekuler-liberal telah menghinggap dalam benak kaum muslim dan menjadi gaya hidup yang sudah mendarah daging. Inilah bentuk penjajahan pemikiran asing yang memengaruhi pemahaman hingga lahirlah pola sikap yang berkebalikan dari ajaran Islam.

Jika di Indonesia terjajah secara pemikiran, lain halnya di Palestina. Tanah mereka dirampas, rumah mereka dibombardir, dan ruang hidup mereka dirusak bertahun-tahun lamanya. Hampir 2,3 juta penduduk Gaza dipaksa keluar dari rumah mereka melalui serangan tanpa henti selama 12 pekan belakangan. Fasilitas publik seperti rumah sakit, sekolah, tempat penampungan, hingga pasokan air dan listrik, dihancurkan bertubi-tubi.

Resolusi berkali-kali tidak berarti apa-apa. Semua kesepakatan internasional dianulir demi menjaga Y4hudi penjajah bercokol di bumi para nabi. Itulah tujuan Amerika dan sekutunya untuk menjaga Palestina agar tetap dalam kekuasaan mereka. Solusi dua negara yang ditawarkan dunia bukanlah solusi hakiki bagi Palestina. Jadi, membebaskan Palestina dari penjajahan tidak cukup dengan diplomasi atau basa-basi.

Bersuara membela Palestina dan tetap berisik melawan propaganda Z10nis wajib tetap berjalan. Inilah ranah perjuangan setiap individu kaum muslim. Akan tetapi, memperjuangkan Palestina untuk membebaskannya dari penjajahan dengan tegaknya Khilafah mestinya juga menjadi kewajiban bagi setiap muslim yang menginginkan kemerdekaan hakiki bagi Palestina. Khilafahlah yang akan mempersatukan kaum muslim di bawah panji Islam dengan menyerukan jihad fi sabilillah.

Membela Palestina seharusnya juga membela muslim Rohingya. Bukankah mereka sama-sama muslim yang wajib kita perhatikan? Pengusiran paksa warga Rohingya oleh ratusan mahasiswa di Aceh sungguh memilukan. Bagaimana mungkin kita berdiri tegak melawan penjajahan Y4hudi atas Palestina, tetapi juga turut menebarkan narasi dan ujaran kebencian atas muslim Rohingna dengan berbagai tuduhan yang belum diketahui pasti kebenarannya? Parahnya, banyak yang menyamakan pengungsi Rohingya dengan entitas Y4ahudi yang akan mencaplok tanah Indonesia. Sungguh miris!

Demikianlah, negara bangsa telah mengikis ikatan akidah Islam di antara kaum muslim. Nasionalisme menjadikan muslim tidak berhati-hati dalam mengambil pemikiran asing sebagai ideologi mereka. Nasionalisme membuat muslim tidak lagi memandang muslim Palestina dan Rohingya sebagai kaum terjajah dan terusir dari tanah kelahirannya.

Nasionalisme mendorong penguasa negeri-negeri muslim hanya berani mengecam tanpa bisa mengirimkan bantuan militer atau menekan entias Y4hudi dan sekutunya dengan kekuatan politik ekonomi yang mereka mampu, semisal menyetop pasokan minyak untuk Israel dan sekutunya. Nasionalisme adalah anak kandung ideologi sekuler kapitalisme. Ikatan ini terbukti rapuh dan gagal mempersatukan kaum muslim dalam satu kekuatan hakiki.

Khilafah Pemersatu Umat

“Umat butuh Khilafah”. Jargon ini bukanlah sekadar isapan jempol yang dianggap mimpi yang mustahil terwujud. Lihatlah keterpurukan umat tanpa satu naungan yang menyatukan pemikiran, perasaan, serta aturan Islam. Umat berpecah belah menjadi banyak negara. Ukhuah islamiah pupus karena ikatan nasionalisme tiap bangsa. Negeri-negeri muslim pun tidak berdaya akibat sekularisme telah menjadi akidah mereka dalam menjalani kehidupan.

Ideologi sekuler kapitalisme telah membuat 1,8 miliar jiwa terkoyak, generasinya rusak, dan negeri muslim pun porak-poranda. Kondisi ini sangat jauh dari gambaran Nabi saw. bahwa umat Islam adalah satu tubuh.

“Orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuhnya ikut merasakan tidak bisa tidur dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR Muslim No. 4685).

Khilafah adalah habitat sesungguhnya bagi kaum muslim, tempat mereka berlindung dan mendapatkan keamanan. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu (laksana) perisai, yang (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya. Jika seorang imam (khalifah) memerintahkan supaya takwa kepada Allah ’Azza wa Jalla dan berlaku adil, ia (khalifah) mendapatkan pahala karenanya. Dan jika ia memerintahkan selain itu, ia akan mendapatkan siksa.” (HR Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Abu Dawud, Ahmad).

Di bawah kepemimpinan seorang khalifah, umat akan terjaga dari kezaliman, penindasan, penjajahan, dan keterpurukan. Dengan Khilafah, syariat Islam dapat diterapkan secara sempurna. Dengan penerapan syariat Islam secara paripurna, kehidupan Islam akan terwujud. Generasi terselamatkan dari gempuran budaya dan pemikiran kufur, masyarakat hidup teratur sesuai Islam, dan pemimpinnya amanah karena melaksanakan aturan Islam dalam ketaatan, bukan berdasar kepentingan. Bukan hanya bagi muslim, warga nonmuslim pun pasti akan merasa aman hidup di bawah naungan Khilafah.

Fakta ini sudah teruji secara empiris maupun historis. Bahkan, Khilafah memperlakukan masyarakat nonmuslim dengan sebaik-baik perlakuan terhadap sesama manusia. Lebih dari 13 abad Khilafah memimpin dunia, tidak ada penjajahan, penindasan, pemaksaan, apalagi genosida.

Kini, saatnya umat bangkit dengan ikut memperjuangkan tegaknya Khilafah sebagai perisai hakiki. Mari menatap optimis bahwa sinar Khilafah akan menerangi dunia pada masa depan. Sudah saatnya Islam kembali memimpin peradaban. Dengan begitu, gelar sebagai umat terbaik di muka bumi akan mewujud. Insyaallah. [MNews/Gz]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *