[Tarikh Khulafa] Sultan Orhan bin Utsman Membangun Angkatan Bersenjata Resmi

[Tarikh Khulafa] Sultan Orhan bin Utsman Membangun Angkatan Bersenjata Resmi

Penulis: Nabila Ummu Anas

Muslimah News, TARIKH KHULAFA — Di antara proyek terpenting yang berkaitan erat dengan kehidupan Sultan Orhan bin Utsman adalah pembangunan angkatan bersenjata Islam serta usaha kerasnya dalam membentuk satu model khusus dalam kemiliteran.

Sultan Orhan bin Utsman membagi tentara menjadi satuan-satuan yang masing-masing terdiri dari sepuluh orang, seratus orang, atau seribu orang. Dia mengkhususkan seperlima dari harta rampasan perang untuk membiayai tentara dan kemiliteran. Ia menjadikan tentara sebagai pasukan resmi yang memiliki tugas berkesinambungan setelah sebelumnya tentara hanya berkumpul pada waktu perang saja. Ia juga mendirikan markas-markas khusus yang digunakan sebagai tempat latihan para tentara tersebut.

Angkatan Bersenjata Resmi Daulah

Daulah Utsmaniyah di bawah kepemimpinan Sultan Orhan bin Utsman juga membentuk unit infanteri elite yang dikenal dengan istilah Al-Inkisyariyah. Pasukan ini terdiri dari kalangan yang baru masuk Islam, jumlah mereka makin banyak setelah wilayah kekuasaan Daulah Utsmaniyah bertambah luas dan mereka menang di banyak peperangan melawan negara kafir.

Ditambah juga, banyak di antara penduduk negeri-negeri yang ditaklukkan masuk ke dalam agama Islam, lalu mereka bergabung ke dalam barisan mujahid dalam menyebarkan Islam. Setelah mereka masuk Islam dan dididik dengan pendidikan Islam, baik dari sisi pemikiran maupun peperangan, mereka ditugaskan di markas-markas militer yang berbeda-beda.

Para ulama dan ahli fikih bersama Sultan Orhan menanamkan kecintaan kepada jihad dan membela Islam serta semangat untuk mengejar mati syahid di jalan Allah. Oleh karenanya, tatkala tentara Utsmani berangkat ke medan perang, semboyan mereka adalah “Berperang atau syahid”.

Sesungguhnya, hakikat pasukan baru yang dibentuk Sultan Orhan bin Utsman adalah sebuah pasukan resmi yang senantiasa siap dan selalu ada baik dalam kondisi perang ataupun saat damai. Pasukan Al-Inkisyariyah ini terdiri dari para penunggang kuda di antara anggota keluarga sultan, para mujahid yang siap bersegera memenuhi panggilan jihad, serta mantan pemimpin Romawi beserta pasukannya yang telah masuk Islam.

Meminta Doa Ulama

Sebelum pembentukan kesatuan militer ini rampung, Sultan Orhan bin Utsman pergi menemui seorang ulama bernama Haji Baktasy. Sultan Orhan meminta kepadanya agar mendoakan kebaikan untuk bala tentara yang baru dibentuk itu. Haji Baktasy menemui para tentara dengan sangat antusias. Ia meletakkan tangannya di atas kepala salah seorang tentara, lalu ia berdoa kepada Allah agar membuat putih wajah-wajah mereka, menjadikan pedang-pedang mereka tajam saat berhadapan dengan musuh, dan menolong mereka dalam setiap peperangan yang mereka lakukan.

Kemudian Haji Baktasy menghampiri Sultan Orhan dan bertanya kepadanya, “Apakah kamu sudah menamai pasukan ini?” Sultan Orhan menjawab, “Belum.” Ia berkata, “Kalau belum, maka namailah pasukan ini Yani Jari (Yani Tasyri) artinya pasukan baru.”

Bendera pasukan baru ini terbuat dari kain berwarna merah dengan gambar bulan sabit di tengahnya. Di bawah gambar bulan sabit terdapat gambar pedang yang mereka sebut dengan Dzul Fiqar, yang tak lain adalah nama pedang Ali bin Abi Thalib ra..

Jumlah Mujahid Terus Bertambah

Sultan Orhan terus berupaya menambah jumlah pasukan setelah beban untuk melawan Byzantium makin bertambah. Dia memilih para pemuda Turki dan beberapa pemuda Byzantium yang telah masuk Islam untuk bergabung ke dalam barisan pasukan resmi ini. Dia menyatukan mereka dalam pasukan ini dan memberikan perhatian yang besar kepada mereka dalam pendidikan keislaman yang berhubungan dengan jihad fisabilillah. Jumlahnya terus bertambah hingga mencapai ribuan mujahid.

Sultan Orhan bin Utsman dan saudaranya, Alauddin bin Utsman sepakat, tujuan utama pembentukan pasukan Al-Inkisyariyah adalah untuk melanjutkan jihad melawan Byzantium, menaklukkan wilayah-wilayah kekuasaan Romawi Timur dan menyebarkan Islam di wilayah-wilayah yang ditaklukkan tersebut.

Tujuan lainnya adalah memberdayakan orang-orang Byzantium yang telah masuk Islam untuk menyebarkan agama Islam. Hal itu dilakukan setelah mereka mendapatkan pendidikan Islam dan tertancap kuat pada diri mereka akidah Islam, juga keterikatan mereka terhadap syariat Islam termasuk kecintaan kepada jihad di jalan Allah. [MNews/Rgl]

Sumber:

Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi, Sejarah Daulah Utsmaniyah, Faktor-Faktor Kebangkitan dan Sebab-Sebab Keruntuhannya, Ummul Qura

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *