Penulis: Nabila Ummu Anas
Muslimah News, TARIKH KHULAFA — Al-Mustanshir Billah diangkat menjadi khalifah pada hari meninggalnya sang ayah, yaitu pada 14 Rajab 613 H. Ia menjadi khalifah sampai meninggal dunia pada 20 Jumadilakhir 640 H. Berarti masa kepemimpinannya sekitar 17 tahun.
Ia mewariskan banyak peninggalan dan prestasi besar di Baghdad. Di antaranya adalah Madrasah Al-Mustanshiriyah di tepi Sungai Tigris bagian timur, bersebelahan dengan istana kekhalifahan.
Khalifah yang Cerdas dan Dermawan
Khalifah Al-Mustanshir Billah adalah sosok yang cerdas dan sangat dermawan. Selain membangun Madrasah Al-Mustanshiriyah, ia juga membangun banyak jembatan, kedai, rumah singgah, gedung-gedung tempat jamuan bagi orang-orang fakir, kaum sufi, dan para musafir.
Ia pernah berkata, “Aku sangat khawatir Allah tidak memberiku pahala atas apa yang aku hibahkan dan berikan karena Allah berfirman dalam surah Ali Imran, ‘Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.’ Demi Allah, sungguh tidak ada perbedaan bagiku antara tanah dan emas.”
Untuk pembangunan Madrasah Al-Mustanshiriyah, khalifah mengeluarkan biaya sekitar 700 ribu dinar. Madrasah ini dibangun dengan fasilitas sangat lengkap pada masa itu.
Madrasah Al-Mustanshiriyah mencakup berbagai bangunan, seperti kamar mandi umum, rumah sakit umum, apotek, tempat penyimpanan makanan, dan dapur. Ada juga ruang yang diperuntukkan bagi asrama siswa. Madrasah menyediakan makanan, penginapan, sandang, dan gaji bulanan bagi siswanya.
Madrasah Pertama yang Mengajarkan Berbagai Cabang Ilmu Agama dan Umum
Madrasah Al-Mustanshiriyah dibangun dengan mengajarkan berbagai cabang ilmu dalam satu tempat. Hal ini memberikan peran penting bagi peradaban Islam, yaitu sebagai madrasah pertama di pusat kekhalifahan, yang mengajarkan ilmu Al-Qur’an, hadis, bahasa Arab, serta berbagai ilmu agama lainnya. Juga mengajarkan tentang ilmu kedokteran, matematika, fisika, seni, dsb..
Pada awalnya, madrasah-madrasah di Kota Baghdad mengajarkan ilmu tertentu secara khusus. Namun, Khalifah Al-Mustanshir Billah menyatukan empat studi penting pada masa itu ke dalam satu madrasah yang sekarang mestinya masuk kelas perguruan tinggi.
Pamor dan popularitas madrasah ini mampu menarik perhatian para pelajar dari seluruh dunia untuk menimba ilmu di kota Baghdad. Para pelajar berbondong-bondong datang ke Mustanshiriyah untuk mempelajari beragam ilmu unggulan yang ditawarkan di sana.
Madrasah Al-Mustanshiriyah adalah sekolah Islam pertama yang mempelajari hukum fikih berdasarkan empat mazhab, yaitu Hanafi , Syafi’i, Maliki, dan Hanbali.
Pengelolaan madrasah dilaksanakan oleh seorang kepala sekolah yang dipilih oleh para pegawai senior negara. Kepala Sekolah dibantu oleh sejumlah asisten yang dipimpin oleh seorang supervisor yang bersifat seperti pemeriksa keuangan. Sejumlah karyawan juga dipekerjakan untuk melayani para guru dan siswa.
Khalifah yang Peduli akan Kemajuan Islam dan Kaum Muslim
Kehadiran Madrasah Al-Mustanshiriyah yang spektakuler di zaman itu, tidak terlepas dari sosok khalifahnya yang memang amanah dan punya kepedulian besar terhadap kecerdasan umat dan kemajuan Islam. Menuntut ilmu di dalam Islam adalah sebuah kewajiban, terutama ilmu agama dan yang dibutuhkan manusia untuk kemaslahatan hidupnya di dunia dan keselamatannya di akhirat. Sebagai khalifah, Al-Mustanshir Billah berusaha merealisasikan ini pada masa kekhalifahannya.
Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa yang pergi untuk menuntut ilmu, maka dia telah termasuk golongan sabilillah (orang yang menegakkan agama Allah) hingga ia pulang kembali.”(HR Tirmidzi).
Khalifah Al-Mustanshir Billah mengikuti jejak sang ayah dalam meniti jalan kebaikan dan banyak berbuat kebajikan kepada umat. Ia juga menyerukan penegakan keadilan di Baghdad secara total dan menyeluruh. Perhatiannya sangat besar kepada para penuntut ilmu. Ia akan bersegera memenuhi kebutuhan para ulama dan pelajar, pada saat mereka membutuhkan.
“Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu, ‘Berlapang-lapanglah dalam majelis’, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, ‘Berdirilah kamu’, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (TQS Al-Mujadalah: 11). [MNews/Rgl]
Sumber: Syekh Muhammad Al-Khudari, Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Bani Abbasiyah, Puncak Keemasan dan Kejayaan Kekhilafahan Islam, Pustaka Al-Kautsar
