[Kabar] Pengamat: Generasi yang Tidak Memiliki Landasan Hidup Akan Menjadi Generasi Rapuh

[Kabar] Pengamat: Generasi yang Tidak Memiliki Landasan Hidup Akan Menjadi Generasi Rapuh

Muslimah News, NASIONAL— Survei terbaru menyebutkan, Gen Z dua kali lebih mungkin bersikap spontan izin agar bisa pergi ke konser saat bekerja dibandingkan dengan generasi milenial.

Survei dilakukan perusahaan penjualan tiket multinasional Viagogo terhadap 2.000 orang pada Juli 2023, bekerja sama dengan firma riset pasar dan analisis data internasional Yougov.

Hasilnya, 19% Gen Z mengatakan, tidak boleh melewatkan konser adalah alasan utama mereka bolos bekerja di menit-menit terakhir dibandingkan dengan generasi milenial yang hanya 8%.

Label milenial biasanya berlaku bagi generasi yang lahir antara 1981 sampai 1996, sedangkan Gen Z lahir antara 1997 sampai 2012.

Rapuh

Kecenderungan Gen Z pada konser atau hura-hura dinilai pengamat sosial Iwan Januar karena tidak memiliki landasan hidup yang benar.

“Kalau kita telisik, setiap generasi yang tidak punya tujuan hidup, tidak punya landasan hidup yang benar itu akan menjadi generasi yang rapuh dan ringkih,” ujarnya di Kabar Petang: “Gen Z Generasi Stroberi Malas & Manja?” melalui kanal Khilafah News, Rabu (20-9-2023).

Menurut Iwan, bukan hanya Gen Z, tetapi setiap generasi pasti rapuh saat tidak memiliki landasan hidup. Ia mencontohkan generasi baby boomer (yang lahir antara 1946 hingga 1964), anak-anak mudanya banyak yang menjadi pengguna narkoba, senang dengan konser musik, dan lain-lain.

“Sedangkan Gen Z ini memang generasi yang boleh dikatakan penduduk asli dari dunia internet karena mereka sudah demikian akrab dengan teknologi informasi, dengan gadget, dengan device sehingga mereka memiliki beberapa karakter,” bebernya.

Di antara karakter Gen Z, sambungnya, adalah ekspresif, mudah terkoneksi satu dengan lainnya, lebih cepat mengakses informasi, termasuk informasi dunia hiburan.

“Dunia maya yang paling dominan adalah dunia hiburan. Orang mempromosikan film, lagu, konser, sangat cepat tersebar di dunia maya. Yang paling cepat tanggap terhadap hal ini, ya Gen Z,” terangnya.

Demikian pun, ucapnya, sebutan generasi stroberi yang memiliki mental mudah stres, sesungguhnya juga menimpa semua generasi.

“Namun, karena sekarang ini Gen Z berhadapan dengan cepatnya putaran informasi, terutama di bidang hiburan yang akan menciptakan makna kebahagiaan buat mereka, maka akhirnya tekanan itu lebih cepat dan lebih gampang terjadi pada mereka,” tambahnya.

Dalam penilaian Iwan, generasi sebelumnya juga ada karakter mudah depresi. “Pelarian kepada narkoba, termasuk minuman keras, sampai tingkat bunuh diri itu di tiap generasi selalu ada. Jadi, tidak identik dengan Gen Z saja,” ungkapnya.

Celakanya, tukas Iwan, Gen Z ini di rumah sering tidak mendapatkan basis agama yang kuat, lingkungan pergaulannya juga tidak men-support agama, malah ketemu dengan orang-orang liberal, sekuler, yang makin membuat mereka jauh dari agama.

“Ini membuat mereka punya pandangan hedonis, apa-apa diukur dengan kesenangan yang bersifat fisik, bersifat ragawi, dari mulai penampilan, makanan, minuman, sepatu, tas, gadget, dan seterusnya,” ungkapnya.

Solusi

Agar generasi muda memiliki mental kuat, ujarnya, yang mesti dilakukan adalah penguatan akidah. “Kaum muslimin terutama keluarga muslim hendaknya menguatkan kembali anak-anak mereka dari sisi agama. Memahami tentang tujuan hidup ini, mengetahui nilai-nilai hidup yang harus dipegang, apa makna kebahagiaan, dan ke mana kita akan kembali,” bebernya.

Oleh karena itu, terangnya, dakwah di tengah keluarga dan di tengah lingkungan sosial menjadi sangat penting. “Dengan dakwah itu, anak-anak muda akan mempunyai visi misi hidup benar, bukan sekadar mencari kepuasan sesaat dan hedonis,” tukasnya.

Dakwah, tegasnya, berperan penting untuk mengubah nilai-nilai sosial saat ini yang liberal, hedonis menuju nilai-nilai yang islami.

“Sesungguhnya, kita sedang berhadapan dengan benturan antara sekularisme liberalisme dengan Islam. Sayangnya, hari ini Islam belum menjadi sebuah kekuatan yang besar sehingga sulit untuk bisa bersaing dan bisa mengalahkan serangan budaya yang datang dari orang-orang yang punya entitas negara, punya entitas lembaga, seperti Amerika, Jepang, Korea Selatan,” sesalnya.

Terlebih, ia melanjutkan, negara-negara itu didukung PBB yang meng-endorse dan memasukkan konten-konten sekuler, liberal, yang dilakukan secara masif melalui media sosial.

“Jika keluarga muslim tidak cepat tanggap menghadapi hal ini, maka bisa kita bayangkan Gen Z ini akan mengalami kerusakan mental yang akut,” khawatirnya.

Visi Rabbani

Iwan lalu menyampaikan beberapa poin agar lahir generasi yang bervisi rabbani.

“Pertama, orang tua harus paham bahwa anak-anak harus dibentuk karakternya menjadi anak yang berkepribadian Islam. Untuk itu, orang tua wajib memiliki kekuatan akidah Islam, memiliki visi misi berkeluarga, dan memiliki tujuan dalam mendidik anak sesuai Islam,” terangnya.

Kedua, sebutnya, harus ada upaya secara masif dari kaum muslim untuk melakukan dakwah di tengah kehidupan sekarang dan di lingkungan sosial.

“Dakwah yang disampaikan bukan semata-mata ibadah dan akhlak, tapi harus menggambarkan Islam sebagai sebuah sistem yang sempurna yang mengatur kehidupan sosial, kehidupan ekonomi, kehidupan berpolitik, kehidupan bernegara, termasuk pergaulan pria dengan wanita. Itu harus disampaikan!” tegasnya.

Ia beralasan, kalau dakwah hanya semata-mata ibadah dan akhlak akan membuat Gen Z tidak tertarik karena sudah melihat kehidupan lain, hiburan, tontonan yang menawarkan kebahagian versi sekuler sehingga sulit untuk menarik generasi muda ke dalam Islam.

“Ketiga, umat juga membutuhkan negara yang akan menerapkan Islam dan memberikan perlindungan kepada keluarga dan anak-anak muda agar tidak masuk berbagai macam nilai-nilai hedonis yang datang dari peradaban sekuler dan liberal sebagaimana sekarang ini yang begitu masif masuk ke kehidupan dunia anak-anak muda kita, khususnya Gen Z,” pungkasnya. [MNews/IA]

Share

One thought on “[Kabar] Pengamat: Generasi yang Tidak Memiliki Landasan Hidup Akan Menjadi Generasi Rapuh”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *