[Tarikh Khulafa] Al-Musta’shim Billah, Khalifah Terakhir Bani Abbasiyah

[Tarikh Khulafa] Al-Musta’shim Billah, Khalifah Terakhir Bani Abbasiyah

Penulis: Nabila Ummu Anas

Muslimah News, TARIKH KHULAFA — Al-Musta’shim Billah memiliki nama lengkap Abu Ahmad Abdullah al-Musta’shim Billah bin Al-Mustanshir bin Azh-Zhahir bin An-Nashir bin Al-Mustadhi’ bin Al-Mustanjid bin Al-Muqtafi bin Al-Mustazhhir bin Al-Muqtadi bin Muhammad adz-Dzakhirah bin Al-Qa’im bin Al-Qadir bin Ishaq bin Al-Muqtadir bin Al-Mu’tadhid bin Thalhah bin Al-Mutawakil bin Al-Mu’tashim bin Ar-Rashid bin Al-Muhtadi bin Al-Manshur. Dilihat dari silsilahnya, ada 17 leluhur Al-Musta’shim Billah yang menjadi khalifah.

Ia sendiri secara resmi diangkat sebagai khalifah pada 10 Jumadilakhir 640 H menggantikan ayahnya yang meninggal dunia. Ia menjadi khalifah hingga dieksekusi mati oleh Hulagu Khan pada 20 Muharam 656 H. Dengan terbunuhnya Khalifah Al-Musta’shim Billah, maka berakhir pula Kekhalifahan Bani Abbasiyah.

Kelemahan Kepemimpinan Al-Musta’shim

Menurut Ibnu Thabathaba, Khalifah Al-Musta’shim adalah sosok yang baik, agamis, lemah lembut, santun, murah hati, sangat menjaga lisan dan kemaluannya, dan hafal Al-Qur’an.

Pada masanya, wilayah kedaulatan Islam sedang terancam penyerbuan bangsa Mongol, bahkan beberapa wilayah kedaulatan Islam telah jatuh ke tangan bangsa Mongol. Dalam keadaan seperti itu, Khalifah Al-Musta’shim terlalu lemah. Ia banyak tergantung kepada wazirnya, yang bernama Muayidin al-Alqami ar-Rafidhi. Ternyata Ibnu Alqami yang beraliran Syi’ah ini berambisi merebut Kekhalifahan Abbasiyah dan menyerahkannya kepada kaum Syi’ah.

Ketika bangsa Mongol merebut wilayah-wilayah Islam, Al-Alqami aktif berkorespodensi dengan bangsa Mongol dan mendukung mereka agar menyerang Baghdad. Ibnu Alqami juga melakukan demobilisasi terhadap pasukan yang telah disiapkan mendiang Khalifah Al-Mustanshir untuk menghadapi pasukan Mongol.

Jumlah pasukan yang mencapai 100 ribu orang, oleh Ibnu Alqami dikurangi dengan cara mencoret nama-nama pasukan dari daftar negara dan menghapus gajinya. Ia meyakinkan kepada Khalifah Al-Musta’shim bahwa pasukan Mongol tidak akan menyerang Baghdad. Selain itu, Ibnu Alqami juga berusaha memperkecil jumlah pasukan Al-Musta’shim hingga tinggal 10 ribu personel.

Penyebab Kemunduran

Permasalahan yang dialami oleh Kekhalifahan Bani Abbasiyah adalah ketergantungannya terhadap kekuatan asing dalam membangun pemerintahan mereka. Kemudian, dalam masalah administrasi negara, mereka bergantung pada orang-orang Khurasan sebagai tumpuan utamanya dan kemudian bangsa Turki.

Al-Musta’shim Billah merupakan khalifah Bani Abbasiyah pertama yang meminta bantuan kepada bangsa Turki dan melimpahkan tugas-tugas serta jabatan penting kenegaraan kepada mereka.

Sikap dan kebijakan Khalifah Al-Musta’shim Billah mengubah corak pemerintahan yang sebelunnya memiliki nuansa Arab berubah menjadi nuansa Turki. Kondisi tersebut melemahkan kekuasaan khalifah yang mengantarkannya pada jurang kejatuhan dan keruntuhannya.

Khalifah Al-Musta’shim Billah sebenarnya telah menyadari adanya ancaman bahaya dari bangsa Turki yang menjadi beban bagi penduduk Baghdad.

Di antara faktor-faktor yang menyebabkan kelemahan Kekhalifahan Bani Abbasiyah sehingga mencapai keruntuhannya adalah melemahnya kewibawaaan seorang khalifah dalam memerintah sehingga mudah dipengaruhi para pegawainya, bahkan malah pegawainya yang berkuasa, sedangkan khalifah hanya berkuasa secara formalitas. Juga persaingan antarbangsa yang saling berebut pengaruh dalam kekhalifahan, seperti bangsa Persia dan Turki.

Di samping itu, merosotnya perekonomian disebabkan menurunnya pendapatan negara, sedangkan pengeluaran meningkat. Penurunan ini disebabkan oleh menyempitnya wilayah kekuasaan, banyaknya terjadi kerusuhan yang mengganggu perekonomian rakyat. diringankan pajak, juga banyaknya dinasti-dinasti kecil yang memerdekakan diri dan tidak lagi membayar upeti. Sedangkan pengeluaran membengkak, antara lain disebabkan oleh kehidupan para khalifah dan pejabat yang makin mewah.

Begitu pula dengan bermunculannya aliran-aliran keagamaan yang menimbulkan konflik, seperti kaum Syi’ah, Mu’tazilah, Zindiq dan lain-lain. Terakhir adanya faktor eksternal, yaitu serangan bangsa Mongol.

Serangan Bangsa mongol

Ketika tentara Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan tiba di luar Kota Baghdad, Hulagu mengirim utusan kepada Khalifah agar menyerah, tetapi Khalifah menolak dan memberi peringatan kepada Hulagu bahwa mereka akan menghadapi murka Allah jika mereka tetap menyerang kekhalifahan yang dipimpinnya.

Hulagu Khan segera membagi pasukannya menjadi dua bagian besar untuk menyerbu Baghdad, yaitu dari barat dan timur Sungai Tigris. Awalnya pasukan muslim berhasil memukul mundur serbuan dari barat, tetapi mereka berhasil dikalahkan di pertempuran berikutnya. Serangan bangsa Mongol akhirnya berhasil menyusup ke garis belakang pasukan muslim dan tanpa ampun membantainya dan sebagian gugur tenggelam.

Kota Baghdad mulai dikepung dan pasukan Mongol berhasil menguasai benteng di sekitar Baghdad. Khalifah kemudian berusaha bernegosiasi dengan Hulagu Khan, tetapi ditolaknya.

Khalifah Al-Mus’tashim ditangkap dan ketika perjalanan baru menempuh satu marhalah, Hulagu Khan mengeksekusi mati Khalifah Al-Musta’shim Billah berserta anak-anaknya.

Sebenarnya serangan Hulaghu Khan ini hanyalah sebagai pukulan terakhir saja dalam keruntuhan Kekhalifahan Bani Abbasiyah yang sebenarnya telah lemah. [MNews/Rgl]

Sumber: Syekh Muhammad al-Khudari, Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Bani Abbasiyah, Puncak Keemasan dan Kejayaan Kekhilafahan Islam, Pustaka Al-Kautsar

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *