Penulis: Nabila Ummu Anas
Muslimah News, TARIKH KHULAFA — Daulah Utsmaniyyah dinisbahkan kepada Utsman bin Ertugrul, berawal dari kiprahnya sebagai panglima pasukan yang kemudian mendirikan sebuah Negara Islam yang bertahan hingga berabad-abad lamanya. Dalam membangun Daulah Utsmaniyyah, Utsman bin Ertugrul meletakkan fondasi terbaik dan kukuh yang kemudian diwarisi dan dilanjutkan oleh khalifah setelahnya.
Hukum Allah Menjadi Acuan Membangun Negara
Sebagai khalifah, Utsman bin Ertugrul konsisten kepada syariat Allah dalam segala urusan dan setiap bidang kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Hal ini terlihat dari percakapan nasihat Utsman kepada anaknya, “Wahai anakku, janganlah kamu sibuk melakukan sesuatu yang tidak diperintahkan Allah, Rabb semesta alam. Jika kamu menghadapi kesulitan dalam urusan pemerintahan, bermusyawarahlah dengan para ulama agama ini.”
Untuk perkara besar dan kecil, Utsman konsisten menjadikan hukum Allah dan perintah-Nya sebagai solusi yang mendominasi perkara tersebut.
“Hukum (keputusan) itu hanyalah milik Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.“ (QS Yusuf: 40)
Sebagai khalifah, Utsman menyadari bahwa ia tidak mampu membuat hukum (undang-undang) berdasarkan akal dan hawa nafsunya. Seluruh aturan kehidupan, termasuk bagaimana pemimpin mengelola negaranya, bersumber kepada hukum Allah saja.
“Sesungguhnya kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili sesama manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu.” (QS An-Nisa: 105).
Utsman bin Ertugrul memberikan nasihat kepada anaknya dalam kapasitasnya sebagai kepala pemerintahan dan dalam rangka menyiapkan anaknya agar memiliki sifat kepemimpinan sehingga juga mampu dan layak menjadi khalifah setelahnya. Utsman mengetahui bahwa menegakkan hukum Allah melalui penguasa yang beriman adalah perjanjian yang telah disebutkan oleh Allah Taala.
“Dan ingatlah karunia Allah kepadamu dan perjanjian-Nya yang telah diikat-Nya dengan kamu, ketika kamu mengatakan, ‘Kami dengar dan kami taat.’ Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah mengetahui isi hati(mu).” (QS Al-Maidah: 7).
Pemahaman ibadah yang melekat pada diri Utsman bin Ertugrul ini menjadikannya layak sebagai peletak dasar tegaknya Daulah Utsmaniyyah. Sebagai kepala negara, ia memastikan agar ibadah hanya kepada Allah dengan beramal sesuai dengan yang Allah syariatkan.
Tidak diragukan bahwa Daulah Utsmaniyyah dengan dua prinsip ini memiliki semangat yang kuat untuk memerangi kemusyrikan di dalam negeri dan bekerja untuk memperkuat kekuasaan Daulah Islam di luar negeri. Semua ini bermula dari kesadaran pemimpinnya dan para ulama untuk mewujudkan peribadatan yang hakiki hanya kepada Allah di seluruh lini kehidupan dengan cara yang Dia ridai.
Senantiasa Bermusyawarah dengan Ulama
Dalam memimpin kekhalifahan, Utsman bin Ertugrul senantiasa memberi tempat kepada ulama dalam majelis permusyawarahan untuk memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi dalam mengelola negara dan me-riayah rakyat.
Utsman bin Ertugrul pernah berkata kepada anaknya, “Ikutilah petunjuk para ulama, karena mereka tidak memerintahkan, kecuali kepada kebaikan. ….” Dalam memimpin negara, Utsman bin Ertugrul selalu bermusyawarah dengan para ulama, baik terkait masalah pemerintahan, administrasi, pengambilan kebijakan, pengadopsian undang-undang, serta segala sesuatu yang berhubungan dengan kepentingan orang banyak dan kemaslahatan umum. Para ulama pun memberikan pandangannya dan ilmunya kepada khalifah terkait berbagai permasalahan ini.
“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Rabb-nya dan mendirikan salat, sedangkan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang kami berikan kepada mereka.” (QS Asy-Syura: 38).
Musyawarah dengan para ulama telah memberikan andil dalam pembangunan Daulah Utsmaniyah dan menyatukan rakyat serta memperkukuh kekuatan politik, jihad, dan dakwah negara. Pendapat-pendapat itu berubah-ubah sesuai dengan situasi dan kondisinya, tetapi tidak keluar dari akidah Islam dan sumber hukum Islam.
Para penguasa. Daulah Utsmaniyah ingin agar pemerintahannya berkelanjutan dan semakin kukuh. Oleh karena itu, mereka bersemangat besar untuk membaca dan menguasai seluruh keadaan di dalam dan luar negeri dan mereka menjadikan musyawarah sebagai jalan terbaik untuk mewujudkan hal tersebut.
Musyawarah berkembang pesat di dalam pemerintahan Turki Utsmani. Di masing-masing daerah memiliki majelis dewan untuk bermusyawarah dalam berbagai urusan pemerintahan dan rakyat. [MNews/Rgl]
Sumber: Sejarah Daulah Utsmaniyyah, Faktor-Faktor Kebangkitan dan Sebab-Sebab Keruntuhannya, Dr. Ali Muhammad ash-Shallabi, Ummul Qura.
