Penulis: Syekh Ahmad Athiyat
Muslimah News, FIKRUL ISLAM — Manusia (al-insan) itu terbatas, karena ia dengan segala sesuatu dalam dirinya tumbuh hingga tingkat tertentu yang sama sekali tidak bisa dilampauinya. Ketika setiap individu manusia menggambarkan spesies manusia melalui sifat asasinya, sebagaimana sekeping emas merupakan spesies emas dan setetes minyak merupakan spesies minyak, dan bahwasanya individu manusia terbatas, maka jenis atau spesies manusia pun terbatas, yakni memiliki sifat kebermulaan dan keberakhiran. Karena ia memiliki sifat ini, maka ia bersifat lemah, karena ia tidak mampu menambah tingginya, umurnya atau apa pun yang lain dalam dirinya.
Ia pun memiliki sifat kurang, karena disebabkan berbagai hal atau sesuatu yang tidak bisa diperolehnya sendiri. Dia membutuhkan sebagaimana kebutuhannya akan air, udara, dan makanan dan ia pun terbatas karena ia memiliki sifat kebermulaan (tanggal kelahirannya) dan keberakhiran (tanggal kematiannya). Karena seorang individu menggambarkan spesies manusia, sedangkan spesies manusia akan mati dan terbatas. Dengan kata lain, manusia merupakan makhluk karena ia lemah, kurang, dan membutuhkan sehingga ia bukanlah khalik, karena khalik tidak terbatas.
Begitu pula alam semesta (al-kaun) bersifat terbatas karena ia terbentuk dari kumpulan benda-benda angkasa yang setiap benda angkasa tersebut memiliki awal dan akhir, kumpulan benda-benda yang terbatas pasti memiliki sifat terbatas. Oleh karena itu, alam semesta ini terbatas sehingga ia merupakan makhluk.
Dalam hal ini, kita harus bisa membedakan antara mahdud (terbatas) dengan ma’dud (terhitung). Mahdud merupakan sesuatu yang memiliki awal dan akhir, baik dari segi masa ataupun tempat, sedangkan ma’dud merupakan sesuatu yang bisa dihitung. Timbunan pasir yang besar, misalnya, sulit untuk dihitung, tetapi ia terbatas karena memilki awal dan akhir sehingga menjadi makhluk. Begitu pula alam semesta yang menghampar luas hingga mencapai tingkat yang sulit untuk dicapai oleh indra, tidaklah berarti tidak terbatas, tetapi sifat terbatasnya alam semesta tampak dari keterbatasan bagian-bagian atau individu-individu pembentuknya sehingga menjadikan alam semesta ini terbatas pula.
Adapun kehidupan (al-hayat), bukti yang terindra menunjukkan bahwa kehidupan itu dimulai dan berakhir pada sebuah atau seorang individu sehingga kehidupan itu terbatas. Ini karena kehidupan individu menggambarkan al-jinsu (jenis atau golongan) kehidupan. Karena gejala atau penampakan kehidupan itu ada dalam individu, maka bisa disimpulkan bahwa kehidupan itu berakhir pada organisme yang hidup. Dengan demikian, kehidupan pun bersifat terbatas dan menjadi makhluk.
Berdasarkan hal ini, alam semesta, manusia, dan kehidupan yang bisa diindra ini merupakan makhluk karena bersifat terbatas. Dengan demikian, meniscayakan keberadaan khalik yang telah menciptakan manusia, kehidupan, dan alam semesta yang sama sekali berbeda dengan ciptaannya dan tidak memiliki sifat terbatas dan membutuhkan.
Inilah pemikiran cemerlang yang mengantarkan kita pada kesimpulan adanya pencipta yang telah menciptakan manusia, alam semesta, dan kehidupan. Ini pulalah solusi pengurai simpul besar (al-uqdat al-kubra) yang sahih yang bisa menyampaikan kita pada kebangkitan yang sahih pula karena solusi ini ditegakkan pada asas yang sahih dan memuaskan akal karena dibangun di atas pemikiran dan selaras dengan fitrah karena mengakui naluri beragama ketika menetapkan keberadaan pencipta yakni Allah Swt..
Berdasarkan tata cara ini, berbagai solusi yang disodorkan untuk menguraikan simpul besar bisa diteliti, dan kebenaran atau kerusakan asas landasan berbagai solusi tersebut bisa ditemukan dan dipahami sehingga bisa dipastikan kemungkinan berhasil atau tidaknya meraih sebuah kebangkitan. Apa yang sesuai dengan solusi yang dibangun di atas pemikiran cemerlang ini merupakan solusi yang sahih yang memiliki landasan pemikiran atau akidah akliah yang benar, sedangkan yang menyalahinya merupakan solusi yang gagal tidak bernilai.
Dengan demikian, berakhirlah bahasan pasal ini, dan kami akan memaparkan, insyaallah, dalam pasal dan bab mendatang, beberapa solusi yang disodorkan untuk menguraikan simpul besar sehingga kita bisa memilih satu solusi yang benar yang akan mengantarkan kita pada kebangkitan yang didambakan. Insyaallah. [MNews/Rgl]
Sumber: Syekh Ahmad Athiyat, Ath-Thariq (Jalan Baru Islam)

Islam agama yang sesuai dengan fitrah manusia. Jalan keselamatan dunia dan akherat.