Muslimah News, NASIONAL — Usai pelantikan pengurus Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Islam Swasta (BKSPTIS) se–Indonesia di Universitas Islam Riau (UIR) Jumat, 17 November lalu, dilaksanakan bedah buku “Peta Perjalanan Perguruan Tinggi Islam di Indonesia” karya Zaenal Muttaqin dari Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES).
Buku ini dibedah oleh Prof. Dr. H. Mudzakkir Ali, M.A. dan Prof. Dr. Ir. H. Musliar Kasim, M.S selaku peserta Rakernas BKSPTIS.
Buku ini diharapkan membangkitkan semangat pengembangan sains di dunia Islam yang saat ini sedang mandek. “Jebakan neoliberalisme birokrasi perguruan tinggi jangan sampai membatasi produktivitas ilmu sehingga PTI bertugas mengembangkan sains melalui posisi sains dalam konteks beragama, scientific culture, ketersediaan pendanaan, dan kerjasama global,” ujar Zaenal Muttaqin.
Mampukah?
Praktisi dan pengamat pendidikan Islam Afrahul Fadilah, M.Pd. justru mempertanyakan kemampuan perguruan tinggi Islam mewujudkan kemajuan saintek.
Ia beralasan, globalisasi dan revolusi industri 4.0 menuju 5.0 merupakan dua fenomena yang menjadi isu hari ini. Perguruan tinggi Islam, menurutnya, tidak luput dari setting-an arus global ini.
“Kebijakan pendidikan diarahkan Mendikbud Nadiem Anwar Makarim melalui MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka). Selain itu Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menyatakan bahwa draf peta jalan moderasi beragama sudah rampung, dan akan diusulkan kepada presiden untuk menjadi perpres moderasi agama. Menag optimis moderasi beragama dapat segera dijalankan di seluruh lini terutama di lembaga pendidikan dan rumah ibadah,” bebernya kepada MNews, Jumat (8-12-2023).
Dengan adanya MBKM dan moderasi di lingkungan pendidikan, sambungnya, pada faktanya makin menguatkan konsep KBE (Knowledge-based Economy).
“Artinya, karakter asli pendidikan sebagai wadah untuk mencerdaskan anak bangsa dan tempat menempa karakter dan pola pikir dan pola sikap generasi, justru berubah menjadi ladang materi,” kritiknya.
Kepentingan Industri
Ia menilai, program MBKM sarat dengan kepentingan industri dan moderasi beragama makin menjauhkan anak didik dari syariat Pencipta.
“Selayaknya keyakinan kuat untuk menjalankan agama bukan sesuatu yang menakutkan, melainkan wujud dari keimanan. Seorang muslim yang menjalankan aturan agama adalah indikasi muslim yang taat, bukan malah dituding sebagi anti terhadap agama lain dan tidak menjalankan konsep toleransi. Ini salah besar!” tegasnya.
Dalam analisisnya, dampak dari menguatnya dominasi dan arahan industri melalui MBKM menyebabkan kepentingan industri yang diutamakan, bukan kemajuan sains teknologi untuk kepentingan masyarakat.
“Kondisi ini memudahkan penjajahan melalui pendidikan, bukannya membentuk generasi yang bertakwa tapi sekedar membentuk pekerja industri demi kepentingan kapitalis di negeri-negeri muslim,” ulasnya.
Sedangkan moderasi agama, ia melanjutkan, intinya adalah memfilter syariat sesuai arahan asing, makin menjauhkan generasi muda dari pemahaman Islam.
“Padahal sejarah membuktikan bahwa keimanan dan penerapan syariat Islam pada masa Kekhalifahan Islam telah mewujudkan kemajuan saintek tertinggi dan menjadikan umat Islam sebagai mercusuar dunia,” tukasnya.
Ia mengatakan, kontras dengan saat ini ketika peta jalan perguruan tinggi, termasuk perguruan tinggi Islam diarahkan sesuai kepentingan asing, mulai dari pondasinya yaitu sekularisme hingga pendanaan yang menggantungkan kepada swasta dan asing.
“Walhasil kemajuan saintek umat Islam tidak akan pernah terwujud karena disetir oleh kepentingan industri. Seharusnya perguruan tinggi Islam memiliki visi mandiri berdasarkan akidah Islam, mengarahkan generasi muda untuk memperjuangkan penerapan syariat Islam secara kafah dan menjadi motor penggerak menuju kebangkitan peradaban Islam,” tutupnya. [MNews/IA]
