[Ath-Thariq] Islam dan Al-Qur’an (Bagian 3/4)

[Ath-Thariq] Islam dan Al-Qur’an (Bagian 3/4)

Penulis: Syekh Ahmad Athiyat

Sambungan dari Bagian 2/4

Muslimah News, FIKRUL ISLAM — Bangsa Arab

Adapun keberadaan Al-Qur’an sebagai sesuatu yang berasal dari orang Arab, maka ini batil dan tidak dapat diterima oleh akal. Tiada lain karena Al-Qur’an telah menantang bangsa Arab dengan kalimat yang begitu memukul dan menyesakkan serta provokatif, untuk mendatangkan atau membuat sesuatu yang menyamai Al-Qur’an. Allah Swt. berfirman,

قُلْ لَّىِٕنِ اجْتَمَعَتِ الْاِنْسُ وَالْجِنُّ عَلٰٓى اَنْ يَّأْتُوْا بِمِثْلِ هٰذَا الْقُرْاٰنِ لَا يَأْتُوْنَ بِمِثْلِهٖ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيْرًا

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.’” (QS Al-Isra’: 88).

Ketika mereka tidak mampu melakukan hal itu, mereka berlindung di balik kata- kata yang menggambarkan ketidakberdayaan mereka, mereka menuduh Rasulullah saw. telah membuat Al-Qur’an. Allah Swt. mencemooh mereka dan menantang mereka untuk mendatangkan semisal Al-Qur’an tidak sampai secara keseluruhan, tetapi agar mereka membuat sepuluh surah saja sebagaimana yang dilakukan Muhammad—kalau memang demikian—sebagaimana yang mereka prasangkakan. Allah Swt. berfirman,

اَمْ يَقُوْلُوْنَ افْتَرٰىهُ ۗقُلْ فَأْتُوْا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِّثْلِهٖ مُفْتَرَيٰتٍ وَّادْعُوْا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ

“Bahkan mereka mengatakan, ‘Muhamad telah membuat-buat Al-Qur’an itu.’ Katakanlah (kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surah yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang  benar.” (QS Hud: 13).

Ketika mereka kembali tidak mampu—padahal mereka pakar bahasa dan ahli dalam bayan (kata-kata yang fasih) dan orang-orang yang senantiasa bergelut dengan syair, natsar, dan sastra—Al-Qur’an kembali menantang mereka untuk mendatangkan satu surah saja yang serupa dengan Al-Qur’an.

Allah Swt. berfirman,

وَاِنْ كُنْتُمْ فِيْ رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلٰى عَبْدِنَا فَأْتُوْا بِسُوْرَةٍ مِّنْ مِّثْلِهٖ ۖ وَادْعُوْا شُهَدَاۤءَكُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ

“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surah (saja) yang semisal Al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu itu selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar.” (QS Al-Baqarah: 23).

Allah Swt. berfirman,

اَمْ يَقُوْلُوْنَ افْتَرٰىهُ ۗ قُلْ فَأْتُوْا بِسُوْرَةٍ مِّثْلِهٖ وَادْعُوْا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ

“Bahkan mereka mengatakan, ‘Muhammad telah membuat-buat Al-Qur’an itu.’ Katakanlah (kalau benar apa yang kamu katakan), maka datangkanlah satu surah yang bisa menyamainya, dan ajaklah penolong-penolong kamu selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar.”(QS Yunus: 38).

Berdasarkan hal ini, maka jelaslah ketidakmungkinan bangsa Arab yang membuat Al-Qur’an, seandainya memang mereka bisa dengan segala kemungkinan mereka—dengan terpenuhinya berbagai hal yang mendorong mereka untuk bisa menjawab tantangan, sedangkan mereka ahli bayan dan fashahah, dan tantangan yang datang pada mereka adalah sesuatu yang mereka paling unggul dan paling mampu untuk membuatnya—niscaya mereka tidak ragu membuatnya. Dan seandainya Al-Qur’an itu datang dari sebagian mereka, niscaya sebagian yang lain akan mampu pula untuk  membuatnya karena mereka semua adalah bangsa Arab. Meskipun demikian, bukti yang pasti menunjukkan secara mutlak atas ketidakmampuan mereka untuk membuat sesuatu yang menyerupai Al-Qur’an.

Tidak bisa dikatakan, mungkin saja orang Arab sebenarnya telah membuat sesuatu yang menyerupai Al-Qur’an, tetapi kaum muslim karena fanatisme agamanya dan juga karena mereka memiliki kekuatan dan kekuasaan setelah Islam memuliakan mereka dengan tegaknya Negara Islam, mereka telah merobek-robek atau merusak buatan bangsa Arab yang serupa dengan Al-Qur’an tersebut. Pernyataan seperti itu tidak bisa dibenarkan karena beberapa hal berikut:

a. Ini merupakan sebuah kemungkinan, sedangkan bahasan pemikiran yang benar tidak bisa ditegakkan pada kemungkinan dan berbagai hipotesis, tetapi ditegakkan pada berbagai realitas yang terindra.

b. Beberapa upaya untuk membuat Al-Qur’an secara nyata pernah dilakukan, dan pernah kita bahas sebagian upaya tersebut, seperti usaha Musailamah al-Kadzab, ketika dia mengatakan sesuatu yang katanya menandingi surah Al- Adiyat, “Demi perempuan penumbuk bahan roti dengan tumbukan yang keras, demi pengadon roti dengan adonan yang lembut, demi tukang roti dengan rotinya, demi tukang bubur dengan buburnya dan demi pemakan-pemakannya dengan mengagetkan dan menggemukkan…     ”

Seterusnya ia berkata sebagai sesuatu yang menandingi surah al-Fiil,

“Gajah, tahukah kamu apakah gajah itu, gajah itu memiliiki ekor yang mengagetkan, dan belalai yang panjang.”

Ia pun menyampaikan sesuatu yang katanya menandingi surah Al-Kautsar, “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu pasir yang bertimbun (jamahir), maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan jelaskanlah (jahir). Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang kafir.”

Jika berbagai upaya ini dengan ketololan dan kehambarannya telah sampai pada kita, maka upaya lain—seandainya ada—lebih pasti lagi untuk sampai pada kita. Ini bukanlah satu-satunya upaya yang pernah kita dengar, bahkan telah dinukil pada kita beberapa riwayat yang menceritakan upaya lainnya, tetapi dicegah (dibatalkan) oleh si pelakunya sehingga belum sempat dipublikasikan, tiada lain karena mereka merasa malu untuk memublikasikannya, di antara mereka adalah Ibnu Muqaffa, Abul A’la al-Ma’ari, dan Mutanabbi.  Ini  menjadi  bukti yang jelas bahwasanya sesuatu yang layak diingat belum pernah ditulis, seandainya terjadi, niscaya akan sampai pada kita. Oleh karena itu, jelaslah bahwa bangsa Arab tidak berhasil membuat sesuatu yang menyerupai Al-Qur’an sehingga Al-Al-Qur’an bukanlah buatan bangsa Arab. [MNews/Rgl]

Sumber artikel: Syekh Ahmad Athiyat, Ath-Thariq (Jalan Baru Islam)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *