Penulis: Nabila Ummu Anas
Muslimah News, TARIKH KHULAFA — Berbagai kemajuan pada masa Kekhalifahan Bani Abbasiyah telah membawa umat Islam memasuki era baru yang disebut the golden age atau era keemasan. Peradaban Islam berkembang sangat pesat. Pengaruhnya tidak hanya dirasakan oleh masyarakat Daulah Islam, tetapi hingga seluruh penjuru dunia. Kekhalifahan Islam menjadi pusat perkembangan ilmu pengetahuan hingga menjadi mercusuar kemajuan peradaban manusia.
Banyak orang yang berkunjung ke pusat kekhalifahan Islam untuk menimba ilmu dari para ulama dan ilmuwan yang berkualitas dan jumlahnya sangat banyak. Mereka kemudian menjadi tokoh-tokoh muslim yang terkenal. Buah pemikiran mereka memberi manfaat bagi manusia kala itu maupun masa sekarang. Setiap disiplin ilmu bahkan melahirkan tokohnya masing-masing. Pemikiran para ulama dan ilmuwan tersebut menjadi rujukan hingga saat ini.
Tokoh Ulama
Di antara ulama pada masa keemasan Islam era Kekhalifahan Bani Abbasiyah adalah empat imam mazhab, yaitu Imam Abu Hanifah, meninggal di Baghdad pada 150 H; Imam Maliki, meninggal di Madinah pada 179 H; Imam asy-Syafii, meninggal di Mesir pada 204 H; dan Imam Ahmad bin Hanbal, meninggal pada 241 H.
Dalam ilmu tafsir, ada Ibnu Jarir at-Thabari, Ibnu Athiyah al-Andalusi, dan As-Suda yang mendasarkan penafsirannya pada Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, dan sahabat lainnya. Dari muktazilah ada Abu bakar Asma dan Abu Muslim Muhammad bin Nashr al-Isfahani.
Ulama hadis terkenal pun lahir pada masa kekhalifahan Bani Abbasiyah. Mereka adalah Imam Bukhari, Imam Muslim, Ibnu Majah, Abu Dawud, Imam An-Nasa’i, dan Imam Al-Baihaqi. Dalam ilmu bahasa Arab ada Imam Sibawaih, Al-Kasa’i, dan Abu Zakaria al-Farra’.
Kebangkitan Intelektual
Selain melahirkan ulama-alama terkenal, Kekhalifahan Bani Abbasiyah juga mengalami kebangkitan intelektual. Berbagai cabang ilmu berkembang pesat dan memberikan kemaslahatan bagi umat manusia. Ilmu kedokteran juga mengalami kemajuan. Ada Abu Zakaria Yahya bin Mesuwaih, seorang ahli farmasi di Rumah Sakit Jundishapur, Iran. Ada juga Abu Bakar ar-Razi (Rhazez) yang dikenal sebagai ‘Ghalien Arab’. Di bidang Matematika, ada Al-Khawarizmi pengarang kitab Al-Jabar wal Muqabalah dan Abu al-Wafa Muhammad bin Muhammad bin Ismail bin al-Abbas. Di bidang Farmasi ada Ibnu Baithar dengan karya terkenalnya Al-Mughni (tentang obat-obatan) dan Jami al-Mufradat al-Adawiyah (tentang obat-obatan dan makanan bergizi).
Dalam ilmu Astronomi, ada Abu Manshur al-Falaki, Jabir al-Batani pembuat teropong bintang pertama, Raihan al-Bairuni dengan karyanya At-Tafhim li Awal as-Sina at-Tanjim. Di bidang Geografi ada Abul Hasan al-Mas’udi, Ibnu Khurdazabah, Ahmad al-Ya’qubi, dan Abu Muhammad al-Hasan al-Hamdani. Para ahli geografi ini rata-rata telah melakukan perjalanan yang panjang menjelajahi Persia , India, Mesir, Maghribi, bahkan Cina.
Di bidang sejarah ada Ahmad bin Ya’kubi. Di bidang sastra ada Abu Nuwas dan An-Nasyasi penulis buku Alfu Lailah wa Lailah ( buku cerita 1001 malam ) yang diterjemahkan ke hampir seluruh bahasa dunia.
Kebangkitan ulama dan intelektual ini tidak terlepas dari peran khalifah ketika itu. Penguasa memberikan perhatian yang besar dalam kemajuan ilmu dan peradaban Islam. Khalifah membangun Kota Baghdad sebagai pusat ilmu, ia menarik banyak ulama dan cendekiawan dari berbagai wilayah. Bahkan, khalifah juga mengundang mereka semua untuk datang dan tinggal di Kota Baghdad sembari menimba ilmu dan mengembangkannya untuk kemaslahatan umat manusia. [MNews/Rgl]
Sumber:
Selayang Pandang Dinasti Abbasiyah, Kelahiran, Kejayaan, Kemunduran, dan Peninggalannya, Rizem Aizid, Diva Press
