Sekularisme, Nyata Mengancam Bangsa

Sekularisme, Nyata Mengancam Bangsa

Penulis: Luluk Farida

Muslimah News, FOKUS — Narasi radikalisme-terorisme sebagai ancaman bangsa ini, kembali digulirkan. Awal November 2023, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengeklaim bahwa perang antara Palestina dan entitas Yahudi (akan) membangkitkan sel tidur terorisme. Pernyataan ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, misalnya Forum Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Cianjur, Jawa Barat; serta Pimpinan Ponpes Candang pinggan Indramayu, Buya Syakur Yasin.

Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI Komjen Pol. Rycko Amelza Dahniel, ketika mengisi agenda di Universitas Negeri Semarang (Unnes), mengajak kaum muda—khususnya mahasiswa—untuk memperkuat rasa kebangsaan dengan pengetahuan seputar sejarah NKRI. Ia mengatakan bahwa mahasiswa yang masuk kategori usia remaja merupakan salah satu dari tiga kelompok paling rentan terpapar radikalisme-terorisme. “Penelitian I-KHub Outlook BNPT 2023 menunjukkan kelompok rentan, yaitu remaja, perempuan, dan anak,” ujarnya.

Berbagai program dan strategi kontraradikalisme atau deradikalisasi ini kemudian dimasifkan melalui penguatan moderasi beragama. Kemenag sendiri akan mencetak ulang edisi kedua komik moderasi beragama ‘ModerArt’. Menurut Kemenag, komik yang akan dibagikan secara gratis ini ditujukan agar pesan moderasi beragama lebih mudah dipahami, khususnya oleh Gen-Z.

Sekularisme, Ancaman Nyata Negara dan Generasi Bangsa

Meski disampaikan bahwa radikalisme-terorisme bukan sentimen agama, nyatanya program penguatan moderasi beragama menyasar ajaran Islam kafah. Narasi yang terus diaruskan adalah bahwa penerapan ideologi Islam sejatinya merupakan ancaman bangsa karena tidak sesuai dengan karakter keberagaman bangsa dan berpotensi menimbulkan konflik dan perpecahan.

Sungguh, narasi tersebut salah dan berbahaya karena telah menyerang ajaran Islam yang mulia. Islam adalah din yang mengajarkan seluruh umat manusia untuk berbuat baik dan penerapannya secara kafah adalah rahmat bagi seluruh alam. Sangat tidak layak jika Islam dianggap sebagai ancaman. Terbukti pula, para ulama dengan spirit ajaran Islam ‘jihad’ berperan penting dalam memerdekakan negeri ini dan mengusir para penjajah kolonialisme Barat.

Ironisnya, tatkala merdeka, negara ini justru mengadopsi sekularisme dalam pengaturan kehidupan berbangsa dan bernegara. Sekularisme di bidang ekonomi melahirkan sistem ekonomi kapitalisme. Di bidang politik, lahir sistem demokrasi. Di bidang sosial-budaya, lahir sistem liberal. Lalu di bidang pendidikan, lahir sistem pendidikan sekuler kapitalistik.

Sistem ekonomi kapitalisme, misalnya, memberi kebebasan kepemilikan bagi individu sehingga kaum kapitalis bebas mencengkeram Indonesia, menyengsarakan rakyat, dan mengancam keutuhan negara karena ketidakadilan ekonomi.

Peneliti senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Faisal Basri menilai kondisi Indonesia tidak banyak berubah setelah 25 tahun reformasi. Jika dahulu negara dikuasai konglomerasi, kini Indonesia berada dalam pusaran oligarki. Beliau menyampaikan bahwa 1% orang kaya menguasai kira-kira 45% kekayaan nasional, dan 10% orang kaya menguasai kira-kira 75% ekonomi nasional. Kedaulatan negara pun secara de facto terancam oleh keberadaan oligarki, baik asing maupun aseng.

Dengan begitu, ancaman nyata yang sebenarnya ialah sekularisme. Paham ini menegaskan bahwa manusia mampu mengatur dunia ini tanpa campur tangan Sang Pencipta. Bahkan, Tuhan (baca: agama) dilarang mengatur kehidupan berbangsa dan negara, kecuali urusan ritual/ibadah semata. Sedangkan radikalisme-terorisme, hanya “kedok” yang diciptakan untuk mengalihkan ancaman hakiki negara dan generasi bangsa, sekaligus menjauhkan kaum muslim terutama generasi muda dari Islam kafah. Wallahualam. [MNews/WAG-Gz]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *