Muslimah News, NASIONAL — Aktivis muslimah Iffah Ainur Rochmah menegaskan, pembangunan perkotaan yang menimbulkan ketidakadilan dan kezaliman harus dilihat sebagai problem sehingga harus dilakukan perubahan.
Hal ini disampaikannya dalam diskusi bertema “Gentrifikasi: Pembangunan Jakarta atau Malapetaka Kaum Urban?”, Rabu (13-12-2023).
Gentrifikasi
Ia memandang, dalam pembangunan perkotaan telah muncul fenomena gentrifikasi. “Ini merupakan fenomena yang banyak terjadi di kota-kota besar di berbagai belahan dunia, terutama di negara maju. Fenomena ini menunjukkan ada ketidakadilan yang dirasakan, ada kezaliman yang menimpa banyak orang. Bukan hanya satu dua orang, tapi lebih banyak orang yang mendapatkan kezaliman dan sedikit saja yang menikmati kenyamanan atau kemewahan,” jelasnya.
Pembangunan di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia, ungkapnya, bisa dikatakan sama seperti tipologi pembangunan-pembangunan kapitalistik yang bertumpu pada ukuran-ukuran materialistis.
“Seolah-olah yang namanya maju itu ukurannya adalah kemajuan fisik belaka. Seolah-olah untuk mendapatkan kemajuan fisik tersebut diniscayakan untuk menggusur, meminggirkan, bahkan membuang mayoritas masyarakat yang sebelumnya sudah ada di sana. Nah, sebagai seorang muslim, ini adalah pemicu untuk melihatnya sebagai sebuah problem dan kita punya tanggung jawab untuk melakukan perubahan,” ucapnya.
Perubahan ke Arah Islam
Namun, ia mengingatkan, perubahan itu mestinya ke arah Islam. “Tipologi pembangunan perkotaan menurut Islam itu memang berbeda, mulai dari paradigma pembangunan untuk melahirkan proses membangun sampai kemudian pilar-pilar yang akan dibangun di dalam sebuah masyarakat,” urainya.
Ia mengatakan, para ahli menyebut pembangunan perkotaan ini ruwet. “Dengan ukuran-ukuran kemajuannya yang makin modern atau makin tinggi, kok malah makin ruwet. Kalau dalam Islam berkebalikan dengan itu. Pembangunan tidak diserahkan semata-mata analisis aspek strategis dan keuntungan,” tukasnya.
Ketika ukuran-ukuran materialistis itu menjadi patokan, lanjutnya, maka di dalam Islam, tidak. “Ini karena pembangunan sebagai satu aktivitas materi atau aktivitas fisik di dalam pandangan Islam tidak boleh dilepaskan dari unsur ruhiah. Ruh itu adalah kesadaran akan hubungan manusia dengan Allah,” jelasnya.
Jadi, ia mempertanyakan, apa gunanya kemajuan-kemajuan fisik kalau ternyata justru menjauhkan manusia dari menghamba kepada Allah, membuat manusia sombong dan merasa bahwa dirinya sudah mampu melakukan apa saja tanpa peran Allah, tanpa tunduk kepada aturan Allah?
Kemudian, tambahnya, terkait aspek-aspek kezaliman atau aspek-aspek problem yang hari ini ingin kita lakukan perubahan, tentu saja [dalam sistem Islam] semua itu bisa diminimalisir.
“Bahkan tidak ada [seorang muslim pun] yang secara sengaja, apalagi secara sistemis menghasilkan keburukan-keburukan. Meskipun kita tidak bisa mungkiri selama pelaksananya manusia, pastilah ada peluang terjadinya kezaliman, tetapi tidak akan terjadi secara sistemis dan kemudian menimpa ratusan bahkan jutaan orang sebagaimana yang terjadi hari ini,” pungkasnya. [MNews/Ruh]
#KapitalismeSengsarakanUmat #KhilafahPerisaiHakiki #IslamSolusi #Khilafah
