[Nafsiyah] Takut Menghadapi Kematian (Bagian 1/2)

[Nafsiyah] Takut Menghadapi Kematian (Bagian 1/2)

Penulis: Ibnu al-Jauzi

Muslimah News, NAFSIYAH — Sesungguhnya ketakutan dan kewaspadaan hanya berhubungan dengan masa depan. Orang yang bijaksana adalah orang yang mempersiapkan dirinya untuk menghadapi sesuatu yang ditakutkan sebelum tiba saatnya dan menyingkirkan rasa takut yang berlebihan karena takut terhadap sesuatu yang sudah pasti terjadi tidak akan bermanfaat bagi diri.

Banyak orang Saleh yang sangat takut terhadap Allah Swt. sehingga mereka memohon kepada Allah agar mengurangi rasa takut yang bagaikan cambuk. Apabila seekor unta didesak dan dipaksa dengan cambuk, pasti akan resah dan gelisah. Padahal, cambuk hanya digunakan untuk menggiring unta yang tidak bersemangat.

Sufyan ats-tsauri pernah bertanya kepada seorang pemuda yang duduk bersamanya, “Apakah kamu ingin benar-benar takut terhadap Allah?” Pemuda itu menjawab, “Ya.” Lalu Sufyan ats-tsauri berkata, “Kamu bodoh. Jika kamu takut terhadap Allah, niscaya kamu tidak akan dapat menunaikan berbagai kewajiban.”

Mewaspadai Perasaan Takut yang Berlebihan

Tidak sepatutnya orang yang berakal merasa amat takut akan datangnya sesuatu yang pasti. Perasaan takut hanya akan menambah penderitaan.

Begitu pun dengan mengingat dan takut akan kematian yang tidak bisa ditolak. Yakinlah, kematian adalah sesuatu yang pasti. Setiap kali membayangkan kematian, pada dasarnya itu menjadi satu kematian sendiri. Oleh karena itu, hendaklah manusia membelokkan pikirannya dari bayangan kematian agar ia mati hanya satu kali.

Hendaklah manusia meyakini bahwa Allah Mahakuasa untuk mempermudah kematian seorang hamba. Sesungguhnya pascakematian lebih menakutkan daripada kematian itu sendiri. Kematian hanyalah merupakan jembatan menuju tempat pemukiman yang abadi.

Mengingat kematian dimaksudkan semata-mata agar ia mau beramal demi kehidupan akhirat. Apabila dalam hati tebersit perasaan sedih karena akan berpisah dengan dunia, maka obatnya adalah keyakinan bahwa dunia bukanlah tempat kesenangan dan kenikmatannya hanyalah berupa selingan di antara rentetan kesusahan yang menyakitkan. Kesedihan manusia berakal atas perpisahannya dengan dunia hanya lantaran putusnya amal kebaikan. Ulama salaf telah bersedih karena alasan ini.

Mu’adz bin Jabal ketika menjelang ajal berkata, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa aku mencintai dunia serta panjang umur bukan karena ingin menggali sungai-sungai dan bukan pula ingin menanam pepohonan, tetapi untuk dahaga di tengah hari, menahan derita beberapa saat, dan berdesak-desakan dengan para ulama dalam lingkaran-lingkaran zikir.”

Barang siapa yang kepadanya akan datang kematian, hendaklah ia yakin bahwa kematian adalah saat yang tidak bisa lepas dari penderitaan, di samping itu, juga tidak lepas dari teror sakaratulmaut, serta rasa cemas terhadap tempat kembali yang abadi. Setan akan datang lalu menghasut hamba Allah agar benci kepada-Nya. Ia akan berkata, “Lihatlah! Ke mana Tuhan akan melemparmu? Apa yang telah diputuskan bagimu? Bagaimana Dia menyakitimu? Dan ingat! Kamu akan berpisah dengan anak dan istrimu, lalu dilempar di antara lapisan-lapisan tanah.”

Seringkali setan menghasut seorang hamba agar benci kepada Tuhannya, lalu mendorong hambanya agar mau mengucapkan sebuah kalimat kekufuran. Pada saat itulah diperlukan upaya untuk mengatasi diri dari setan. [MNews/Nsy]

Sumber: Ibnu al-Jauzi, Mengobati Jiwa yang Lelah

Share

One thought on “[Nafsiyah] Takut Menghadapi Kematian (Bagian 1/2)”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *