Rusia, Antara Penahanan Politik dan Emansipasi yang Membahayakan Dunia (Bagian Keempat)

Rusia, Antara Penahanan Politik dan Emansipasi yang Membahayakan Dunia (Bagian Keempat)

Penulis: Prof. Hamad Tabib

Sambungan dari Bagian Ketiga

Muslimah News, ANALISIS INTERNASIONAL — Puncak konflik antara Rusia, Cina, dan Barat (yang dipimpin Amerika) berada pada dua tahun terakhir, yakni 2022—2023. Konflik ini makin berbahaya hingga mencapai titik pengancaman dengan senjata nuklir atau yang sejenisnya, aksi sabotase pipa gas bernilai miliaran dolar, juga aksi saling serang ke daerah Moskow dan Kiev (kawasan dua kubu yang saling berseteru).

Kemungkinan makin berkembangnya konflik disebabkan oleh intervensi negara-negara lain yang bergabung dalam NATO, maupun intervensi dari pihak sekutu Rusia. Konflik ini dapat memicu berbagai konflik lainnya dengan negara dengan Rusia. Amerika juga sengaja menyulut konflik untuk mengalihkan perhatian Rusia dan memperluas area tekanan agar Rusia menyerah.

Area konflik ini kemudian makin meluas dikarenakan intervensi Cina dalam garis ancaman dan ancaman berbalik; mobilisasi kekuatan militer di wilayah Laut Cina Selatan, timur, dan di sekitar Laut Taiwan; juga karena masuknya aliansi-aliansi baru yang dibentuk oleh Amerika yang mencakup beberapa negara, seperti AUKUS dan QUAD. Cina dan Rusia juga membuat pelatihan militer bersama di Laut Cina.

Hari demi hari, langkah dan tindakan yang diambil dari konflik yang berkecamuk ini, makin berkembang. Di antaranya adalah hasutan dan provokasi—secara tidak langsung—Amerika kepada Taiwan untuk memerdekakan diri dari Cina. Hal ini akan didukung dengan pasokan peralatan militer dan ketersediaan ekonomi, pengiriman kapal induk raksasa ke sekitarnya, serta pelaksanaan latihan militer bersama. Alhasil, konflik ini memberikan dampak bagi seluruh dunia.

Lantas, apa saja risiko yang mengancam dunia secara umum; serta mengancam Amerika, Eropa, Rusia, Cina, juga sekutu mereka secara khusus?

Faktanya, api konflik makin menyala-nyala. Salah satunya adalah perang antara Rusia dan Barat yang “membakar” banyak wilayah di dunia sehingga “kobaran api” menyebar ke mana-mana. Sebelum kita meninjau beberapa bahaya dari konflik ini, mari kita berhenti sejenak pada beberapa pendahuluan yang penting terkait topik ini.

—
Di antaranya pertama, adanya peringatan dari beberapa politisi dan intelektual besar tentang dampak dari konflik yang berkobar ini, terutama masalah ketakseimbangan neraca internasional dalam aspek politik dan militer.

Salah satu peringatan tersebut adalah pernyataan Henry Kissinger, seorang ahli politik Amerika, pengamat kebijakan publik Amerika, Penasihat Keamanan Nasional Amerika, dan Menteri Luar Negeri AS selama bertahun-tahun. Ia memperingatkan perihal konflik beserta konsekuensinya pada neraca internasional.

Kissinger tetap mempertahankan pendapatnya terkait Rusia dan Cina. Ia menyatakan dukungan atas perlunya menjaga kerja sama dan dialog dengan keduanya (Rusia dan Cina). Ia pun menyatakan penolakannya terhadap kebijakan pengepungan dan pengasingan Rusia dan Cina.

Selama Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss pada Senin (16-1-2023), Kissinger menyerukan—dalam konteks pembicaraannya tentang Rusia—untuk memberikan Moskow kesempatan agar suatu hari dapat bergabung dengan sistem internasional dan melanjutkan dialog dengannya. Kissinger berkata, “Eskalasi konflik antara Rusia dan Barat harus dihindari.” Pernyataan tersebut merupakan hasil pengamatannya bahwa perang akan melawan Rusia itu sendiri.

Kissinger juga memperingatkan bahwa menghancurkan Rusia sebagai sebuah negara akan membuka front yang lebih luas untuk konflik internal dan intervensi eksternal, pada saat 15.000 senjata nuklir atau lebih berada di wilayahnya. Menurutnya, situasi politik global saat ini membutuhkan “fleksibilitas Nixon” untuk membantu meredakan ketegangan antara Amerika dan Cina; juga antara Rusia dan seluruh negara Eropa.

Kissinger meminta Presiden AS Joe Biden agar tidak membiarkan kebijakan dalam negeri memengaruhi kebijakan luar negeri terhadap Cina. Ia juga menjelaskan bahwa yang terpenting adalah mencegah dominasi Cina atau negara mana pun. Ini bukanlah sesuatu yang dapat dicapai melalui konfrontasi tanpa akhir. Ia juga memperingatkan bahwa peningkatan ketegangan ini dikhawatirkan akan membawa bencana global yang serupa dengan Perang Dunia I.

—
Kedua, Rusia tidak seperti negara lain. Ia adalah semibenua besar yang luasnya seperti Amerika Utara. Rusia memiliki senjata canggih dalam jumlah besar, potensi energi, serta berbagai jenis pertanian dan sumber daya alam. Dengan demikian, tidak mudah untuk menghilangkan atau menghabisinya sebagai sebuah negara.

—
Ketiga, isu aliansi antara Cina dan Rusia adalah aliansi strategis. Dengan begitu, runtuhnya Rusia akan menjadi awal ditaklukannya Cina; juga awal peningkatan serangan yang makin menggila dari Amerika terhadap Rusia, khususnya di area sekitar atau perbatasan hingga area pemukiman warga. Oleh karena itu, Cina tidak akan membiarkan Rusia runtuh. Cina berusaha mendukungnya dengan segala cara yang ada, baik secara politik ataupun ekonomi.

—
Keempat, keteguhan Rusia dalam jangka waktu yang lama akan menimbulkan banyak konflik secara global. Dmitry Medvedev menyatakan bahwa konflik ini akan berlanjut selama beberapa dekade mendatang.

Saat kunjungan ke Vietnam, Deputi Kepala Dewan Keamanan Nasional Rusia, Dmitry Medvedev mengatakan kepada para wartawan, “Konflik Ukraina dapat berlanjut untuk waktu yang lama, bahkan mungkin puluhan tahun.”

Baru-baru ini, Medvedev kembali menimbulkan kontroversi dengan pernyataannya yang berapi-api. Ia mengisyaratkan tentang kemungkinan beralih ke penggunaan senjata nuklir. Menurut Medvedev, satu-satunya solusi alternatif adalah dengan menghancurkan kekuatan Nazi secara menyeluruh di Kiev.

—
Kelima, perpanjangan perang dapat menyebabkan krisis yang terus meningkat. Dengan ini, Amerika terdorong untuk bersegera mengakhiri perang sebab memperpanjang konflik justru akan menimbulkan krisis bagi Barat, khususnya aliansi-aliansi Eropa.

—
Keenam, perkembangan perang yang dilakukan oleh Amerika untuk mempersingkat durasinya akan menimbulkan krisis bagi negara-negara di dunia. Ini karena negara lain memiliki kemungkinan untuk masuk ke dalam ranah konflik dan menggunakan senjata konvensional.

—

Ketujuh, Amerika berdalih kepada negara-negara di Eropa bahwa sebab invasi Rusia ke Ukraina adalah karena Rusia ingin menghabisi Ukraina dan mendudukinya. Faktanya, itu dilakukan Amerika untuk menjamin keberlangsungan aliansi militer dan politik melawan Rusia.

Politikus Rusia berulang kali memperingatkan negara-negara Eropa terhadap masalah terseretnya Uni Eropa ke belakang Amerika. Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menyatakan bahwa Uni Eropa akan menjadi musuh bagi Rusia dan telah kehilangan Rusia. Bahkan jika perlu, Moskow akan memperlakukan Eropa dengan keras.

Dalam sebuah wawancara dengan Argumenty i Fatki yang diterbitkan oleh surat kabar Asharq Al-Awsat pada Kamis (4-5-2023), ia menyatakan, “Uni Eropa telah kehilangan Rusia, tetapi ini adalah kesalahannya. Negara-negara anggota dan pemimpin Uni Eropa adalah orang-orang yang secara terbuka menyatakan bahwa Rusia perlu dikalahkan secara strategis, sebagaimana mereka menyebutnya.” Ia menambahkan bahwa Rusia telah memutuskan cara menanggapi pasokan senjata dan pelatih Eropa untuk rezim kriminal di Kiev.

—
Kedelapan, Amerika melakukan segala cara untuk melawan Cina dalam bentuk tindakan, aliansi, serta dorongan pada Taiwan untuk memberontak dan melawan. Semua itu adalah strategi untuk menyudutkan Cina agar mundur dari sekitar Rusia dan menyeretnya ke dalam perang di wilayah Taiwan. Kemudian Amerika akan menghasut dunia untuk memusuhi Cina seperti yang terjadi pada Rusia.

—

Amerika telah menyampaikan banyak peringatan pada Cina, puncaknya adalah ancaman konfrontasi militer. Hal ini dilakukan jika keadaan berkembang dan Cina berhasil menduduki Taiwan serta menjaminnya dengan kekuatan militer.

Selasa (23-5-2022), Presiden Amerika Joe Biden juga telah memperingatkan Cina, “Amerika akan membalas secara militer jika Cina menyerang Taiwan dengan tuduhan bahwa Beijing bermain api pada hal ini.”

Konflik ini akan memberikan dampak yang membahayakan bagi dunia. Bahkan, ini adalah konflik yang paling berbahaya sejak Perang Dunia II. Konflik ini bukanlah konflik antara Ukraina dan Rusia, melainkan antara dua kubu besar, yaitu Amerika (bersama sekitar 50 negara yang bergabung dalam NATO) dan Rusia serta Cina (bersama negara tetangga dan sekutu mereka).

Suasana dunia saat ini serupa dengan suasana sebelum Perang Dunia I, sebagaimana dikatakan oleh Kissinger. (MNews/Gz)

Bersambung ke Bagian Lima

Sumber artikel: Media Muslim Timur Tengah, Edisi 28 Juli 2023.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *