Sambutlah dengan Hangat Mereka yang Datang Membawakan Perbekalan Akhirat Kita

Sambutlah dengan Hangat Mereka yang Datang Membawakan Perbekalan Akhirat Kita

Penulis: Ustaz Arief B. Iskandar

Muslimah News, NAFSIYAH — Pastinya kita pernah atau bahkan sering kedatangan orang-orang yang membutuhkan bantuan atau pertolongan. Mungkin saudara, sahabat, kawan, atau bahkan orang lain yang tidak kita kenal (seperti para peminta-minta).

Sekali dua kali mungkin akan kita layani dan penuhi permintaannya jika keadaan kita sedang lapang. Namun, acapkali kita menjadi bosan dan jengah jika keseringan didatangi oleh orang-orang yang meminta bantuan. Apalagi jika orang tersebut itu-itu saja. Ia lagi, ia lagi. Begitu barangkali yang tebersit dalam hati kita.

Siapa pun yang demikian keadaannya, alangkah lebih baik jika meneladan sikap Ali bin al-Husain rahimahullaah. Saat sering didatangi oleh peminta-minta atau siapa pun yang membutuhkan bantuannya, ia akan selalu menyambut hangat mereka dengan berkata,

مرحبًا بمن يحمل زادي إلى الآخرة

“Selamat datang, wahai orang yang membawakan perbekalan (pahala)ku untuk di akhirat nanti.” (Ibnu al-Jauzi, Shifah ash-Shafwah, 2/95).

Ya, Ali bin al-Husain selalu memandang mereka yang datang untuk meminta bantuannya sebagai orang-orang yang sedang membawakan pahala sebagai tambahan perbekalan dirinya di akhirat nanti. Sebabnya, saat mereka datang untuk meminta bantuan, ini adalah kesempatan untuk berbuat baik dan bersedekah kepada mereka. Bukankah ini pastinya bakal mendatangkan pahala yang banyak untuk perbekalan di akhirat kelak?

Oleh karena itu, bahkan jika ada orang yang mau datang kepada kita hanya saat ia membutuhkan bantuan, kita tidak perlu jengkel atau bersedih hati. Renungkanlah nasihat ulama berikut ini.

لا تقل فلانا لا يعرفني الا وقت الحاجة بل قل الحمدلله الذي أكرمني بقضاء حوائج الناس

Janganlah engkau berkata tentang si polan, “Ia tidak kenal aku, kecuali saat ada kebutuhan (kepadaku).” Akan tetapi, katakanlah, “Alhamdulillah, segala pujian milik Allah yang telah memuliakan aku dengan (memberi aku) kesempatan untuk memenuhi kebutuhan orang lain.”

Nasihat ini tentu relevan dengan sabda Rasulullah saw.,

أحب النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ, وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ، أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً، أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا، أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا، وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا

“Manusia yang paling Allah cintai adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia lain. Amalan yang paling Allah cintai adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahannya, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh, aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk memenuhi keperluannya lebih aku cintai daripada beritikaf di masjid ini (Masjid Nabawi) selama sebulan penuh.” (HR Ath-Thabrani).

Semoga kita bisa mengamalkan pesan Rasulullah saw. dalam hadis tersebut. Amin.

Wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb (Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nyalah aku kembali.) [MNews/YG]

Sumber: https://t.me/ariefbiskandar

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *