Penulis: Siti Nafidah Anshory M.Ag.
Muslimah News, TAPAK TILAS — Sulawesi Selatan (Sulsel) dikenal sebagai pintu gerbang kawasan Indonesia Timur karena posisinya ada di tengah-tengah kepulauan Nusantara. Posisi strategis inilah yang membuat wilayah Sulsel menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi dari masa ke masa. Bahkan, Selat Makassar menjadi salah satu jalur pelayaran internasional.
Wilayah ini sempat dikenal sebagai salah satu basis Islam yang cukup kuat, terutama pada era 50-an ketika wilayah Sulsel menjadi salah satu pusat pergerakan DI/TII di bawah kepemimpinan Abdul Qahhar Muzakkar. Lalu pasca-Reformasi 1998, spirit penegakan Islam ini berlanjut dengan mencuatnya upaya penerapan berbagai perda syariah, khususnya di Bulukumba, meski kemudian spiritnya meredup hingga sekarang.
Menggali Akar Islam
Penyebaran agama Islam di wilayah ini sejatinya tidak bisa dilepaskan dari peran tiga orang dai yang secara khusus dikirim oleh Kesultanan Aceh Darussalam melalui Johor. Mereka adalah Datuk Ri Bandang yang memiliki nama asli Muhammad Arsyad al-Banjari dan bergelar Khatib Dayan atau Khatib Tunggal.
Lalu ada Datuk Di Tiro yang memiliki nama asli Nurdin Ariyani atau Abdul Jawad dan bergelar Khatib Bungsu. Ketiga adalah Datuk Pattimang yang memiliki nama asli Muhammad Zainuddin atau Abdul Qadir dan bergelar Khatib Sambas atau Dato Sulaeman atau Khatib Sulung.
Banyak catatan menyebut, mereka bertiga adalah para pemuda yang berasal dari Koto Tengah, Minangkabau. Mereka sempat belajar mendalami ilmu-ilmu Islam di pusat Kesultanan Aceh. Lalu setelah lulus, mereka mendapat tugas untuk menyebarluaskan Islam ke wilayah Sulsel dan tiba di sana sekira 1605.
Namun, ada pula beberapa tulisan yang menyebut bahwa mereka adalah murid Sunan Giri. Mereka diutus oleh gurunya untuk mengembangkan dakwah ke wilayah Sulawesi. Hanya saja, jika membandingkan masa hidup Sunan Giri dengan catatan tentang aktivitas ketiga dai tersebut, akan tampak ketidaksesuaian catatan sejarah di antara keduanya. Misalnya, Sunan Giri disebut-sebut lahir pada 1442 dan wafat pada 1506 atau 1507. Sementara itu, ada catatan yang menyebut bahwa ketiga dai itu tiba di Sulsel pada 1605.
Oleh karenanya, catatan yang paling masuk akal adalah catatan pertama. Hanya saja, peran dakwah dari daerah Giri Gresik bisa tersambung dengan catatan lain yang menyebutkan tentang keislaman Raja Tidore yang sudah berlangsung jauh sebelum salah satu Raja Gowa-Tallo ada yang memeluk Islam.
Raja Tidore bernama Babullah (berkuasa 1570–1583) ini konon diislamkan berkat dakwah para dai yang diutus dari daerah Jawa khususnya Giri/Gresik (bukan Sunan Giri). Lalu setelah berislam, sang Raja berusaha mengajak Raja Gowa dan Tallo kala itu untuk memeluk Islam hanya saja terus mendapat penolakan. Baru setelah kedatangan ketiga dai utusan Aceh itulah, Raja Gowa dan Tallo kala itu mau memeluk Islam. Mana yang benar, wallahualam.
Dakwah, Kerja Politik Kekuasaan Islam
Jika menilik ke masa tahun-tahun itu, Kesultanan Aceh memang sedang berada pada puncak kejayaannya. Selain bidang politik, ekonomi dan sosial, pendidikan dan pengajaran pun berkembang dengan pesat. Itulah kenapa Ibu Kota Kesultanan Aceh banyak didatangi oleh para pemuda muslim dari berbagai wilayah sekitar yang ingin mencerap ilmu dari para ulama besar yang ada di ibu kota kesultanan.
Kekuasaan politik dan militernya pun dikenal sangat kuat, hingga Kesultanan Aceh, terutama era Sultan Alauddin Riayat Syah al-Mukammil (1589—1604), Sultan Ali Riayat Syah (1604—1607) dan berlanjut pada era Sultan Iskandar Muda Meukuta Perkasa Alam (berkuasa pada 1607—1636) bisa melakukan penyebaran Islam secara masif dan mampu menyatukan berbagai wilayah sekitar di bawah kepemimpinannya. Bahkan, Kesultanan Aceh bisa mengimbangi kekuatan Portugis yang terus berusaha meluaskan jalan penjajahan setelah penaklukan Malaka pada era sebelumnya.
Salah satu wilayah sasaran dakwah Kesultanan Aceh adalah Sulawesi Selatan. Di sinilah para dai utusan Aceh itu mulai melakukan pendekatan kepada para petinggi yang ada di sana. Hingga satu per satu para penguasa itu pun masuk ke dalam pangkuan Islam.
Yang berhasil diislamkan pertama kali adalah Raja Luwu, Andi Pattiware’ Daeng Parabung yang kemudian bergelar Sultan Muhammad Wali Mu’zhir (atau Muzahir) ad-din (berkuasa 1587—1615). Diikuti oleh Raja Tallo ke-8 yang sekaligus merupakan mangkubumi (vasal) dari Kerajaan Gowa bernama I Malingkaan Daeng Mannyonri Karaeng Matoayya atau Karaeng Katangka pada 1607. Setelah memeluk Islam raja pun berganti nama menjadi Sultan Abdullah Awwalul Islam, bergelar anumerta Tumenanga ri Agama (berkuasa pada 1593—1623).
Untuk selanjutnya pada 1605 mereka berhasil mengislamkan raja Gowa ke-14 bernama I Manga’rangi Daeng Manrabbia (berkuasa mulai 1593—1639) yang merupakan keponakan Karaeng Matoayya. Setelah Islam, raja pun berganti nama menjadi Sultan Alauddin I.
Proses keislaman para petinggi ini membuat dakwah Islam di kalangan masyarakat Sulsel yang dahulu wilayahnya meliputi Sulawesi Tenggara dan Tengah (Poso) berjalan dengan cepat. Lalu pada 9 November 1607 atau 19 Rajab 1016, Sultan Alauddin I mengeluarkan dekret di hadapan jemaah salat Jumat yang isinya menetapkan bahwa Islam menjadi agama resmi negara dan anutan masyarakat, juga bahwa wilayah kekuasaannya menjadi pusat Islamisasi di Sulsel. Sejak saat itulah kerajaan Gowa-Tallo ini dikenal sebagai Kesultanan Makassar.
Hanya saja, perubahan politik ini sempat memantik polemik di kalangan etnis Makassar dan Bugis. Terlebih ketika kesultanan mengajak kerajaan-kerajaan tetangganya, seperti Bone, Sopeng, dan Wajo untuk menerima Islam. Semua petinggi di wilayah-wilayah tersebut pun menolak ajakan dakwah tersebut sehingga terjadilah perang-perang penaklukan.
Satu demi satu kerajaan-kerajaan itu masuk ke pangkuan kekuasaan Islam. Kerajaan Soppeng pada 1607, Wajo (1610), dan Bone (1611). Sultan Alauddin bahkan berhasil menyebarkan Islam ke Buton, Dompu (Sumbawa), dan Kengkelu (Tambora, Sumbawa).
Meski sebagian wilayah-wilayah tersebut bergabung dalam kepemimpinan Islam melalui penaklukkan, tetapi keadilan hukum-hukum Islam membuat wilayah-wilayah tersebut hidup dengan tenteram dan damai. Bahkan, pada masa kepemimpinan Sultan ke-16, Sultan Hasanuddin, kesultanan ini mencapai kejayaan.
Benteng Penjajahan
Sultan Hasanuddin (berkuasa 1653—1669) atau I Mallombasi Daeng Mattawang Muhammad Baqir Karaeng Bonto Mangngape Sultan Hasanuddin Tuminanga ri Balla Pangkana, sempat digelari Ayam Jantan dari Timur oleh penjajah Belanda. Pada usia 21 tahun, sebelum menjadi Sultan, ia menjabat sebagai pemegang urusan pertahanan Gowa. Ia juga merupakan guru dari Arung Palakka, yang kelak berkhianat dan berkongsi dengan Belanda untuk melawan kekuasaannya, lalu setelah berhasil memukul Gowa, ia diangkat sebagai Raja Bone oleh Belanda.
Sultan Hasanuddin memang dikenal sangat keras dalam menghadapi upaya penjajahan Belanda setelah berhasil menghapus pengaruh Spanyol dan Portugis di kepulauan Maluku yang kaya dengan rempah-rempah. Kompeni Belanda (VOC) menginginkan hak monopoli perdagangan di sana, dengan cara mematok harga dan meminta para petani menebang pohon cengkeh dan pala untuk menjaga harga pasar agar sesuai keinginan mereka.
Tentu saja aturan ini mendapat penolakan keras dari Sultan Hasanuddin karena ia memandang apa yang dilakukan oleh kompeni adalah sebuah kezaliman dan penghinaan. Beberapa kali terjadi perang antara Kompeni dan Kesultanan Gowa atau Makassar. Konflik politik ini diwarnai siasat licik kompeni untuk memicu perpecahan dari dalam, baik di dalam Kesultanan Gowa sendiri, seperti persekutuan dengan Desersi Arung Palakka, maupun persekutuan dengan wilayah yang pernah ditaklukkan, khususnya Kesultanan Buton.
Dengan persekutuan inilah pada 1655 dan 1660 Kompeni mencoba melakukan penyerangan kepada Gowa, tetapi Gowa tidak bisa ditaklukkan. Lalu pada 1667 kembali melakukan penyerangan yang lebih besar, hingga Sultan terpaksa menandatangani Perjanjian Bongaya pada 18 November 1667.
Perjanjian inilah yang akhirnya melemahkan Kesultanan Gowa. Wilayahnya dipersempit hanya Gowa saja, dan Sultan Hasanuddin dipaksa menyerahkan semua haknya atas Kesultanan Buton kepada VOC dan mengakui Arung Palakka sebagai Rajanya.
Perlawanan memang terus dilanjutkan, tetapi kekuatan Belanda jauh lebih besar, hingga benteng pertahanan Gowa berhasil dilumpuhkan, dan beberapa tahun setelahnya Sultan Hassanuddin wafat. Namun, spirit perjuangan Sultan Hasanuddin berhasil diwariskan kepada Kesultanan Bone yang sebelumnya merupakan bagian dari Kesultanan Gowa.
Kesultanan Bone inilah yang terus secara gigih melakukan perlawanan. Perang demi perang pun terjadi pada masa yang sangat panjang. Hingga pada 1905 perlawanan rakyat Sulsel yang direpresentasi Kesultanan Bone benar-benar bisa dilumpuhkan.
Khatimah
Sejarah berikutnya menunjukkan bahwa spirit Islam itu tidak pernah hilang dalam jiwa penduduk Sulsel. Namun, penerapan sistem sekuler kapitalisme membuat spirit itu lambat laun makin pudar dan melemah. Terlebih saat ini kawasan Sulsel sudah menjadi kawasan yang terbuka bagi proyek-proyek liberalisasi ekonomi yang ditopang dengan proyek-proyek moderasi Islam, padahal proyek-proyek ini membuka jalan bagi berkembangnya nilai-nilai dan budaya rusak yang menggerus spirit Islam.
Tidak heran jika di tengah ingar bingar proyek pembangunan fisik yang jorjoran, hari-hari ini warta soal Sulsel atau Makassar sarat dengan warta keburukan, terutama soal kerusakan moral yang kian mewarnai kehidupan generasi muda Islam. Akankah kita biarkan generasi aset peradaban Islam di Sulawesi Selatan dirusak oleh penerapan sistem pelanjut penjajahan? [MNews/Gz]
*Dinarasi ulang dari berbagai sumber bacaan.
